Slow Parenting dalam Mengenalkan MPASI, Ketika Santai Justru Jadi Pilihan

Eastara VigaskaDiterbitkan 05 Oktober 2026, 16:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Memasuki usia sekitar enam bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping untuk melengkapi kebutuhan nutrisi yang tidak lagi cukup dipenuhi dari ASI saja. Namun, proses mengenalkan MPASI tidak harus dilakukan dengan terburu-buru. Konsep slow parenting dapat diterapkan dengan memberikan ruang bagi bayi untuk mengenal makanan secara bertahap, tanpa tekanan agar selalu menghabiskan satu porsi.

Dilansir dari World Health Organization (WHO), makanan pendamping sebaiknya mulai diberikan sekitar usia enam bulan dengan jumlah kecil yang kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai pertumbuhan anak. World Health Organization juga merekomendasikan responsive feeding, yaitu memperhatikan tanda lapar dan kenyang bayi saat makan.

Pendekatan ini membuat waktu makan bukan hanya tentang berapa banyak makanan yang berhasil masuk, tetapi juga menjadi kesempatan bagi bayi untuk belajar mengenali rasa, aroma, tekstur, serta sensasi lapar dan kenyang. Dalam proses MPASI, orangtua dapat lebih fokus menemani proses belajar tersebut daripada merasa harus mengejar target setiap kali makan, sambil memahami bahwa setiap anak memiliki perkembangan dan kebutuhan yang berbeda.

2 dari 3 halaman

Bayi Belum Lahap Saat MPASI? Jangan Langsung Panik

Menutup mulut atau memalingkan wajah bisa menjadi cara bayi menunjukkan bahwa dirinya sudah cukup makan. (Foto/Dok: Pexels)

Pada masa awal MPASI, bayi masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan rasa, aroma, dan tekstur makanan. Karena itu, orangtua tidak perlu langsung panik ketika si kecil belum makan banyak. Dilansir dari UNICEF, mengenali tanda lapar dan kenyang bayi merupakan bagian penting dalam proses pemberian makanan secara responsif. Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:

  1. Membuka mulut atau mendekati makanan: bisa menjadi tanda bayi tertarik dan siap menerima makanan.
  2. Menggerakkan kepala ke arah makanan: menunjukkan bayi masih ingin makan dan dapat ditawari suapan berikutnya.
  3. Menutup mulut: dapat menjadi salah satu tanda bayi sudah merasa cukup.
  4. Memalingkan wajah: orangtua dapat memberikan jeda daripada terus menyuapi ketika bayi menunjukkan tanda tersebut.
  5. Kehilangan minat pada makanan: bisa menjadi sinyal bahwa waktu makan sebaiknya diakhiri. 

Pendekatan seperti ini sejalan dengan slow parenting, karena orangtua memberikan kesempatan kepada bayi untuk mengenali kebutuhannya tanpa tekanan. Dengan demikian, waktu makan tidak hanya berfokus pada piring yang harus kosong, tetapi juga menjadi proses belajar yang lebih nyaman bagi bayi.

3 dari 3 halaman

Slow Parenting Bukan Berarti Bebas Aturan Saat MPASI

Memberikan waktu bagi bayi untuk belajar makan perlu berjalan beriringan dengan makanan yang bergizi, aman, serta sesuai dengan usia dan kemampuan anak. (Foto/Dok: Pexels)

Menerapkan slow parenting saat mengenalkan MPASI bukan berarti membiarkan proses makan berjalan tanpa perhatian. Sikap santai justru perlu diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan gizi dan keamanan makanan. Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bayi mulai membutuhkan beragam makanan sekitar usia enam bulan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.

Tekstur makanan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan makan bayi. Beberapa hal tetap perlu menjadi perhatian orangtua:

  1. Utamakan makanan bergizi: berikan beragam makanan, termasuk sayuran, buah, sumber protein, lemak sehat, dan biji-bijian.
  2. Sesuaikan tekstur: mulai dari makanan yang lembut dan mudah dimakan, kemudian tingkatkan teksturnya seiring kemampuan bayi berkembang.
  3. Perhatikan keamanan: hindari makanan dengan bentuk atau tekstur yang berisiko menyebabkan tersedak.
  4. Ikuti tanda lapar dan kenyang: berikan kesempatan bayi menentukan seberapa banyak yang ingin dimakan tanpa dipaksa.
  5. Berikan waktu untuk beradaptasi: bayi membutuhkan waktu untuk mengenal rasa dan tekstur baru sehingga penolakan terhadap makanan tertentu tidak selalu berarti harus langsung menyerah.

Jadi, santai dalam proses MPASI bukan berarti mengurangi perhatian terhadap kebutuhan bayi. Justru, orangtua dapat lebih tenang mendampingi proses belajar makan, sementara kebutuhan gizi dan keamanan tetap menjadi prioritas.