Café Kini Bukan Sekadar Tempat Ngopi, tapi Ruang untuk Menjalani Hidup

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 04 September 2026, 11:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ada masa ketika café identik dengan secangkir kopi dan makanan ringan. Orang datang, memesan, menikmati hidangan, lalu pulang. Namun, cara masyarakat urban menikmati café kini telah berubah. Sebuah café bisa menjadi tempat untuk membuka laptop di pagi hari, bertemu klien menjelang siang, mengobrol bersama sahabat pada sore hari, hingga menikmati waktu sendiri sebelum kembali ke rumah.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa café kini memiliki fungsi yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya tempat makan dan minum, tetapi juga ruang untuk bekerja, bersosialisasi, bertemu komunitas, mencari inspirasi, bahkan sekadar mengambil jeda dari rutinitas.

Dengan kata lain, café semakin menjadi ruang untuk menjalani hidup. Dalam kehidupan masyarakat urban, rumah dan tempat kerja selama ini menjadi dua ruang utama yang mengisi keseharian. Namun, ada kebutuhan terhadap ruang lain yang lebih fleksibel—tempat seseorang dapat berada di antara kehidupan personal dan profesional.

Konsep ini dikenal sebagai third place, yaitu ruang di luar rumah dan tempat kerja yang memungkinkan seseorang bersosialisasi dan menghabiskan waktu dengan lebih santai.

 

2 dari 4 halaman

Dari Tempat Makan Menjadi Ruang Ketiga

ilustrasi kafe (created by AI)

 

Café dan restoran semakin banyak mengambil peran tersebut. Suasana yang nyaman membuat pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas dalam satu tempat. Ada yang datang untuk menyelesaikan pekerjaan, melakukan pertemuan informal, berdiskusi, membaca buku, hingga bertemu teman.

Karena itu, keberadaan sebuah café tidak lagi hanya dinilai dari seberapa enak kopi atau makanannya. Pengalaman ketika berada di dalam ruang tersebut ikut menentukan mengapa seseorang ingin kembali.

Di tengah banyaknya pilihan F&B, konsumen kini memiliki lebih banyak pertimbangan ketika memilih tempat untuk makan atau minum. Desain interior, atmosfer, pelayanan, lokasi, kemudahan pembayaran, hingga bagaimana sebuah brand berinteraksi dengan konsumennya secara digital dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Media sosial juga membuat perjalanan konsumen dimulai bahkan sebelum mereka datang ke lokasi. Sebuah café dapat ditemukan melalui Instagram atau TikTok, menunya dilihat secara online, kemudian pengalaman tersebut dilanjutkan secara langsung ketika pengunjung berada di dalam ruang.

Batas antara pengalaman digital dan fisik pun semakin tipis. Hal ini membuat café masa kini tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga suasana dan pengalaman yang menjadi bagian dari gaya hidup.

 

3 dari 4 halaman

Budaya Nongkrong yang Semakin Beragam

Ilustrasi teman, sahabat, nongkrong. (Photo by Afta Putta Gunawan on Pexels)

Perubahan tersebut turut melahirkan berbagai format F&B yang menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat urban. Jika sebelumnya coffee shop mendominasi budaya nongkrong, kini pilihan semakin beragam, termasuk bakery café dan modern tea house.

Bakery café, misalnya, menawarkan pengalaman yang berada di antara restoran dan café. Pengunjung dapat menikmati makanan untuk sarapan atau makan siang, bertemu teman, sekaligus menghabiskan waktu dalam suasana yang lebih santai.

Sementara modern tea house membawa budaya menikmati teh ke dalam format yang lebih kontemporer. Teh tidak lagi hanya menjadi minuman pendamping, tetapi dapat menjadi bagian dari pengalaman sosial yang dinikmati bersama.

Format-format tersebut memperlihatkan bagaimana ruang F&B terus beradaptasi dengan ritme kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.

 

4 dari 4 halaman

Menghadirkan Brand Global ke dalam Ruang Sosial Urban

Intip bagaimana Cafe kini bukan lagi sekadar tempat ngopi (Bacha Coffee)

Perubahan kebutuhan tersebut juga membuka peluang bagi brand F&B global untuk menghadirkan konsep yang lebih relevan dengan gaya hidup masyarakat Indonesia. Melalui ekosistem F&B-nya, Erajaya membawa sejumlah brand internasional seperti Bacha Coffee, Paris Baguette, dan CHAGEE ke pasar Indonesia. Ketiganya hadir dengan karakter berbeda, tetapi sama-sama menawarkan format yang dapat menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat urban.

Bacha Coffee membawa pengalaman menikmati kopi dengan identitas yang kuat, sementara Paris Baguette menghadirkan format bakery café yang memadukan berbagai pilihan pastry dan makanan dengan suasana yang memungkinkan pengunjung untuk berkumpul maupun beristirahat.

Di sisi lain, CHAGEE menawarkan pengalaman modern dalam menikmati teh. Kehadiran modern tea house seperti ini menunjukkan bahwa budaya minum teh pun dapat beradaptasi dengan gaya hidup generasi masa kini.

Dengan format tersebut, F&B tidak hanya menjadi tujuan ketika seseorang merasa lapar atau haus. Ia dapat menjadi bagian dari perjalanan aktivitas sehari-hari. Menariknya, satu café kini dapat memiliki fungsi berbeda bagi setiap orang.

Bagi pekerja, café bisa menjadi tempat untuk menyelesaikan pekerjaan ketika membutuhkan suasana baru. Bagi komunitas, ruang tersebut dapat menjadi lokasi bertukar ide. Bagi sekelompok sahabat, café menjadi tempat untuk berbagi cerita. Sementara bagi seseorang yang datang sendirian, secangkir kopi dan sudut nyaman bisa menjadi kesempatan untuk menikmati waktu bersama diri sendiri.

Inilah yang membuat konsep café sebagai ruang sosial terasa semakin relevan.

Pengunjung tidak selalu datang dengan tujuan yang sama. Namun, mereka menemukan sesuatu yang dibutuhkan dari ruang tersebut—entah itu produktivitas, koneksi, hiburan, inspirasi, atau sekadar jeda.