Ketika AI Mulai “Mengenal” Konsumen, Hakuhodo Hadirkan 100+ Persona Digital ASEAN

Revania ImmanuelaDiterbitkan 04 September 2026, 12:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, kalau selama ini AI dikenal sebagai teknologi yang bisa menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, kali ini penggunaannya dibuat sedikit berbeda. Alih-alih hanya mengandalkan data umum, Hakuhodo mencoba membuat AI yang lebih dekat dengan kehidupan nyata manusia.

Melalui Hakuhodo Institute of Life & Living ASEAN (HILL ASEAN), Hakuhodo memperkenalkan Virtual Sei-katsu-sha, yaitu persona digital berbasis AI yang dikembangkan menggunakan data riset konsumen milik mereka. Konsep ini diperkenalkan dalam ASEAN Sei-katsu-sha Forum 2026 di Jakarta.

Menariknya, teknologi tersebut tidak dibangun hanya dari data angka. Hakuhodo memanfaatkan hasil riset kualitatif yang dikumpulkan selama tujuh tahun, termasuk wawancara dan home visit. Dengan begitu, AI tidak hanya mencoba memahami apa yang dilakukan konsumen, tetapi juga menggali cerita, kebutuhan, dan alasan di balik perilaku mereka.

Menurut Hakuhodo, pendekatan ini penting karena penggunaan AI generatif yang terlalu umum berpotensi membuat brand terdengar sama. Jika banyak pihak menggunakan model AI dengan dasar yang serupa, hasil dan komunikasinya pun bisa kehilangan ciri khas.

Karena itu, Virtual Sei-katsu-sha hadir dengan pendekatan yang lebih spesifik. Data riset milik Hakuhodo digunakan untuk melatih kembali model AI sehingga persona yang dihasilkan dapat memberikan insight yang lebih unik dan relevan untuk kebutuhan masing-masing klien.

Jadi, bayangkan saja seperti memiliki “teman virtual” yang punya gambaran lebih lengkap tentang karakter dan kebiasaan konsumen. Bedanya, teman virtual ini digunakan untuk membantu brand memahami audiensnya.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Dari Kebiasaan Belanja sampai Skenario Masa Depan

Lebih dari 100 persona Virtual Sei-katsu-sha dirancang dengan karakter yang beragam, termasuk insight hiper-lokal, minat niche, dan kemampuan berbahasa lokal. b(Foto/Dok: Fimela.com)

Kalau satu persona saja sudah menarik, Hakuhodo ternyata mengembangkan lebih dari 100 persona Virtual Sei-katsu-sha. Masing-masing dibuat dengan karakteristik yang beragam, termasuk insight hiper-lokal, minat yang lebih spesifik, hingga kemampuan menggunakan bahasa lokal.

Konsep ini membuat AI tidak diperlakukan sebagai satu suara yang bisa mewakili semua orang. Sebaliknya, keberagaman karakter konsumen justru menjadi bagian penting yang ingin dipetakan.

Salah satu implementasinya bahkan dibuat dalam bentuk simulasi kota virtual Indonesia. Di dalamnya terdapat dua persona AI yang merepresentasikan kondisi saat ini dan proyeksi Indonesia pada 2051. Keduanya kemudian dapat “berdialog” untuk membantu menghubungkan tren yang terjadi sekarang dengan kemungkinan perubahan di masa depan.

Pendekatan seperti ini terasa semakin relevan ketika kebiasaan konsumen juga ikut berubah. Salah satu temuan yang dibawa Hakuhodo menunjukkan bahwa 74,6 persen konsumen Indonesia bertanya kepada AI sebelum membeli sesuatu. Artinya, AI kini bukan hanya tempat mencari jawaban, tetapi mulai ikut masuk ke dalam proses seseorang ketika menentukan pilihan.

Perubahan tersebut kemudian membuat pertanyaan baru bagi brand: "Ketika konsumen bertanya kepada AI, apakah produk mereka akan ikut muncul sebagai rekomendasi?"

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Hakuhodo memperkenalkan H+DGE atau Digital Growth Engine. Tools ini membantu menganalisis kesiapan sebuah brand di era pencarian berbasis AI, termasuk bagaimana website, konten digital, hingga suara audiens dapat diatur agar brand lebih mudah ditemukan dan direkomendasikan oleh AI.

Dengan kata lain, persaingan brand kini bukan hanya soal siapa yang paling terlihat di media sosial, tetapi juga siapa yang paling mudah ditemukan ketika konsumen bertanya kepada AI.

3 dari 3 halaman

Era Baru Marketing: Bukan Sekadar Cari KOL, tapi Bangun Komunitas

Hakuhodo melihat perubahan perilaku digital sebagai peluang untuk mengembangkan strategi marketing yang lebih berpusat pada komunitas, teknologi AI, dan hubungan antarkonsumen. (Foto/Dok: Fimela.com)

Perubahan cara konsumen mencari informasi ternyata ikut mengubah cara brand membangun komunikasi. Jika sebelumnya strategi pemasaran banyak mengandalkan TV, billboard, media sosial, hingga endorsement KOL, kini percakapan di dalam komunitas digital menjadi semakin penting.

Melihat perubahan tersebut, Hakuhodo memperkenalkan SOSAI, sebuah metode influencer marketing yang memanfaatkan data digital dan tools pengukuran untuk memetakan komunitas serta orang-orang yang menjadi penggerak percakapan di dalamnya. Jadi, pendekatannya bukan sekadar memilih satu KOL untuk mempromosikan produk, tetapi melihat siapa yang benar-benar punya pengaruh di sebuah komunitas.

Konsep ini kemudian sejalan dengan arah baru Hakuhodo yang mulai memposisikan diri sebagai creative-technology company. Selain Virtual Sei-katsu-sha dan H+DGE, Hakuhodo juga memperkenalkan Mekari Creative Studio, platform kreatif berbasis AI yang dirancang dengan dukungan legal dan procurement untuk kebutuhan materi komersial.

Menariknya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak selalu berarti menggantikan peran manusia. Justru, teknologi digunakan untuk membantu brand memahami manusia dengan lebih mendalam dan membuat strategi yang lebih relevan.

Bagi konsumen, perubahan ini mungkin terasa sederhana; semakin banyak aktivitas sehari-hari yang dibantu AI. Namun bagi industri marketing, perubahannya cukup besar. Brand kini perlu memikirkan bagaimana mereka ditemukan, dibicarakan, direkomendasikan, sekaligus tetap terasa relevan di tengah ekosistem digital yang terus bergerak.

Pada akhirnya, teknologi boleh semakin canggih, tetapi insight tentang manusia tetap menjadi bagian penting. Karena di balik setiap data, pencarian, dan keputusan membeli, selalu ada manusia dengan kebutuhan dan cerita yang berbeda.