Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa ingin membeli pakaian hanya karena sedang ramai dikenakan banyak orang di media sosial? Tren seperti clean girl aesthetic, coquette, hingga old money memang menawarkan inspirasi menarik. Namun, tidak semua gaya yang terlihat bagus di layar akan terasa nyaman ketika dikenakan sendiri. Di sinilah pentingnya mengenali personal style atau gaya berpakaian pribadi.
Dilansir dari Vogue, menemukan gaya pribadi di tengah derasnya tren yang terus berganti dapat dimulai dengan memahami pakaian yang benar-benar disukai dan membuat diri merasa nyaman. Melalui pandangan para pelaku industri fashion, gaya personal tidak harus terpaku pada satu estetika tertentu. Seseorang bisa bereksperimen, memadukan berbagai inspirasi, dan tetap memiliki ciri khasnya sendiri.
Pada dasarnya, personal style merupakan cara seseorang mengekspresikan kepribadian melalui pakaian, warna, potongan, hingga aksesori yang dipilih. Ada yang menyukai tampilan minimalis dengan warna netral, sementara lainnya lebih senang mengenakan pakaian bermotif, warna mencolok, atau aksesori unik. Tidak ada satu gaya yang lebih benar daripada yang lain.
Sayangnya, derasnya arus tren terkadang membuat seseorang merasa harus terus memperbarui isi lemari agar tidak tertinggal. Padahal, berpakaian seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan, bukan sumber tekanan untuk selalu terlihat mengikuti perkembangan terbaru. Tidak perlu langsung menentukan satu estetika sebagai identitas berpakaian. Mulailah dengan memperhatikan pakaian yang paling sering dipakai dan membuat diri merasa percaya diri. Dari sana, perlahan akan terlihat pola yang mencerminkan selera pribadi.
4 Cara Menemukan Personal Style Tanpa Harus Mengikuti Semua Tren
Menemukan gaya pribadi tidak harus dimulai dengan berbelanja pakaian baru. Justru, lemari yang sudah dimiliki bisa menjadi tempat terbaik untuk mengenali preferensi fashion. Dengan sedikit eksplorasi, dapat menemukan kombinasi busana yang terasa lebih sesuai dengan karakter dan aktivitas sehari-hari.
1. Perhatikan Pakaian yang Paling Sering Dipakai
Coba amati beberapa pakaian yang paling sering diambil ketika bersiap pergi. Apakah lebih menyukai kaus sederhana, kemeja oversized, celana berpotongan lurus, atau rok dengan detail feminin? Pilihan yang terus berulang bisa menjadi petunjuk mengenai gaya yang paling nyaman dan disukai.
2. Kenali Warna dan Potongan Favorit
Warna memiliki peran penting dalam membentuk tampilan. Sebagian orang merasa lebih percaya diri mengenakan hitam, putih, dan beige, sedangkan lainnya menyukai warna cerah atau kombinasi yang berani. Perhatikan juga potongan pakaian yang membuat diri merasa nyaman ketika bergerak dan menjalani aktivitas.
3. Cari Inspirasi, Bukan untuk Ditiru Sepenuhnya
Media sosial dan majalah fashion bisa menjadi sumber inspirasi untuk mencoba kombinasi baru. Namun, tidak perlu menyalin seluruh penampilan seseorang. Ambil elemen yang disukai, seperti cara memadukan aksesori, teknik layering, atau perpaduan warna, lalu sesuaikan dengan pakaian yang sudah dimiliki.
4. Bereksperimen Tanpa Takut Salah
Sesekali, cobalah memadukan pakaian dengan cara berbeda. Kemeja formal bisa dikenakan bersama denim untuk tampilan santai, sementara gaun sederhana dapat dilengkapi sepatu atau aksesori yang lebih ekspresif. Bereksperimen membantu seseorang memahami kombinasi yang terasa paling sesuai.
Proses ini tidak harus berlangsung cepat. Selera berpakaian dapat berkembang seiring perubahan aktivitas, pengalaman, dan kebutuhan. Karena itu, tidak masalah jika gaya yang disukai sekarang berbeda dari beberapa tahun lalu. Hal terpenting adalah tetap memberi ruang bagi diri sendiri untuk mencoba dan menemukan apa yang terasa paling autentik.
Berhenti Mengejar Tren, Mulai Bangun Gaya Fashion yang Lebih Personal
Setelah mulai mengenali selera berpakaian, langkah berikutnya adalah menerapkannya dalam kebiasaan sehari-hari. Tidak harus langsung memiliki lemari dengan konsep tertentu. Cukup mulai dengan memilih pakaian yang nyaman, sesuai kebutuhan, dan bisa digunakan dalam berbagai kesempatan. Salah satu cara untuk melakukannya adalah berbelanja dengan lebih selektif. Sebelum membeli pakaian yang sedang viral, tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar disukai atau hanya menarik karena sering muncul di media sosial. Pertimbangkan juga apakah pakaian itu dapat dipadukan dengan koleksi yang sudah dimiliki.
Jika jawabannya tidak, melewatkan tren tersebut bukanlah hal yang perlu disesali. Uang yang tersedia bisa dialihkan untuk membeli pakaian yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan berpotensi digunakan dalam jangka panjang. Dengan begitu, lemari tidak dipenuhi barang yang hanya dikenakan satu atau dua kali. Selain itu, jangan terpaku pada anggapan bahwa seseorang harus memiliki satu gaya yang konsisten setiap saat. Personal style dapat bersifat fleksibel. Ada hari ketika seseorang ingin tampil kasual dengan sneakers dan denim, tetapi pada kesempatan lain ingin mengenakan pakaian yang lebih formal atau feminin. Semua pilihan tersebut tetap bisa menjadi bagian dari identitas fashion yang sama.
Rasa percaya diri juga berperan penting dalam menikmati gaya pribadi. Pakaian tidak harus selalu mengikuti standar tertentu agar terlihat menarik. Ketika seseorang memahami apa yang disukai dan merasa nyaman dengan pilihannya, penampilan dapat terasa lebih natural. Pada akhirnya, menemukan personal style merupakan proses mengenali diri sendiri, bukan perlombaan untuk menjadi orang paling modis. Tren boleh menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak harus menjadi aturan yang menentukan cara berpakaian. Jadi, daripada terus mengejar apa yang sedang populer, mulailah membangun gaya yang terasa paling dekat dengan diri sendiri.