Ketika Batik, Seni, dan Musik Bertemu dalam SMERTI di Panggung IWAN TIRTA Collection 2027

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 08 Oktober 2026, 19:25 WIB

Fimela.com, Jakarta - Memori bukan sekadar sesuatu yang tersimpan di masa lalu. Ia dapat berubah, berkembang, dan kembali hadir dalam bentuk yang berbeda. Gagasan inilah yang menjadi napas utama SMERTI — IWAN TIRTA Runway Collection 2027, koleksi terbaru IWAN TIRTA yang dipersembahkan pada 8 Oktober 2026 di Jakarta.

Hadir melalui 50 tampilan busana pria dan wanita, SMERTI menelusuri memori tentang manusia, tempat, alam, dan kebudayaan yang membentuk identitas kita hari ini. Koleksi ini sekaligus mencatat momen penting karena untuk pertama kalinya sebuah peragaan busana digelar di Gedung Kesenian Jakarta, menghadirkan pertemuan antara warisan batik, fashion, seni, arsitektur, dan musik.

Bagi IWAN TIRTA, memori tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang harus direproduksi secara persis. Sebaliknya, jejak masa lalu menjadi titik awal untuk menciptakan sesuatu yang relevan dengan zaman. Melalui batik, berbagai elemen dari masa lalu ditafsirkan kembali untuk masa kini dan dibawa menuju masa depan.

SMERTI menggali sejumlah motif dari khazanah IWAN TIRTA yang merekam hubungan manusia dengan semesta. Motif-motif tersebut tidak sekadar diulang, tetapi mengalami perubahan skala, komposisi, repetisi, hingga penempatan. Elemen yang familiar dapat hadir secara utuh maupun terfragmentasi, menyerupai cara kerja ingatan manusia yang menyimpan, mengubah, lalu menghadirkan kembali sebuah pengalaman dalam bentuk baru.

Pendekatan tersebut membuat SMERTI terasa dekat dengan generasi masa kini. Batik tidak ditempatkan hanya sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai medium kreatif yang terus dapat berkembang mengikuti perubahan zaman.

2 dari 3 halaman

Batik, Arsitektur, dan Sebuah Panggung yang Bersejarah

Eksplorasi material turut memperkaya koleksi. Batik berbahan 100 persen katun dan material TENCEL™ hadir berdampingan dengan styling items berbahan sutra dan denim. / Foto dok: IWAN TIRTA .

Dalam 50 tampilan yang diperagakan, SMERTI mengeksplorasi pendekatan soft structured atau soft architectural. Konstruksi busana yang terukur dipadukan dengan garis serta pergerakan yang lebih lembut, menciptakan siluet yang terasa modern sekaligus memiliki karakter kuat.

Eksplorasi material turut memperkaya koleksi. Batik berbahan 100 persen katun dan material TENCEL™ hadir berdampingan dengan styling items berbahan sutra dan denim. Perpaduan material, tekstur, serta siluet tersebut memberikan perspektif baru terhadap bagaimana batik dapat dikenakan dalam konteks busana kontemporer.

“SMERTI lahir dari cara kami memandang memori sebagai sesuatu yang hidup,” ujar Widiyana Sudirman, CEO IWAN TIRTA. Menurutnya, karya dan pemikiran Iwan Tirta menjadi pijakan untuk terus mengeksplorasi kemungkinan batik, bukan dengan mengulang masa lalu, tetapi meneruskan semangat penciptaannya dalam bentuk yang baru.

Pemilihan Gedung Kesenian Jakarta sebagai lokasi presentasi pun bukan tanpa alasan. Gedung bersejarah tersebut memiliki kesamaan gagasan dengan konsep SMERTI: menyimpan jejak perjalanan seni dan budaya yang terus hidup serta menemukan relevansinya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Untuk pertama kalinya, Gedung Kesenian Jakarta menjadi panggung sebuah peragaan busana. Pertemuan antara arsitektur dan fashion ini menciptakan dialog menarik antara batik sebagai bahasa budaya dan gedung sebagai ruang yang menyimpan memori.

Sebagai Art Director, Shadtoto Prasetio menerjemahkan narasi SMERTI melalui suasana visual, tata panggung, pergerakan model, pencahayaan, hingga ritme pertunjukan. Setiap elemen dirancang untuk merespons karakter gedung, sehingga runway tidak sekadar menjadi tempat koleksi diperlihatkan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

3 dari 3 halaman

Ketika Fashion Menjadi Pengalaman Multidimensi

Musik menjadi salah satu elemen penting dalam pertunjukan. Pada bagian finale, penampilan khusus dari Efek Rumah Kaca menjadi penutup perjalanan SMERTI. Musik tidak sekadar menjadi latar, tetapi turut membangun narasi yang menghubungkan koleksi dengan ruang dan memori. / Foto dok: IWAN TIRTA.

SMERTI kemudian berkembang melampaui format peragaan busana konvensional. Batik, busana, gerak, arsitektur, dan musik dirangkai menjadi sebuah pengalaman imersif yang membawa penonton menyusuri perjalanan tentang memori dan bagaimana warisan budaya dapat menemukan bentuk baru.

Musik menjadi salah satu elemen penting dalam pertunjukan. Pada bagian finale, penampilan khusus dari Efek Rumah Kaca menjadi penutup perjalanan SMERTI. Musik tidak sekadar menjadi latar, tetapi turut membangun narasi yang menghubungkan koleksi dengan ruang dan memori.

Setiap tampilan di runway juga diperkuat melalui kolaborasi dengan sejumlah kreator dan brand. Gelap Ruang Jiwa hadir melalui aksesori, sementara Filo by Miwsoon melengkapi tampilan dengan tas. Fortuna Shoes melengkapi tampilan pria dan Naked Sol tampilan wanita, dengan tata rias keseluruhan koleksi didukung oleh Make Over.

Di luar panggung, pengalaman para tamu turut dilengkapi sajian dari Dewata by Monsieur Spoon. Pementasan SMERTI juga terwujud melalui dukungan Propan, Plaza Indonesia, dan WWF.

Pada akhirnya, SMERTI bukan hanya tentang menghadirkan koleksi terbaru IWAN TIRTA. Lebih dari itu, koleksi ini menjadi cara untuk membuka ruang baru bagi batik agar terus dibaca, dikenakan, dan dialami melalui perspektif yang berbeda.

Warisan, seperti yang ingin disampaikan melalui SMERTI, tidak berhenti pada masa lalu. Ia tetap hidup ketika terus bergerak, ditafsirkan, dan diberikan ruang untuk menemukan bentuk baru.

Dengan repositori lebih dari 13.000 pola batik warisan, IWAN TIRTA terus mengembangkan visi artistik sang maestro Iwan Tirta dan membawa kekayaan budaya Indonesia menuju konteks modern. Bagi rumah mode ini, batik bukan sekadar sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya, tetapi sebuah bahasa yang harus terus dikembangkan sesuai zamannya.

Karena pada akhirnya, sesuatu yang bernilai tidak hanya dijaga. Ia juga harus diteruskan dengan cara yang membuatnya tetap hidup.