Play-Based Learning vs Akademik Dini: Memahami Dua Cara Belajar Anak

Eastara VigaskaDiterbitkan 09 September 2026, 16:37 WIB

Fimela.com, Jakarta - Cara belajar anak pada usia dini dapat hadir dalam berbagai bentuk. Sebagian pendekatan memberikan ruang lebih besar bagi anak untuk bermain, bereksplorasi, dan menemukan sesuatu melalui pengalaman. Sementara itu, pendekatan akademik dini lebih banyak mengenalkan kemampuan seperti membaca, menulis, dan berhitung sejak usia muda. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dalam proses pembelajaran. 

Dilansir dari National Association for the Education of Young Children (NAEYC), pembelajaran yang sesuai perkembangan anak perlu mempertimbangkan usia, perkembangan individu, serta konteks sosial dan budaya. NAEYC juga menjelaskan bahwa bermain menjadi praktik penting dalam pembelajaran anak usia dini karena dapat mendukung berbagai aspek perkembangan.

Di sisi lain, pengenalan kemampuan akademik tidak selalu berarti menghilangkan aktivitas bermain. Anak tetap dapat mengenal konsep angka, bahasa, atau literasi melalui aktivitas yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangannya. Karena itu, memahami karakteristik masing-masing pendekatan menjadi langkah awal sebelum menentukan metode yang paling sesuai untuk anak, dengan mempertimbangkan kebutuhan, minat, kemampuan, serta cara belajar anak yang berbeda pada setiap perkembangan.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Apa yang Terjadi Saat Anak Terlalu Cepat Didorong Belajar Akademik?

Masa kanak-kanak memiliki kebutuhan perkembangan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. (Foto/Dok: Pexels)

Dorongan untuk mengenalkan kemampuan akademik sejak dini sering muncul dari keinginan mempersiapkan anak menghadapi sekolah. Namun, proses belajar pada usia dini tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, atau berhitung. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak, berinteraksi, berimajinasi, dan mencoba berbagai hal secara mandiri.

Dilansir dari American Academy of Pediatrics (AAP), bermain mendukung perkembangan bahasa, kemampuan kognitif, keterampilan sosial, serta membantu anak membangun hubungan dengan orang lain. AAP juga menyebutkan bahwa kesempatan bermain dapat membantu anak menghadapi stres dan mengembangkan fungsi eksekutif yang penting untuk proses belajar.

Karena itu, pembelajaran yang terlalu berfokus pada target akademik berisiko membuat kesempatan anak untuk mengeksplorasi dan belajar melalui pengalaman menjadi lebih terbatas. Bukan berarti kemampuan akademik tidak penting, tetapi cara dan waktunya perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Pendekatan yang seimbang dapat membantu anak menemukan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan, minat, kemampuan, dan ritme perkembangannya tanpa mengurangi ruang untuk bermain dan bereksplorasi.

3 dari 3 halaman

Haruskah Memilih Play-Based Learning atau Akademik Dini?

Pendekatan yang seimbang memungkinkan anak mengenal kemampuan akademik tanpa kehilangan kesempatan untuk bermain dan bereksplorasi. (Foto/Dok: Pexels)

Perdebatan antara play-based learning dan akademik dini tidak harus berakhir dengan memilih salah satu. Keduanya dapat memiliki ruang dalam proses belajar anak, selama penerapannya disesuaikan dengan tahap perkembangan.Dilansir dari National Association for the Education of Young Children (NAEYC), pembelajaran yang sesuai perkembangan dapat menggabungkan berbagai cara belajar, termasuk bermain dan pembelajaran yang dipandu orang dewasa.

Beberapa cara menyeimbangkannya:

  1. Kenalkan konsep akademik lewat permainan, Angka dapat diperkenalkan melalui permainan berhitung, sedangkan bahasa bisa diasah melalui cerita dan percakapan.
  2. Berikan ruang untuk eksplorasi, Anak tetap membutuhkan kesempatan memilih aktivitas, mencoba sesuatu, dan menggunakan imajinasi tanpa selalu diarahkan pada hasil akademik.
  3. Sesuaikan dengan kesiapan anak, Kemampuan dan perkembangan setiap anak berbeda, sehingga target pembelajaran tidak harus dibuat seragam.

Dengan pendekatan tersebut, belajar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan pengalaman yang menyenangkan dan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh. Pendekatan ini juga memberi ruang bagi anak untuk berkembang secara bertahap, membangun rasa percaya diri, serta menikmati proses belajar tanpa tekanan berlebihan sejak usia dini.