Lost at Sea, Navigasi Perjalanan Finansial di Tengah Ketidakpastian Lewat Karya Seni

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 02 Oktober 2026, 21:43 WIB

Fimela.com, Jakarta - Membicarakan masa depan finansial sering kali terasa seperti sedang membuat peta perjalanan. Ada tujuan yang ingin dicapai, mulai dari memiliki rumah, menyiapkan dana pendidikan, traveling, hingga mempersiapkan masa pensiun. Namun, dalam kehidupan nyata, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Kondisi ekonomi berubah, kebutuhan hidup bertambah, sementara prioritas pribadi pun dapat bergeser. Karena itu, memiliki rencana sfinansial bukan berarti seseorang dapat mengendalikan seluruh hal yang akan terjadi di masa depan.

Gambaran mengenai perjalanan penuh ketidakpastian ini justru hadir dalam sebuah karya seni di Art Jakarta 2026. Melalui kolaborasi dengan seniman asal Yogyakarta Endry Pragusta, Bibit dan Stockbit menghadirkan School of Medusa II dalam narasi “Lost at Sea”. Art Jakarta 2026 berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran dan tahun ini mempertemukan 75 galeri, termasuk 33 galeri internasional.

“Lost at Sea” berangkat dari gambaran laut yang tidak pernah benar-benar diam. Ombak terus bergerak, arus berubah, sementara seseorang yang berada di atas rakit harus terus mencari keseimbangan untuk mencapai tujuan.

Dalam karya Endry Pragusta, metafora tersebut awalnya berbicara mengenai sistem pendidikan yang membuat manusia harus menavigasi masa depan dengan perangkat yang belum tentu lengkap. Namun, gagasan tentang perjalanan tanpa peta yang sempurna kemudian diperluas pada perjalanan finansial manusia.

 

2 dari 3 halaman

Ketika Perjalanan Finansial Diibaratkan Seperti Berlayar

Gambaran perjalanan finansial lewat karya seni di Art Jakarta 2026 (dok. Bibit)

 

Sebab, sejak kecil, masyarakat lebih sering diajarkan mengenai cara memperoleh penghasilan dibandingkan bagaimana mengelola, melindungi, dan mengembangkan apa yang sudah dimiliki.

Padahal, perjalanan finansial membutuhkan kemampuan yang berbeda. Bukan hanya bagaimana mendapatkan uang, tetapi juga bagaimana menentukan tujuan, memahami risiko, menjaga konsistensi, dan menyesuaikan strategi ketika kondisi berubah.

Bagi sebagian orang, investasi masih identik dengan usaha mencari instrumen yang dapat memberikan keuntungan. Namun melalui “Lost at Sea”, Bibit dan Stockbit ingin membawa percakapan tersebut ke perspektif yang lebih luas: investasi merupakan sebuah perjalanan yang membutuhkan proses belajar.

William, Head of PR & Corporate Communication Bibit dan Stockbit, menggambarkan perjalanan tersebut seperti seseorang yang sedang berlayar.

“Layaknya berlayar, dalam investasi kita sulit untuk mengendalikan laut maupun memprediksi setiap gelombang. Yang dapat kita lakukan adalah belajar membaca arus, memahami kondisi, menentukan arah, dan menjaga keseimbangan.”

Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting ketika menghadapi perubahan. Rakit yang mampu bertahan bukanlah rakit yang tidak pernah berubah, melainkan yang dapat menyesuaikan diri ketika menghadapi gelombang.

Begitu pula dengan investasi. Ketika kondisi pasar berubah, investor tidak selalu harus mengambil keputusan secara terburu-buru. Memahami situasi dan menyesuaikan strategi dengan tujuan finansial dapat menjadi bagian dari proses menghadapi ketidakpastian.

 

3 dari 3 halaman

Mulai dari Memahami Kondisi Finansial Sendiri

Gambaran perjalanan finansial lewat karya seni di Art Jakarta 2026 (dok. Bibit)

Metafora tersebut juga menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan finansial yang berbeda.

Seseorang yang baru mulai bekerja tentu memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda dari mereka yang sedang menyiapkan dana pensiun atau membangun keluarga. Karena itu, tidak ada satu peta finansial yang dapat diterapkan secara sama kepada semua orang.

Langkah awalnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Mulai dari memahami pemasukan dan pengeluaran, memiliki dana darurat, menentukan tujuan finansial, serta mempelajari instrumen investasi sebelum mengambil keputusan.

Dengan begitu, investasi tidak hanya dilihat sebagai aktivitas untuk mengejar keuntungan, tetapi sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang.

Perjalanan finansial juga tidak selalu memberikan hasil secara instan. Sama seperti seseorang yang berlayar, mencapai tujuan membutuhkan waktu, arah yang jelas, sekaligus kemampuan untuk tetap bergerak meski kondisi di perjalanan berubah.

Dalam konteks inilah pengetahuan dan disiplin menjadi penting. Investor perlu terus belajar memahami kondisi pasar, mengenali profil risiko, serta mengevaluasi apakah strategi yang digunakan masih sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Melalui kolaborasi dengan Endry Pragusta, Bibit dan Stockbit ingin memperluas percakapan mengenai investasi agar tidak berhenti pada angka dan instrumen keuangan. Investasi dipandang sebagai perjalanan yang membutuhkan pengetahuan, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan konsistensi.

Tidak hanya menghadirkan karya seni, instalasi “Lost at Sea” juga dirancang sebagai pengalaman yang lebih personal bagi pengunjung Art Jakarta 2026.

Pengunjung dapat mengikuti aktivitas menulis dan origami untuk menuangkan harapan serta aspirasi mereka. Aktivitas sederhana tersebut menjadi cara untuk memvisualisasikan kembali tujuan yang ingin dicapai di masa depan.