Refleksikan Arti Kehadiran Ibu, Film Jangan Buang Ibu Angkat Kisah Mengharukan tentang Hubungan Ibu dan Anak

Sarah ArsaliyanaDiterbitkan 12 Juni 2026, 18:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Film ini mengangkat cerita tentang Ristiana, seorang ibu yang harus menerima kenyataan ketika dirinya ditempatkan di panti jompo karena ketiga anaknya merasa tidak lagi mampu merawatnya di rumah. Dari premis tersebut, penonton diajak melihat dinamika hubungan keluarga dari sudut pandang seorang ibu.

Disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan diproduseri oleh Agung Saputra, film ini membawa tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita yang disajikan tidak hanya berfokus pada konflik keluarga, tetapi juga pada makna kehadiran seorang ibu yang seringkali baru disadari ketika jarak mulai tercipta.

Jangan Buang Ibu adalah sebuah kisah yang akan mengajak kita kembali memahami arti cinta, pengorbanan, dan kehadiran seorang ibu dalam hidup kita,” ujar Agung Saputra selaku produser dan CEO Leo Pictures.

Menjelang penayangannya, film ini telah menyapa penonton melalui rangkaian Gala Premiere Jangan Buang Ibu Keliling Indonesia yang berlangsung di 20 kota. Sambutan hangat yang diterima menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap cerita keluarga yang diangkat.

Sahabat Fimela, film ini dibintangi oleh Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Dwi Sasono, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tantangan Nirina Zubir dalam Memerankan Karakter dalam Tiga Rentang Usia

Nirina juga perlu membangun detail karakter (Sumber: POPLICIST Publicist)

Melalui karakter Ristiana, Nirina Zubir mendapat tantangan yang berbeda dibanding peran-peran sebelumnya. Ia harus memerankan sosok yang hadir dalam tiga fase kehidupan yang berbeda dalam satu film.

Penonton akan mengikuti perjalanan Ristiana saat berusia 40 tahun, 50 tahun, hingga memasuki usia 60 tahun. Setiap fase membutuhkan pendekatan karakter yang berbeda agar perkembangan usia dapat terasa alami di layar.

Sahabat Fimela, transformasi tersebut tidak hanya terlihat melalui tata rias dan perubahan fisik. Nirina juga perlu membangun detail karakter mulai dari bahasa tubuh, cara berjalan, hingga ekspresi yang sesuai dengan masing-masing periode usia.

Menurut Nirina, membayangkan versi diri sendiri puluhan tahun ke depan menjadi bagian yang tidak mudah. Karena itu, setiap detail gerakan dan ekspresi harus dipikirkan secara matang agar perjalanan hidup Ristiana dapat terasa meyakinkan bagi penonton.

Pengalaman tersebut bahkan memberi dampak tersendiri bagi dirinya. “Salah satu perubahan Nirina setelah memerankan Ibu Ristiana adalah sekarang Nirina kalau ngomong lebih santai,” ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Kisah Keluarga tentang Dilema yang Dekat dengan Realita

Konflik yang muncul bukan sekadar persoalan hubungan orang tua dan anak (Sumber: POPLICIST Publicist)

Di balik kisah emosionalnya, Jangan Buang Ibu menghadirkan cerita yang berangkat dari situasi yang terasa dekat dengan kehidupan banyak keluarga. Konflik yang muncul bukan sekadar persoalan hubungan orang tua dan anak, tetapi juga tentang tanggung jawab yang berubah seiring waktu.

Ristiana digambarkan sebagai ibu tunggal yang membesarkan Tama, Dewi, dan Tria setelah ditinggal suaminya. Meski hidup dalam keterbatasan dan menghadapi beban utang keluarga, ia tetap berusaha membesarkan ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang.

Ketika anak-anaknya tumbuh dewasa, keadaan keluarga mulai berubah. Jarak yang muncul membuat hubungan yang sebelumnya hangat dan dekat perlahan menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah untuk dihadapi bersama.

Refal Hady yang memerankan Tama melihat konflik tersebut sebagai sesuatu yang relevan dengan kondisi saat ini. “Film ini memperlihatkan perjuangan seorang ibu yang selalu memprioritaskan anak-anaknya dari kecil dengan susah payah, sosok ibu yang tangguh, dan tanpa kehadiran sosok ayah,” ujarnya.

Menurut Refal, dilema yang dihadapi karakter dalam film ini merupakan situasi yang banyak ditemui di kehidupan nyata. “Tapi ketika besar, anak-anaknya mengalami dilema antara harus memprioritaskan ibu atau tidak. Ini dilema yang sekarang jadi realita keadaan banyak dari kita,” katanya.

Sahabat Fimela, perjalanan emosional tersebut menjadi bagian penting yang membentuk cerita Jangan Buang Ibu, sekaligus mengajak penonton melihat kembali hubungan mereka dengan sosok ibu dari sudut pandang yang lebih personal.