Fimela.com, Jakarta - Mengajarkan anak tentang mengatur keuangan sejak dini bisa menjadi bekal ketika mereka mulai belajar mengambil keputusan sendiri. Tidak perlu langsung mengenalkan istilah finansial yang rumit. Hal sederhana seperti memahami apa yang perlu dibeli dan apa yang masih bisa ditunda sudah bisa menjadi langkah awal.
Dilansir dari Consumer Financial Protection Bureau, mengenalkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan dapat membantu anak belajar membuat keputusan saat menggunakan uang. Konsep ini juga bisa diperkenalkan melalui berbagai contoh yang mereka temui sehari-hari, sehingga pembahasannya terasa lebih dekat dan mudah dipahami.
Mulai dari Hal yang Dekat dengan Anak
Orangtua bisa ajarkan mengatur keuangan kepada anak mulai dari barang-barang yang sudah familiar. Makanan, perlengkapan sekolah, atau sepatu yang sudah tidak muat bisa menjadi contoh kebutuhan. Sementara itu, mainan baru, jajanan tambahan, atau barang yang sedang mereka lihat di toko bisa menjadi contoh keinginan.
Namun, bukan berarti anak harus selalu dilarang ketika menginginkan sesuatu. Memiliki keinginan adalah hal yang wajar. Yang perlu dikenalkan adalah bagaimana menentukan kapan sesuatu memang perlu dibeli dan kapan masih bisa menunggu.
Ketika anak meminta sesuatu, orangtua bisa mengajak mereka ngobrol terlebih dahulu. Misalnya dengan bertanya, “Kamu memang sedang membutuhkan ini atau karena tadi melihatnya dan jadi ingin punya?”
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak berhenti sejenak sebelum meminta atau membeli sesuatu. Mereka mulai belajar bahwa ada perbedaan antara “aku butuh” dan “aku ingin”.
Dari kebiasaan kecil tersebut, anak perlahan belajar melihat uang bukan hanya sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk membeli apa pun yang diinginkan, tetapi juga sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan penggunaannya.
Dan setelah mulai mengenali perbedaannya, langkah berikutnya adalah mengajak anak menentukan mana yang perlu didahulukan.
Sebelum Membeli, Ajak Anak Belajar Menentukan Prioritas
Membedakan kebutuhan dan keinginan akan lebih mudah dipahami jika anak ikut mempraktikkannya. Salah satu momen yang bisa dimanfaatkan adalah ketika berbelanja bersama.
Sebelum pergi ke supermarket, misalnya, orangtua bisa mengajak anak membuat daftar barang yang memang perlu dibeli. Ketika anak kemudian melihat mainan atau camilan yang menarik, ajak mereka melihat kembali daftar tersebut.
Bukan berarti anak tidak boleh memilih sesuatu di luar daftar. Justru, momen tersebut bisa digunakan untuk mengajarkan bahwa ketika uang yang tersedia terbatas, ada beberapa hal yang perlu didahulukan.
Gunakan Pertanyaan yang Sederhana
Daripada langsung mengatakan “tidak boleh”, orangtua bisa mengajak anak mempertimbangkan pilihannya dengan beberapa pertanyaan:
- Apakah kamu benar-benar membutuhkan barang ini?
- Kalau tidak dibeli sekarang, apakah ada masalah?
- Kamu sudah punya barang yang mirip di rumah?
- Kalau membeli ini, apakah masih ada uang untuk kebutuhan lain?
- Mana yang menurutmu lebih penting untuk dibeli sekarang?
Tidak perlu menanyakan semuanya sekaligus. Pilih pertanyaan yang paling sesuai dengan situasinya agar percakapan tetap terasa santai.
Misalnya, ketika anak ingin membeli mainan baru padahal baru saja membeli mainan beberapa hari sebelumnya, orangtua bisa bertanya apakah mainan tersebut benar-benar berbeda atau hanya terlihat menarik karena baru melihatnya.
Dari sini, anak belajar mempertimbangkan pilihannya sendiri. Jika akhirnya tetap memilih membeli, biarkan mereka memahami bahwa uang yang digunakan untuk mainan tersebut berarti tidak bisa digunakan untuk hal lain.
Sebaliknya, jika mereka memilih menunda dan menyimpan uangnya, berikan apresiasi atas pertimbangannya.
Setelah anak mulai terbiasa menentukan prioritas dalam situasi seperti ini, mereka bisa diberi kesempatan untuk mengatur uang dalam jumlah kecil. Salah satu cara paling sederhana adalah melalui uang jajan.
Jadikan Uang Jajan sebagai Latihan Mengatur Keuangan
Memberikan uang jajan tidak hanya soal memenuhi kebutuhan anak sehari-hari. Jika dilakukan dengan tepat, uang jajan juga bisa menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar mengatur uang sendiri.
Orangtua bisa memberikan uang jajan sesuai usia dan kebutuhan anak, kemudian mengajak mereka menentukan penggunaannya. Misalnya, sebagian digunakan untuk membeli makanan dan sebagian lainnya disimpan untuk sesuatu yang sudah mereka inginkan.
Biarkan Anak Belajar dari Pilihannya
Dalam prosesnya, anak mungkin saja menghabiskan uang lebih cepat dari yang direncanakan. Misalnya, uang yang seharusnya cukup untuk beberapa hari justru habis karena membeli camilan atau barang kecil yang menarik perhatian.
Daripada langsung mengganti uang tersebut, orangtua bisa mengajak anak membicarakan apa yang terjadi. Tanyakan apakah mereka puas dengan pembelian tersebut dan apa yang mungkin dilakukan berbeda lain kali.
Dengan begitu, anak bisa memahami konsekuensi dari pilihannya tanpa merasa sedang dimarahi karena menggunakan uang.
Kebiasaan menyimpan uang juga bisa diperkenalkan secara sederhana. Anak dapat memiliki celengan atau tempat khusus untuk menyimpan uang dengan tujuan tertentu. Misalnya, mereka ingin membeli buku, mainan, atau barang yang memang sudah lama diinginkan.
Menariknya, proses menabung juga membuat konsep kebutuhan dan keinginan terasa lebih nyata. Anak belajar bahwa jika ingin membeli sesuatu yang harganya lebih mahal, mereka mungkin perlu menunggu dan menyisihkan uang sedikit demi sedikit.
Selain dari uang jajan, anak juga banyak belajar dari kebiasaan orangtua. Cara memilih barang saat berbelanja, membandingkan harga, membuat daftar belanja, hingga menunda pembelian bisa menjadi contoh yang mereka lihat setiap hari.
Dengan kebiasaan sederhana yang dilakukan sejak dini, mereka pun perlahan belajar membedakan apa yang dibutuhkan, apa yang diinginkan, dan kapan waktu yang tepat untuk membelinya.