Pentingnya Mengenalkan Anak tentang Konsep Tubuhku Milikku Agar Terhindar dari Pelecehan

hilya KamilaDiterbitkan 05 Oktober 2026, 11:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, rasa ingin tahu pada si kecil akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia mereka. Biasanya, mereka sering kali memberikan berbagai pertanyaan hingga orangtua pun sulit untuk menjawabnya. Salah satu pertanyaan yang sering anak-anak tanyakan adalah tentang tubuh mereka sendiri. Pada masa pertumbuhan, anak-anak akan semakin penasaran dengan perubahan yang terjadi pada tubuh. Itulah sebabnya, orangtua perlu untuk tips parenting yang tepat untuk memberikan pada anak terkait body boundaries dan akan membantu mereka terhindar dari pelecehan.

Dilansir dari plannedparenthood.org, parenting orangtua sangat penting dalam memberikan mereka pemahaman tentang perubahan pada tubuh. Apalagi, saat anak mulai memasuki masa sekolah, Sahabat Fimela dapat membantu mereka seperti menjaga area tubuhnya agar mengenal batasan. Bahkan, ketika mereka mulai memasuki usia pubertas, orangtua dapat lebih rinci untuk berbicara terkait perubahan yang mereka alami hingga anak lebih paham dan melindungi diri dari ancaman pelecehan. 

Namun, bagaimana cara memberitahu pada anak tentang konsep tubuh yang perlu diketahui sejak dini? Yuk simak pembahasan berikut agar Sahabat Fimela bisa memberikan penjelasan yang terbaik bagi si kecil. Dengan penjelasan sedari awal, anak-anak akan menjadi lebih mudah untuk mengerti terhadap konsep “tubuhku milikku.”

2 dari 3 halaman

Cara Menjelaskan Anak tentang Konsep Tubuh

Orangtua perlu memberi tahu sejak awal terkait kondisi tubuh dan perubahan fisik yang akan dirasakan oleh si kecil. (Foto/dok: Pexels/Pavel Danilyuk)

Orangtua perlu memberi tahu sejak awal terkait kondisi tubuh dan perubahan fisik yang akan dirasakan oleh si kecil. Selain itu, pastikan anak-anak mengetahui nama dan fungsi yang tepat untuk semua bagian tubuh mereka, termasuk area sensitif pun. Sebaiknya, orangtua tidak menggunakan “nama samaran” anggota tubuh tertentu agar si kecil memahami dengan jelas. 

Selain itu, Sahabat Fimela perlu untuk memberikan pemahaman kepada anak melalui bercerita. Dengan memberikan buku-buku yang sesuai usia anak, mereka tentu akan mudah untuk mengeksplorasi berbagai informasi. Jangan lupa orangtua juga perlu membimbing mereka ketika membaca buku. Sebaiknya Sahabat Fimela tidak menghindari pertanyaan si kecil, Bersiaplah untuk menjawab berbagai pertanyaan dari anak-anak agar mereka memiliki ruang diskusi yang aman. 

Setiap keluarga tentu memiliki aturan yang berbeda mengenai privasi dan cara memandang tubuh. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenalkan kepada anak bahwa menghargai tubuh sendiri juga berarti menghormati orang lain. Misalnya, ajarkan bahwa mereka perlu mengenakan pakaian saat ada tamu datang atau ketika berada di tempat umum, tanpa membuat anak merasa tubuhnya adalah sesuatu yang memalukan. Sampaikan aturan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami seperti menjelaskan bahwa memakai pakaian adalah bagian dari menghargai situasi dan orang di sekitar. 

3 dari 3 halaman

Bagaimana Peran Orangtua dalam Mencegah Pelecehan Seksual pada Anak

Langkah paling penting yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah pelecehan seksual adalah membangun komunikasi yang terbuka sejak dini. (Foto/dok: Pexels/Ketut Subiyanto)

Sahabat Fimela, salah satu langkah paling penting yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah pelecehan seksual adalah membangun komunikasi yang terbuka sejak dini. Sahabat Fimela tidak perlu menunggu anak beranjak remaja karena percakapan tentang tubuh, batasan pribadi, dan rasa aman bisa dimulai dengan bahasa yang sederhana sesuai usia mereka. Saat anak bertanya tentang tubuhnya, jawablah dengan jujur tanpa membuat mereka merasa malu atau takut. Kebiasaan berdiskusi secara santai juga membantu anak memahami bahwa mereka selalu boleh bertanya dan bercerita kepada orang tua ketika merasa bingung atau tidak nyaman. Dengan begitu, Sahabat Fimela bisa menjadi sosok pertama yang akan dicari anak saat menghadapi situasi yang membuatnya khawatir.

Selain menjaga komunikasi, orangtua juga berperan mengenalkan konsep batasan tubuh dan persetujuan atau consent. Ajarkan bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri sehingga tidak seorang pun boleh menyentuh bagian pribadi tanpa izin, kecuali dalam kondisi tertentu seperti pemeriksaan kesehatan yang didampingi orangtua. Anak juga perlu memahami bahwa mereka berhak mengatakan "tidak" ketika ada sentuhan, pelukan atau tindakan lain yang membuat mereka tidak nyaman, meskipun dilakukan oleh orang yang dikenal. Pemahaman mengenai batasan ini membantu anak lebih percaya diri menjaga diri sekaligus mengenali situasi yang tidak aman.

Tak kalah penting, ciptakan suasana rumah yang membuat anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau dihakimi. Dengarkan setiap cerita mereka dengan tenang, hargai perasaan yang disampaikan, dan jangan terburu-buru menyalahkan atau meremehkan pengalaman anak. Percakapan mengenai tubuh, hubungan, dan keselamatan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berulang, bukan hanya sekali. Dengan komunikasi yang konsisten, anak akan lebih mudah mengenali perilaku yang tidak pantas, berani meminta pertolongan, dan memiliki kepercayaan bahwa orang tuanya akan selalu melindungi serta mendukung mereka dalam situasi apa pun.