Fimela.com, Jakarta - Media sosial bisa menjadi tempat untuk mencari inspirasi, mulai dari makeup, skincare, fashion, sampai gaya hidup. Namun, terlalu lama scrolling juga bisa membuat kita tanpa sadar membandingkan penampilan sendiri dengan orang lain. Melihat wajah yang selalu terlihat flawless, tubuh yang dianggap ideal, atau gaya yang sedang populer bisa membuat standar kecantikan terasa semakin tinggi.
Dilansir dari Psychology Today, paparan terhadap gambar yang sudah dikurasi di media sosial dapat mendorong seseorang melakukan perbandingan sosial. Lingkungan media sosial juga membuat kita memiliki kelompok pembanding yang jauh lebih luas dibandingkan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, kita bisa merasa belum cukup hanya karena melihat begitu banyak orang yang terlihat memenuhi standar kecantikan tertentu.
Padahal, apa yang muncul di layar tidak selalu menggambarkan keadaan sebenarnya. Satu foto mungkin sudah melewati pemilihan angle, pencahayaan, makeup, filter, hingga proses editing. Tanpa sadar, kita justru membandingkan diri dengan versi orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.
Rasa insecure pun bisa muncul perlahan. Awalnya hanya melihat konten kecantikan untuk mencari inspirasi, kemudian mulai memperhatikan bagian wajah atau tubuh yang sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan. Dari situ, muncul keinginan untuk mengubah diri agar terlihat seperti standar yang sedang ramai dibicarakan.
Hal ini semakin rumit karena tren kecantikan terus berganti. Apa yang dianggap cantik hari ini belum tentu menjadi standar beberapa tahun mendatang. Karena itu, penting untuk mulai menyadari bahwa tidak semua standar yang muncul di media sosial harus dijadikan ukuran untuk diri sendiri.
Tidak Semua Tren Kecantikan Harus Diikuti
Setelah menyadari bagaimana media sosial bisa memengaruhi cara kita melihat diri sendiri, langkah berikutnya adalah mulai lebih selektif dengan apa yang dikonsumsi. Beberapa kebiasaan sederhana ini bisa membantu:
1. Pilih akun yang membuat nyaman
Coba perhatikan bagaimana perasaan setelah melihat konten tertentu. Jika ada akun yang justru membuat kita terus membandingkan diri, tidak ada salahnya untuk mute atau unfollow. Bukan karena kontennya buruk, tetapi karena kita berhak menentukan apa yang ingin memenuhi ruang digital sendiri.
2. Jangan jadikan tren sebagai kewajiban
Tren skincare, makeup, gaya rambut, sampai bentuk tubuh tertentu akan selalu berganti. Kita boleh mengikutinya kalau memang suka, tetapi tidak perlu merasa harus mencoba semuanya hanya karena sedang ramai.
Sebelum mengikuti sebuah tren, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Aku memang suka ini atau hanya takut ketinggalan?” Jawabannya bisa membantu membedakan keinginan pribadi dengan tekanan dari lingkungan digital.
3. Berhenti membandingkan kehidupan asli dengan media sosial
Apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Foto bisa dipilih dari banyak hasil jepretan, sementara pencahayaan, angle, makeup, filter, dan editing juga bisa memengaruhi hasil akhirnya.
Jadi, tidak perlu menggunakan satu foto orang lain sebagai standar untuk menilai diri sendiri.
4. Jangan terlalu memikirkan komentar netizen
Komentar tentang wajah, tubuh, rambut, atau gaya berpakaian memang bisa terasa mengganggu. Namun, pendapat orang lain tidak harus selalu menjadi alasan untuk mengubah diri.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita merasa nyaman dengan pilihan tersebut.
Belajar Nyaman dengan Diri Sendiri
Beberapa hal ini bisa Sahabat Fimela mulai diterapkan:
1. Tentukan definisi cantik versi diri sendiri
Cantik tidak harus punya satu bentuk. Bagi seseorang, cantik mungkin berarti nyaman dengan kulit natural. Bagi orang lain, bisa berarti tampil dengan makeup favorit, menggunakan pakaian yang disukai, atau merasa percaya diri dengan rambut sendiri.
Tidak ada salahnya punya standar yang berbeda dari apa yang sedang populer di media sosial.
2. Bedakan self-care dan tekanan untuk terlihat sempurna
Merawat diri seharusnya menjadi aktivitas yang membuat kita merasa lebih nyaman. Kalau skincare, makeup, olahraga, atau perawatan tertentu dilakukan karena memang menyenangkan, tentu tidak masalah.
Namun, jika semuanya terasa seperti kewajiban karena takut dianggap kurang cantik, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan melihat kembali alasannya.
3. Kurangi kebutuhan akan validasi
Jumlah likes, komentar, views, maupun pujian dari netizen tidak menentukan seberapa berharga seseorang. Kita tidak harus terlihat sempurna di depan semua orang untuk merasa cukup.
4. Beri diri sendiri waktu offline
Sesekali, letakkan ponsel dan lakukan sesuatu tanpa memikirkan bagaimana hasilnya akan terlihat di media sosial. Bertemu teman, menikmati hobi, jalan-jalan, atau sekadar bersantai tanpa kamera bisa menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu harus terlihat sempurna di layar.
Standar kecantikan di internet akan terus berubah. Namun, kita tidak harus ikut berubah setiap kali standar tersebut berganti. Merawat diri seharusnya menjadi cara untuk menghargai diri, bukan hukuman karena merasa belum cukup cantik.