Berdamai dengan Diri Sendiri, Langkah Awal Lepas dari Jebakan FOMO di Media Sosial

Eastara VigaskaDiterbitkan 07 Oktober 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Media sosial membuat berbagai aktivitas orang lain terasa begitu dekat. Dalam beberapa menit, seseorang bisa melihat teman yang sedang berlibur, menghadiri acara, membeli barang baru, hingga mencapai sesuatu yang diinginkan. Tanpa disadari, hal tersebut dapat memunculkan sikap FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.

Dilansir dari Cleveland Clinic, FOMO dapat muncul ketika seseorang merasa orang lain sedang menjalani kehidupan yang lebih menyenangkan atau memiliki pengalaman yang tidak dimilikinya. Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan rasa percaya diri dan cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Karena itu, berdamai dengan diri sendiri bisa menjadi langkah untuk keluar dari siklus tersebut. Cobalah mengingat bahwa apa yang terlihat di media sosial bukan gambaran lengkap kehidupan seseorang. Ada proses dan persoalan yang mungkin tidak ikut dibagikan. Daripada terus membandingkan diri, mulai perhatikan kembali apa yang sebenarnya dibutuhkan dan membuat diri merasa cukup tanpa harus mengikuti standar kehidupan orang lain di media sosial.

2 dari 3 halaman

FOMO Terus Menghantui? Ini Cara Berdamai dengan Diri Sendiri

Memberikan batas pada penggunaan media sosial dapat membantu pikiran terasa lebih tenang dan tidak mudah terpengaruh. (Foto/Dok: Pexels)

Apakah rasa FOMO terus menghantuimu? Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi dorongan mengikuti kehidupan orang lain di media sosial. Tidak perlu langsung menghapus seluruh aplikasi, tetapi mulai dengan mengubah kebiasaan saat menggunakannya.

  1. Kenali pemicu FOMO, Perhatikan konten atau akun yang sering membuat diri merasa tertinggal, iri, atau kurang. Jika diperlukan, gunakan fitur mute atau unfollow agar timeline terasa lebih nyaman.
  2. Beri batas waktu scrolling, Terlalu lama melihat unggahan orang lain dapat membuat seseorang semakin sering membandingkan kehidupannya. Tentukan waktu khusus untuk membuka media sosial dan hindari scrolling tanpa tujuan.
  3. Jangan langsung mengikuti tren, Sebelum membeli barang atau mencoba sesuatu yang sedang viral, tanyakan apakah hal tersebut memang diinginkan atau hanya muncul karena takut tertinggal.
  4. Alihkan perhatian pada kehidupan sendiri, Gunakan waktu untuk melakukan aktivitas yang benar-benar dinikmati, seperti menjalani hobi, bertemu orang terdekat, atau beristirahat.

Dilansir dari American Psychological Association, membatasi penggunaan media sosial selama dua minggu dalam sebuah penelitian dikaitkan dengan penurunan FOMO dan peningkatan beberapa aspek kesejahteraan emosional.

3 dari 3 halaman

Saatnya Merasa Cukup, Cara Berdamai dengan Diri Tanpa Terjebak FOMO

Memberikan ruang bagi diri sendiri dapat membantu menjalani kehidupan tanpa terus merasa harus mengejar orang lain. (Foto/Dok: Pexels)

Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti berhenti memiliki keinginan atau tidak tertarik dengan apa yang sedang terjadi di sekitar. Justru, hal ini berarti mampu menentukan mana yang memang sesuai dengan kebutuhan tanpa merasa harus mengikuti semuanya. Ketika muncul rasa tertinggal setelah melihat unggahan orang lain, coba kembali mengingat hal-hal yang sedang dijalani dan disyukuri saat ini.

Dilansir dari Psychology Today, penelitian mengenai FOMO menunjukkan adanya kaitan antara perasaan tersebut dengan kesepian, rendahnya kepercayaan diri, dan rendahnya self-compassion. Karena itu, membangun sikap lebih baik terhadap diri sendiri dapat membantu mengurangi kecenderungan terus membandingkan kehidupan dengan orang lain.

Mulailah dengan mengapresiasi pencapaian kecil, menikmati waktu tanpa perlu membagikannya, dan menerima bahwa tidak semua hal harus terjadi sekarang. Tidak mengikuti tren juga bukan berarti tertinggal. Setiap orang memiliki prioritas dan waktunya masing-masing. Pada akhirnya, merasa cukup adalah tentang mampu menjalani pilihan sendiri tanpa terus membutuhkan validasi dari kehidupan orang lain di media sosial.