Fimela.com, Jakarta - Perasaan iri atau minder dapat muncul ketika anak sering membandingkan diri dengan saudaranya, terutama jika mereka merasa saudara kandung lebih pintar, lebih berprestasi, atau lebih sering mendapatkan perhatian dari orang tua. Hal ini sebenarnya cukup umum terjadi, tetapi jika berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan antarsaudara, hingga kesejahteraan emosional anak. Karena itu, penting bagi orangtua untuk membantu anak memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan, tantangan, dan proses perkembangan yang berbeda.
Dilansir dari University of Utah Health, perasaan iri anak dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain merupakan bagian dari perilaku manusia dalam menilai kemampuan diri. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan tersebut dapat memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri, menurunkan kepercayaan diri, memunculkan perasaan rendah diri, hingga berdampak pada kesehatan mental. Sementara kekuatan diri, rasa syukur, dan perkembangan pribadi pada anak dapat membantu mengurangi kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.
Karena itu, orangtua perlu menyikapinya dengan tepat dengan menghindari perbandingan antarsaudara serta memberikan apresiasi terhadap usaha dan perkembangan masing-masing anak. Pendekatan ini membantu anak merasa dihargai, membangun kepercayaan diri, dan menciptakan hubungan saudara yang lebih positif.
Hindari Membandingkan Anak dengan Saudaranya
Menghindari perbandingan antarsaudara menjadi langkah penting untuk mengurangi rasa iri pada anak. Ucapan seperti “kakak lebih rajin” atau “adik lebih pintar” dapat membuat anak merasa kemampuannya kurang dihargai. Akibatnya, ia lebih mudah membandingkan diri dengan saudara kandung dan kehilangan rasa percaya diri.
Dilansir dari Raising Children Network, orangtua dianjurkan untuk menghargai setiap anak sebagai individu yang unik dengan karakter, minat, dan kemampuan yang berbeda. Memberikan pujian atas usaha serta perkembangan masing-masing anak dapat membantu membangun harga diri yang lebih sehat dibandingkan berfokus pada hasil atau prestasi.
Selain itu, orangtua juga dapat meluangkan waktu khusus bersama setiap anak, meskipun hanya beberapa menit setiap hari. Perhatian secara individual membuat anak merasa didengar, dihargai, dan dicintai tanpa harus bersaing dengan saudara kandungnya. Saat anak merasa memiliki hubungan yang hangat dengan orang tua, rasa iri cenderung berkurang dan ia lebih mudah menerima perbedaan. Dengan cara ini, hubungan antarsaudara pun dapat tumbuh lebih harmonis serta saling mendukung dalam proses perkembangan masing-masing.
Ajarkan Anak Mengelola Rasa Iri
Perasaan iri tidak perlu dianggap sebagai emosi yang harus dihindari sepenuhnya. Sebaliknya, orangtua dapat membantu anak mengenali, menerima, dan mengelola perasaan tersebut dengan cara yang sehat. Ketika anak merasa aman untuk mengungkapkan emosinya, ia akan lebih mudah memahami bahwa rasa iri bukan berarti dirinya kurang berharga dibandingkan saudara kandungnya.
Dilansir dari Child Mind Institute, memvalidasi perasaan anak tanpa menghakimi dapat membantu mereka belajar mengelola emosi dengan lebih baik. Orangtua dapat mengajak anak berbicara tentang apa yang membuatnya merasa iri, kemudian mengarahkan perhatian pada kemampuan, minat, dan pencapaian yang sudah dimilikinya. Cara ini membantu anak melihat bahwa setiap orang memiliki kelebihan yang berbeda.
Selain itu, biasakan memberikan apresiasi terhadap proses yang dilakukan anak, bukan hanya hasil akhirnya. Dukungan yang konsisten akan membantu anak membangun kepercayaan diri, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan saudara kandung, serta menciptakan hubungan keluarga yang lebih hangat. Seiring waktu, anak akan belajar menghargai dirinya sendiri dan tumbuh tanpa merasa harus menjadi sama seperti saudaranya.