Fimela.com, Jakarta - Beige mom aesthetic merupakan istilah informal yang menggambarkan oran tua, khususnya para ibu, yang cenderung memilih palet warna netral dan desain sederhana untuk anak-anak mereka. Tren ini, yang kerap terinspirasi dari gaya minimalis di Instagram, mencakup penggunaan warna kalem seperti krem, abu-abu, dan putih pada dekorasi rumah, pakaian, hingga mainan anak.
Istilah sad beige mom sendiri menjadi populer di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Para kreator di sana sering kali menyindir tren pengasuhan ultra-minimalis yang lebih mengutamakan nuansa kalem dan alami dibandingkan perlengkapan bayi tradisional yang cerah. Hayley DeRoche, seorang kreator TikTok dengan akun “That Sad Beige Lady,” dikenal sebagai pencetus istilah ini melalui konten satir yang ia buat.
Beige mom aesthetic merujuk pada orangtua yang mendekorasi rumah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan anak mereka, termasuk pakaian dan mainan, dengan warna-warna netral seperti krem dan putih. Konsep ini mencakup pilihan dekorasi kamar bayi, pakaian, mainan, dan perlengkapan anak lainnya yang didominasi oleh warna-warna seperti krem, abu-abu, dan putih.
Tren ini berakar dari apresiasi luas terhadap nuansa netral dan warna tanah dalam desain interior secara umum. Istilah “sad beige mom syndrome” secara informal menggambarkan ibu yang sangat condong pada estetika “beige sedih” ini, ditandai dengan pemilihan warna netral dan desain yang sederhana serta kalem. Hayley DeRoche, seorang kreator TikTok, menciptakan istilah tersebut melalui akunnya “That Sad Beige Lady,” sering membuat video satir tentang “sad beige toys for sad beige children”. Fenomena ini pertama kali menarik perhatian luas melalui konten satir dari DeRoche, yang mengomentari tren anak-anak yang berpakaian dan bermain dalam nuansa warna netral. Kontennya kemudian menjadi viral dan memicu diskusi luas mengenai dampak estetika semacam itu terhadap perkembangan anak.
Daya Tarik di Balik Nuansa Beige: Keuntungan bagi Orangtua dan Anak
Banyak orangtua menemukan bahwa nuansa krem dan warna serupa dapat menciptakan lingkungan yang menenangkan dan nyaman. Warna-warna netral ini dipercaya dapat membantu bayi beristirahat, bersantai, dan fokus, mengingat studi menunjukkan bahwa bayi dan anak kecil sensitif serta terkadang terstimulasi oleh warna-warna cerah. Lingkungan yang tenang secara visual membantu mengurangi stimulasi berlebihan, yang pada gilirannya dapat menghasilkan kualitas tidur yang lebih baik dan permainan yang lebih fokus bagi anak.
Dr. Lisa Diard, MD, menyatakan bahwa menciptakan suasana rumah yang tenang dan teratur, serta memiliki estetika pribadi, tidaklah berbahaya dan justru bisa menjadi bentuk perawatan diri bagi orang tua. Palet warna krem juga dianggap abadi dan mudah dipadukan dengan berbagai perabot rumah tangga. Tren warna dapat datang dan pergi dengan cepat, namun warna netral dapat tumbuh dengan baik bersama anak, sehingga orang tua tidak terpaku pada tema yang mungkin terasa ketinggalan zaman dalam waktu singkat. Memilih barang yang netral gender dapat mengurangi stres bagi orangtua, terutama bagi mereka yang belum mengetahui jenis kelamin bayi atau berencana memiliki lebih banyak anak. Hal ini memudahkan penggunaan barang turun-temurun, karena tidak perlu membeli ulang semua perlengkapan bayi jika anak berikutnya berbeda jenis kelamin.
Estetika ini juga dapat mempromosikan kesadaran lingkungan dengan mengutamakan bahan alami dan mengurangi limbah plastik. Selain itu, banyak orang tua yang menganut gaya “beige mom aesthetic” menggambarkan estetika rumah mereka sebagai bentuk perawatan diri, sebagai cara untuk menegaskan identitas mereka dan menciptakan lingkungan yang tenang dan santai.
Sisi Lain beige mom aesthetic: Kritik dan Kekhawatiran Perkembangan Anak
Namun, beige mom aesthetic juga menuai kritik, terutama karena dianggap kurang memberikan stimulasi visual yang dibutuhkan anak. Kurangnya warna dapat berdampak negatif pada perkembangan anak, terutama bagi bayi, karena penglihatan mereka belum sepenuhnya berkembang hingga usia lima hingga delapan bulan. Mainan bayi yang cerah penting untuk perkembangan visual, sebab bayi pada awalnya hanya dapat melihat hitam dan putih, sehingga membutuhkan kontras tinggi untuk membedakan objek.
Beberapa ahli berpendapat bahwa ini adalah bentuk deprivasi sensorik, karena anak-anak membutuhkan akses ke berbagai warna, tekstur, rasa, dan suara untuk perkembangan yang sehat. Prof. Dr. Iswinarti, M.Si., seorang Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, menyoroti pentingnya stimulasi visual anak melalui variasi warna, menjelaskan bahwa pada usia 2-3 bulan, bayi lebih responsif terhadap warna cerah dan kontras tinggi.
Banyak kritikus menganggap bahwa estetika ini lebih tentang tampilan Instagram orangtua daripada kebahagiaan dan kebahagiaan anak. Pendekatan ini dikhawatirkan dapat menghilangkan pengalaman yang cerah dan stimulasi penuh warna dari anak-anak. Bahkan, beberapa orang tua mengecat mainan anak-anak mereka dengan warna netral agar sesuai dengan estetika rumah, yang dianggap berlebihan dan memicu perdebatan.
Beberapa pihak berpendapat bahwa tren ini terkait dengan minimalisme dan citra “old money,” di mana warna dianggap norak atau kelas rendah. Hal ini juga dikaitkan dengan blogger ibu yang menggunakan estetika netral untuk konten, sehingga terasa seperti pertunjukan dan terputus dari kesenangan masa kanak-kanak yang sebenarnya.
Mainan dan pakaian berwarna netral seringkali mahal, sehingga tidak dapat diakses oleh semua orang tua. Tren ini mendorong narasi bahwa aksesori krem adalah yang terbaik untuk perkembangan bayi, yang dapat menimbulkan rasa bersalah pada orang tua yang tidak mampu membeli gaya hidup ini. Kekhawatiran lain muncul terkait penggunaan cat semprot untuk mengubah warna mainan anak menjadi netral, karena menimbulkan risiko penambahan bahan kimia ke mainan yang mungkin masuk ke mulut anak.