Kamila Andini Ceritakan Ide dari Bromo, Inspirasi Film Empat Musim Pertiwi

Afradhiya N. RDiterbitkan 09 September 2026, 22:49 WIB

Fimela.com, Jakarta - Trailer dan poster film Empat Musim Pertiwi resmi diperkenalkan dalam konferensi pers di kawasan Jakarta pada Selasa (8/9//2026). Pada kesempatan itu, sutradara Kamila Andini memaparkan asal-muasal ide cerita yang ia garap untuk proyek terbarunya ini.

Ia bercerita bahwa benih cerita muncul dari perjalanan keluarga ke Jawa Timur, tepatnya Bromo.

“Sebenarnya film ini ditulis memang pada saat kami sedang liburan keluarga juga di Bromo. Jadi, Bromo itu adalah memang salah satu destinasi wisata favorit keluarga kami bersama saya dan Mas Ifa dan anak-anak. Jadi kita memang suka, beberapa kali ke sana,” ungkap Kamila Andini.

Sutradara serial sukses Gadis Kretek ini menyebut Bromo memberinya pengalaman visual yang sangat kuat, terutama tentang bayangan "empat musim" di satu lanskap.

“Salah satu yang secara visual sangat menyentuh saya adalah memang tempat itu tuh tempat di mana saya melihat ada tekstur empat musim dalam satu tempat. Yang di mana tentu saja Indonesia kita enggak punya empat musim,” ujar sang sutradara.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Empat Musim dan Fase Hidup Perempuan ala Kamila Andini

Kamila Andini, memegang mic dalam press conference trailer & trailer Empat Musim Pertiwi yang diselenggarakan di kawasan Jakarta pada (8/9/2026). (Liputan6.com/Afradhiya N. R)

Pengalaman melihat "tekstur empat musim" di Bromo mendorong Kamila Andini menautkannya dengan gagasan tentang fase-fase yang dialami perempuan. Dari pengamatan visual tersebut, ia membayangkan narasi yang bergerak mengikuti perubahan musim sebagai cermin perjalanan hidup seorang perempuan.

“Tapi di titik itu memang dulu pengen sekali cerita tentang empat musim perempuan atau fase kehidupan perempuan. Itu awalnya banget gitu,” ucapnya.

Gagasan awal itu ia tuangkan pertama kali pada 2017. Setelah tersimpan beberapa tahun, minat untuk menggarapnya kembali muncul dan berujung pada pengembangan naskah yang lebih intens pada 2023.

“Terus di 2023 akhirnya mulai mengembangkan lagi topik tersebut,” kata Andini.

3 dari 3 halaman

Dilema Saat Mengembangkan Naskah

Film Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini (Credit: Forka Films)

Dalam proses memperdalam Empat Musim Pertiwi, Kamila Andini mengakui ada fase-fase ketika ia ragu untuk meneruskan atau menghentikan penulisan. Dilema itu muncul seiring kebutuhan untuk menyeimbangkan cerita dengan batasan-batasan personal yang ia rasakan.

“Enggak gampang karena pada saat penulisan juga ada hal-hal yang saya harus terhenti, berhenti, ‘Benar enggak ya, saya mau nulis tentang ini?’,” ungkapnya.

Pada akhirnya, ia memilih untuk melaju dan mendorong dirinya melampaui keraguan yang ada.

“Kayaknya kalau beneran mau nulis tentang ini saya harus harus go all the way, kayak emang harus push the boundaries juga, harus go beyond gitu,” ujar Andini.

Empat Musim Pertiwi mengikuti kisah Pertiwi (Putri Marino), perempuan yang baru saja keluar dari penjara setelah menjalani hukuman selama lebih dari satu dekade. Ia kembali ke desa tempat dibesarkan, namun kepulangannya tidak disambut hangat, baik oleh masyarakat sekitar maupun keluarganya sendiri.

Alasan Pertiwi dipenjara berawal dari tindakannya membunuh seorang pria yang mencoba melakukan kekerasan seksual terhadapnya. Setelah bebas, ia berhadapan dengan trauma dan kenangan masa lalu yang masih membekas kuat.

Kepulangannya ke desa bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan proses panjang untuk menghadapi segala luka yang selama ini ia bawa. Setiap pertemuan dan langkah pulang menuntutnya untuk menatap masa lalu secara langsung.

Di tengah situasi tersebut, Pertiwi berusaha menemukan kembali arti rumah, keluarga, dan kedamaian bagi dirinya. Perjalanannya mempertemukan ia dengan orang-orang di sekitarnya serta berbagai sisi masa lalu yang membentuk hidupnya selama ini.