Desainer Pemula Siap Bawa Identitas Lokal ke Panggung Moscow Fashion Week

Revania ImmanuelaDiterbitkan 23 September 2026, 15:55 WIB

Fimela.com, Jakarta - Dunia fashion tidak hanya tentang koleksi terbaru yang tampil di runway. Setiap tahun, selalu ada desainer baru yang mulai memperkenalkan karya dan membangun nama di industri fashion. Desainer yang berada di tahap awal perjalanan tersebut dikenal sebagai emerging designer. Kini, para desainer pemula tersebut siap membawa karya mereka dan menunjukkan karakter masing-masing di Moscow Fashion Week.

Hal tersebut menjadi salah satu daya tarik Moscow Fashion Week yang akan digelar pada 26 September hingga 1 Oktober 2026 di Moskow, Rusia. Ajang ini mempertemukan emerging designer, buyer, influencer, hingga perwakilan media dari berbagai negara dalam satu ekosistem fashion.

Desainer Indonesia pun bukan nama baru di ajang ini. Pada musim sebelumnya, Raegitazoro dan Irmasari Joedawinata telah memamerkan koleksi mereka di Moscow Fashion Week. Tahun ini, kehadiran desainer dari Asia kembali terlihat melalui Limak By Kamil dari Sri Lanka, Momiwei dari Tiongkok, KGL dari India, serta desainer dari Turki dan Kazakhstan.

Di luar Asia, sejumlah brand dari Spanyol, Amerika Serikat, Inggris, dan negara lainnya juga ikut berpartisipasi. Keragaman inilah yang membuat sebuah runway tidak hanya menjadi tempat melihat tren, tetapi juga ruang untuk melihat bagaimana setiap desainer menerjemahkan identitasnya dalam bahasa fashion.

Sebab, ketika sebuah karya dibawa ke panggung global, yang ikut diperkenalkan bukan hanya nama brand, tetapi juga cerita di baliknya.

2 dari 3 halaman

Budaya dan Sustainability Jadi Bagian dari Cerita Para Desainer

Identitas lokal, craftsmanship, hingga sustainability dapat menjadi bagian dari cerita yang membuat sebuah brand semakin menarik. (Foto/Dok: Moscow Fashion Week)

Ketika berbicara tentang fashion global, tren memang menjadi salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan. Namun, di tengah banyaknya koleksi dan brand dari berbagai negara, identitas yang kuat justru dapat menjadi hal yang membuat sebuah karya lebih mudah dikenali.

Hal tersebut juga terlihat dari perhatian terhadap sustainability dalam perkembangan fashion Indonesia. Dalam materi Moscow Fashion Week, disebutkan bahwa 75 persen konsumen di Indonesia bersedia membayar lebih untuk produk fashion yang berkelanjutan. Praktik seperti upcycling, craftsmanship, dan pengolahan identitas budaya juga semakin bergerak menuju arus utama.

Bagi desainer, sustainability dan budaya tidak harus berdiri sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya bisa hadir dalam satu koleksi melalui pemilihan material, teknik pengerjaan, hingga cara sebuah cerita diterjemahkan menjadi desain.

Pendekatan local inspiration yang diusung Indonesian Fashion Chamber juga menunjukkan bagaimana inspirasi dari lingkungan dan budaya lokal dapat diolah melalui perspektif yang lebih kontemporer. Jadi, membawa unsur tradisional ke panggung global tidak selalu berarti membuat koleksi terlihat kuno atau terlalu literal.

Justru, di situlah kreativitas desainer dibutuhkan. Sebuah elemen budaya bisa diterjemahkan kembali menjadi siluet, detail, teknik, atau konsep yang terasa lebih dekat dengan selera masa kini.

Dengan cara tersebut, identitas lokal tidak hanya menjadi dekorasi dalam sebuah koleksi. Ia bisa menjadi bagian dari cerita dan karakter sebuah brand ketika berhadapan dengan audiens yang lebih luas.

Moscow Fashion Week pun menjadi salah satu ruang yang mempertemukan berbagai pendekatan tersebut. Desainer dari banyak negara hadir dengan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki kesempatan yang sama untuk memperkenalkan karya mereka kepada pasar internasional.

3 dari 3 halaman

Cara Desainer Emerging Membawa Cerita Lokal ke Pasar Global

Membawa fashion ke pasar internasional membutuhkan keseimbangan antara mempertahankan identitas dan menciptakan karya yang relevan. (Foto/Dok: Moscow Fashion Week)

Ada satu tantangan yang sering muncul ketika sebuah brand mulai melangkah ke pasar internasional: bagaimana tetap mempertahankan identitas tanpa membuat karya terasa sulit diterima oleh audiens baru?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan bagi desainer emerging yang ingin memperluas jangkauan brand. Mereka perlu menemukan cara untuk membuat karya tetap memiliki karakter, tetapi di saat yang sama mampu berkomunikasi dengan pasar yang lebih luas.

Nguyen Vi Huu Canh, Head of Fashion Sector, VDAS — Vietnam Design Association, menekankan pentingnya keseimbangan antara identitas budaya dan daya saing global. Menurutnya, brand fashion perlu mempertahankan warisan budaya sekaligus menciptakan produk yang relevan dengan pasar internasional.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara. Inspirasi dari budaya lokal dapat diterjemahkan melalui desain yang lebih modern, sementara teknik craftsmanship dan cerita di balik koleksi tetap dipertahankan. Dengan begitu, sebuah brand tetap memiliki akar yang jelas tanpa harus membatasi kreativitasnya.

Untuk desainer emerging, kesempatan tampil di platform seperti Moscow Fashion Week juga membuka peluang untuk bertemu buyer, media, dan pelaku industri dari berbagai negara. Bukan hanya soal mendapatkan perhatian, tetapi juga membangun koneksi yang dapat berkembang menjadi peluang baru.

Pada akhirnya, go international bukan berarti harus meninggalkan sesuatu yang menjadi identitas sebuah brand. Justru, cerita lokal bisa menjadi bagian yang membuat sebuah karya punya karakter ketika diperkenalkan kepada dunia.

Dari Moskow, runway menjadi lebih dari sekadar tempat koleksi berjalan. Ia menjadi ruang bagi desainer emerging untuk menunjukkan bahwa inspirasi lokal juga bisa menemukan jalannya menuju panggung fashion global.