Kulit Ibu Kerap Gatal Saat Hamil, Ini Panduan Aman Mengatasinya

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 24 Maret 2026, 17:10 WIB

ringkasan

  • Kulit gatal saat hamil dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk peregangan kulit, perubahan hormonal, kulit kering, peningkatan aliran darah, serta kondisi khusus kehamilan seperti PUPPP dan Prurigo.
  • Gatal yang intens, terutama di telapak tangan dan kaki tanpa ruam, bisa menjadi tanda Kolestasis Intrahepatik Kehamilan (ICP), kondisi serius yang memerlukan perhatian medis segera karena berisiko bagi janin.
  • Untuk gatal ringan, penanganan di rumah meliputi menjaga kulit tetap dingin, melembapkan secara teratur, mengenakan pakaian longgar, menghindari menggaruk, mandi oatmeal, serta menggunakan produk perawatan kulit yang lembut.

Fimela.com, Jakarta - Kulit gatal selama masa kehamilan adalah keluhan umum yang dialami banyak wanita. Kondisi ini seringkali tidak berbahaya, namun dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas tidur. Penting bagi Sahabat Fimela untuk memahami penyebab di balik rasa gatal ini dan kapan harus mencari pertolongan medis.

Perubahan fisik dan hormonal yang terjadi selama kehamilan dapat memicu berbagai reaksi pada kulit. Mulai dari peregangan kulit hingga peningkatan sensitivitas, semua bisa berkontribusi pada sensasi gatal yang tidak nyaman. Memahami faktor-faktor ini akan membantu Sahabat Fimela menanganinya dengan lebih tenang.

Yuk kita bahas secara tuntas penyebab kulit gatal saat hamil, mengenali tanda-tanda bahaya, serta memberikan panduan praktis mengatasinya, agar kehamilan tetap nyaman dan sehat.

2 dari 4 halaman

Mengapa Kulit Terasa Gatal Selama Kehamilan?

Banyak faktor yang dapat menyebabkan kulit terasa gatal selama kehamilan. Salah satu penyebab utamanya adalah peregangan kulit yang terjadi seiring bertambahnya ukuran perut, payudara, dan paha. / Foto: Ashton Mullins/unsplash.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan kulit terasa gatal selama kehamilan. Salah satu penyebab utamanya adalah peregangan kulit yang terjadi seiring bertambahnya ukuran perut, payudara, dan paha. Peregangan ini dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan gatal, terutama pada kehamilan pertama atau kehamilan kembar. Gesekan dari pakaian atau kulit yang saling bergesekan juga bisa memperburuk iritasi dan bahkan menyebabkan ruam.

Perubahan hormonal, khususnya peningkatan kadar estrogen, juga berperan besar. Hormon ini memengaruhi suasana hati, sirkulasi, dan keseimbangan kelembapan kulit, sehingga membuat kulit lebih sensitif dan rentan gatal. Selain itu, kulit kering atau sensitif akibat perubahan endokrin juga sering terjadi, terutama di musim dingin atau pada wanita dengan kondisi kulit tertentu.

Peningkatan aliran darah dan sirkulasi selama kehamilan, terutama di dekat permukaan kulit, dapat menyebabkan sensasi panas dan gatal. Ruam panas juga bisa muncul karena perubahan hormonal dan peningkatan suhu tubuh yang menyumbat kelenjar keringat, menyebabkan benjolan kecil yang gatal.

Beberapa kondisi kulit yang sudah ada sebelumnya, seperti eksim atau psoriasis, dapat kambuh atau bahkan muncul pertama kali selama kehamilan. Ada juga kondisi kulit khusus kehamilan, seperti:

  • Pruritic Urticarial Papules and Plaques of Pregnancy (PUPPP): Ruam gatal yang biasanya muncul di trimester ketiga, seringkali dimulai sebagai benjolan merah kecil di sekitar stretch mark di perut, lalu menyebar ke paha, bokong, dan payudara. PUPPP sangat gatal namun tidak berbahaya bagi ibu atau bayi dan akan hilang setelah melahirkan.
  • Atopic Eruption of Pregnancy (AEP): Meliputi berbagai ruam gatal yang terjadi pada trimester pertama atau kedua. AEP dapat menyebabkan kulit kering, bercak bersisik, atau benjolan kecil di lengan, kaki, atau badan, dan tidak memengaruhi bayi.
  • Prurigo of Pregnancy: Benjolan gatal dan berkerak di lengan, kaki, atau perut yang bisa muncul kapan saja selama kehamilan. Kondisi ini tidak menimbulkan risiko bagi bayi.
  • Pemphigoid Gestationis: Kondisi langka yang dimulai sebagai ruam gatal intens dan berubah menjadi lepuh. Umumnya muncul di perut, namun bisa juga di lengan dan kaki. Kondisi ini biasanya tidak memengaruhi janin.
3 dari 4 halaman

Kapan Harus Waspada: Mengenali Gejala Kulit Gatal Berbahaya

Meskipun sebagian besar gatal selama kehamilan tidak berbahaya, gatal yang parah atau disertai gejala lain dapat menjadi tanda kondisi serius yang memerlukan perhatian medis segera. Salah satu kondisi paling serius adalah Kolestasis Intrahepatik Kehamilan (ICP) atau Kolestasis Obstetri, yang merupakan gangguan hati serius yang biasanya terjadi di trimester ketiga.

Gejala utama ICP adalah gatal yang sangat intens tanpa ruam, seringkali lebih parah di telapak tangan dan telapak kaki, serta memburuk di malam hari. Gatal ini bisa menyebar ke seluruh tubuh. Gejala lain yang kurang umum meliputi urine gelap, feses pucat atau berwarna abu-abu, mual, kehilangan nafsu makan, kelelahan ekstrem, nyeri di perut kanan atas, dan jarang, penyakit kuning (kulit dan mata menguning).

ICP dapat menimbulkan risiko serius bagi bayi, termasuk peningkatan risiko lahir mati (stillbirth), kelahiran prematur, kesulitan pernapasan pada bayi baru lahir, dan pewarnaan mekonium. Hal ini disebabkan oleh penumpukan asam empedu dalam darah ibu yang dapat memengaruhi bayi.

Jika didiagnosis dengan ICP, kehamilan akan dipantau ketat. Dokter mungkin meresepkan asam ursodeoksikolat (UDCA) untuk meningkatkan fungsi hati dan mengurangi penumpukan asam empedu. Persalinan dini sekitar 37 minggu mungkin direkomendasikan untuk mengurangi risiko komplikasi. Sahabat Fimela harus segera menghubungi penyedia layanan kesehatan jika mengalami gatal yang konstan atau ekstrem, terutama di tangan dan kaki, meskipun tidak ada ruam.

4 dari 4 halaman

Tips Efektif Perawatan Kulit di Rumah

Untuk gatal ringan hingga sedang yang tidak disebabkan oleh kondisi medis serius, ada beberapa langkah yang dapat Sahabat Fimela lakukan di rumah untuk meredakan gejalanya. Menjaga kulit tetap dingin adalah kunci. Mandi atau berendam dengan air dingin atau suam-suam kuku, hindari air panas karena dapat mengeringkan kulit dan memperburuk gatal. Gunakan kompres dingin atau handuk basah dingin pada area yang gatal selama 5-10 menit. Tetaplah berada di tempat yang sejuk dan gunakan kipas angin atau cooling spray.

Melembapkan kulit secara teratur sangat penting. Oleskan pelembap bebas pewangi setelah mandi. Produk seperti cocoa butter atau pelembap hipoalergenik lainnya dapat membantu. Gel lidah buaya juga dapat menenangkan kulit gatal.

Pakaian yang tepat juga berperan. Kenakan pakaian longgar yang terbuat dari serat alami seperti katun, karena lebih mudah bernapas dan mengurangi iritasi. Hindari menggaruk, meskipun sangat menggoda, karena hanya akan memperburuk iritasi dan merusak kulit. Mandi oatmeal dengan menambahkan oatmeal koloid ke dalam air mandi hangat dapat menenangkan dan melembapkan kulit.

Gunakan sabun dan produk perawatan kulit yang lembut, bebas pewangi, dan hipoalergenik. Hindari produk dengan parfum kuat atau alkohol. Tetap terhidrasi dengan minum banyak air untuk menjaga kulit tetap sehat dari dalam. Untuk kasus yang lebih parah, dokter mungkin merekomendasikan krim anti-gatal seperti losion kalamin atau krim hidrokortison, namun selalu dengan persetujuan dokter. Mengelola stres dengan yoga prenatal atau pernapasan dalam, serta mengonsumsi diet seimbang kaya vitamin E, juga dapat mendukung kesehatan kulit secara keseluruhan.