Tips Membimbing Anak Remaja yang Mulai Jatuh Cinta Tanpa Membuatnya Takut

Eastara VigaskaDiterbitkan 13 Oktober 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Melihat anak yang mulai tertarik pada seseorang bisa menjadi pengalaman baru bagi orangtua. Pada masa remaja, ketertarikan romantis merupakan bagian dari proses mengenali perasaan, membangun hubungan sosial, dan memahami diri sendiri. Meski begitu, situasi ini terkadang membuat orangtua khawatir anak terlalu terbawa perasaan atau mengabaikan tanggung jawabnya.

Karena itu, membimbing anak di fase ini perlu dilakukan dengan tenang tanpa membuatnya merasa dihakimi.Hal pertama yang bisa dilakukan adalah menghindari reaksi berlebihan ketika anak bercerita tentang orang yang disukainya. Jangan langsung mengejek, melarang, atau menganggap perasaannya sebagai sesuatu yang tidak serius.

Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita agar ia merasa didengarkan dan tidak perlu menyembunyikan pengalamannya. Dilansir dari UNICEF, orangtua memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan remaja melalui komunikasi dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Orangtua bisa mengajukan pertanyaan sederhana, seperti apa yang membuat anak tertarik pada seseorang atau bagaimana perasaannya ketika bersama orang tersebut. Tujuannya bukan menginterogasi, melainkan membantu anak mengenali emosinya sendiri. 

Membimbing anak yang mulai jatuh cinta juga berarti membantunya memahami batasan dan mengambil keputusan secara bijak. Dengan komunikasi yang terbuka, orangtua dapat mendampingi anak tanpa membuatnya merasa kehilangan kepercayaan.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Anak Remaja Mulai Jatuh Cinta, Ini Cara Orangtua Membantunya Memahami Perasaan

Bantu anak menyeimbangkan perasaan dengan kegiatan dan tanggung jawab sehari-hari. (Foto/Dok: Pexels)

Saat mulai jatuh cinta, anak remaja mungkin mengalami berbagai perubahan emosi. Ia bisa merasa senang ketika bertemu seseorang, terus memikirkan orang yang disukainya, atau menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil. Situasi ini menjadi kesempatan bagi orangtua untuk membantu anak mengenali perasaannya tanpa menganggapnya berlebihan.

Dilansir dari UNICEF dalam Parenting of Adolescents Programming Guidance, dukungan dan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan remaja merupakan bagian penting dalam pengasuhan. Orangtua dapat menerapkannya dengan memberikan ruang bagi anak untuk bercerita sekaligus membantu memahami perubahan yang sedang dialami. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:

  1. Bantu mengenali emosi. Ajak anak membedakan rasa suka, kagum, dan keinginan untuk mendapatkan perhatian seseorang.
  2. Ajarkan cara mengelola perasaan. Bantu anak memahami bahwa perasaan senang maupun kecewa merupakan hal yang wajar dan bisa dihadapi secara bertahap.
  3. Jaga keseimbangan aktivitas. Ingatkan anak untuk tetap punya waktu belajar, beristirahat, dan melakukan hobi.
  4. Hindari meremehkan perasaannya. Jangan menganggap ketertarikan anak sebagai sesuatu yang sepele hanya karena usianya masih muda.

Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar memahami emosinya, menghargai perasaannya sendiri, dan menjalani masa remaja dengan lebih percaya diri.

3 dari 3 halaman

Tips Membimbing Anak Remaja yang Mulai Jatuh Cinta agar Tetap Aman dan Nyaman

Kenali perilaku yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan kesejahteraan emosional anak. (Foto/Dok: Pexels)

Selain membantu anak memahami perasaannya, orangtua juga perlu memastikan bahwa anak merasa aman ketika mulai menjalin kedekatan dengan seseorang. Pada masa remaja, anak masih belajar mengenali batasan pribadi dan memahami perilaku orang lain. Karena itu, penting untuk membangun komunikasi yang membuat anak nyaman bercerita ketika menghadapi situasi yang membingungkan. 

Dilansir dari American Academy of Pediatrics, orangtua berperan penting dalam membantu remaja mengenali hubungan yang sehat dan mencegah kekerasan dalam hubungan romantis. Perubahan perilaku dan rasa takut terhadap seseorang dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan orangtua:

  1. Perubahan perilaku yang mencolok. Anak tiba-tiba terlihat cemas, menarik diri, atau enggan menceritakan aktivitasnya.
  2. Tekanan emosional. Anak merasa takut menolak permintaan seseorang atau khawatir akan mendapat reaksi negatif.
  3. Pembatasan pergaulan. Anak mulai menjauh dari teman dan keluarga karena diminta oleh orang yang disukainya.
  4. Pelanggaran privasi. Anak mendapat tekanan untuk membagikan kata sandi, informasi pribadi, atau foto yang membuatnya tidak nyaman.

Jika menemukan tanda tersebut, ajak anak berbicara dengan tenang tanpa langsung menyalahkan atau menghakiminya. Dengarkan ceritanya dan bantu mencari solusi yang aman. Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa orangtua merupakan tempat yang aman untuk mencari bantuan ketika menghadapi masalah.