5 Tips Mengajarkan Anak Mengelola Rasa Frustasi agar Tidak Mudah Tantrum

hilya KamilaDiterbitkan 13 Mei 2026, 10:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernah merasa bingung ketika anak merasa frustasi dan memberikan reaksi yang berlebihan? Seringkali frustasi yang mereka alami diakibatkan oleh kewalahan, kesedihan atau kekhawatiran. Alih-alih mengekspresikan diri dengan cara yang tepat, anak-anak biasanya melampiaskan dengan kemarahan dan menarik diri. Oleh karena itu, kita perlu melakukan sesuatu agar anak tidak mudah tantrum.

Itulah sebabnya, peran orangtua sangat penting untuk membantu si kecil mengatur emosi sehingga anak tidak mudah tantrum. Dilansir dari parentmanagementtraininginstitute.com, dengan mengajarkan anak untuk mengatur emosi, mereka akan merasa aman dan nyaman di lingkungan, membangun hubungan yang lebih kuat dengan keluarga dan teman, serta membangun kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan. Oleh karena itu, perlunya mengajarkan anak untuk mengelola rasa frustasi agar mereka tetap merasa tenang.

Anak yang bisa mengelola emosi dan rasa frustasi bisa menjadi pribadi yang lebih tenang, percaya diri, dan terkendali. Lalu, bagaimana cara untuk mengajarkan anak untuk mengelola rasa frustasi? Yuk simak tips agar anak lebih tenang dan tidak tantrum saat mereka merasa frustasi.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Cara Membantu Anak-Anak Belajar Menangani Rasa Frustasi

Membekali anak melalui keterampilan mengatur emosi sejak dini sebagai bekal untuk menghadapi tantangan di masa mendatang. (Foto/dok: Freepik/8photo)

1. Ajarkan anak mengatur emosi

Ketika merasa frustasi, anak-anak perlu untuk diajarkan menenangkan diri mereka. Salah satu mengajarkan anak agar menjadi lebih tenang dengan teknik pernapasan lambat dan dalam, menghitung dan meremas bola pereda stres, dan beristirahat sejenak. Berbagai teknik tersebut membantu untuk menenangkan sistem saraf sehingga mengurangi frustasi. Di sisi lain, teknik menghilangkan rasa frustasi ini tidak akan menghilangkan frustasi anak sepenuhnya, tetapi bisa membantu menghadapinya dengan cara yang lebih terkendali. Dengan membekali anak melalui keterampilan mengatur emosi sejak dini, mereka akan mampu untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.

2. Validasi perasaan anak 

Sangat wajar apabila anak merasa frustasi karena sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan rencana atau terlalu sulit. Seringkali orangtua ingin mengoreksi perilaku anak-anak ketika menghadapi mereka saat merasa frustasi. Biasanya orangtua akan mengoreksi mereka dengan mengatakan sesuatu seperti “berhenti menangis” atau “jangan cengeng.” Namun, hal itu sebaiknya dihindari oleh para orangtua. Sementara itu, orangtua harus tahu bahwa validasi sangat penting sebelum mengoreksi perilaku si kecil. Dengan memberikan validasi kepada anak, hal itu dapat membantu agar mereka merasa bahwa orangtua memahami apa yang dirasakan. 

3. Lebih mengutamakan proses daripada hasil

Biasanya, anak-anak merasa frustasi ketika tidak mencapai hasil yang diharapkan. Bahkan, jika anak dituntut hanya berfokus pada hasil, bukan usaha dan proses yang telah mereka lalui. Sebaiknya, para orangtua memuji usaha anak mereka dengan mengapresiasi “kamu sudah berusaha sebaik mungkin,” hal itu bisa menanamkan pola pikir yang berkembang bagi si kecil. Pola pikir berkembang atau growth mindset memungkinkan anak-anak untuk memahami untuk menikmati prosesnya daripada hanya berfokus pada hasil. Dengan cara ini, anak akan memahami bahwa usaha lebih penting daripada keberhasilan. Hal ini juga sebagai salah satu upaya untuk menanamkan sikap positif meskipun merasa frustasi.

3 dari 3 halaman

4. Uraikan tantangan menjadi hal yang mudah

Salah satu penyebab frustasi pada anak ketika mereka merasa tidak mampu menyelesaikan masalah atau tantangan tertentu. (Foto/dok: Freepik/jcomp)

Salah satu penyebab frustasi pada anak ketika mereka merasa tidak mampu menyelesaikan masalah atau tantangan tertentu. Tantangan yang terlalu berat akan membuat anak menjadi patah semangat dan putus asa hingga frustasi. Dengan ini, orangtua bisa membantu anak menghindari frustasi dengan memecahkan tantangan menjadi langkah-langkah yang lebih sederhana. Apabila telah menyelesaikan langkah-langkah ini, anak akan merasa lebih percaya diri dan termotivasi mencoba menyelesaikan tantangan selanjutnya dengan tenang. Hal ini akan membantu anak menjadi lebih percaya diri karena mampu memecahkan masalah tanpa frustasi. Memecahkan tantangan juga menjadi salah satu cara membantu anak agar lebih fokus pada proses daripada hasil.

5. Memberikan contoh reaksi yang tenang

Sebagian besar anak seringkali mengikuti dan mencontoh perilaku dari orangtua mereka. Bahkan, orangtua cenderung menjadi “objek” pertama yang diamati oleh anak-anak. Itulah sebabnya, orangtua bisa memberikan contoh menjadi lebih tenang saat menghadapi situasi yang membuat mereka frustasi. Dengan cara ini, anak cenderung mengadopsi sikap yang sama. Selain itu, anak juga akan memahami bahwa frustasi menjadi bagian yang normal dari proses tersebut. Oleh karena itu, lingkungan emosional di rumah sangat memainkan peran penting dalam membantu anak mengatasi rasa frustasi. Dengan begitu, orangtua yang cenderung sabar bisa menanamkan pada anak mereka tentang perasaan frustasi yang bisa ditangani lebih tenang.  

Sahabat Fimela, membantu anak mengelola rasa frustrasi merupakan bagian penting dalam tumbuh kembang emosional mereka. Peran orang tua tidak hanya membimbing, tetapi juga memberi contoh dan menciptakan lingkungan yang aman secara emosional. Dengan mengajarkan teknik menenangkan diri, memvalidasi perasaan, menghargai usaha, serta memecah tantangan menjadi langkah yang lebih sederhana, anak dapat belajar menghadapi frustasi dengan lebih tenang dan terkendali. Pada akhirnya, kemampuan ini akan membentuk pribadi anak yang lebih percaya diri, tangguh, dan mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa meluapkan emosi secara berlebihan.