Sentuhan Batik Gedog hingga Sequin Biodegradable, Jadi Keistimewaan Koleksi SAPTO DJOJOKARTIKO Spring Summer 2027

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 21 Oktober 2026, 15:08 WIB

Fimela.com, Jakarta - Fashion tidak selalu harus berbicara melalui kata-kata. Terkadang, perasaan justru dapat disampaikan lewat siluet, permainan warna, tekstur, dan detail yang mengundang interpretasi personal. Gagasan inilah yang diangkat SAPTO DJOJOKARTIKO melalui koleksi Spring/Summer 2027 bertajuk A Language Beyond Words, yang mengeksplorasi hubungan antara emosi dan ekspresi melalui pendekatan artistik yang penuh karakter.

Diperkenalkan pada 20 Oktober 2026, koleksi ini menampilkan perspektif desain yang terinspirasi oleh gerakan seni Abstract Expressionism. Alih-alih menggambarkan emosi secara harfiah, rumah mode ini menerjemahkannya melalui perpaduan struktur dan fluiditas, komposisi tidak beraturan, serta eksplorasi material yang menghasilkan karakter visual tak terduga.

Presentasi koleksi SAPTO DJOJOKARTIKO kali ini turut memperkuat konsep tersebut melalui lingkungan serba pink. Warna yang selama ini identik dengan romantisme dan feminitas dihadirkan sebagai pengalaman sensoris yang lebih luas. Permainan cahaya, tekstur, pantulan, dan aroma menciptakan atmosfer yang mengajak audiens merasakan koleksi melalui lebih dari sekadar penglihatan.

Dari sisi siluet, koleksi Spring/Summer 2027 memperlihatkan kontras yang menarik. Oversized tailoring dan bentuk memanjang berpotongan I-line berpadu dengan konstruksi fitted, siluet A-line, serta peplum arsitektural. Volume balloon dan garis asimetris kemudian menghadirkan dinamika yang membuat setiap tampilan terasa ekspresif dan tidak monoton.

Palet warnanya pun dirancang untuk menciptakan suasana, bukan sekadar menyampaikan makna tertentu. Nuansa lembut seperti Oyster, Feta, dan Bonbon berpadu dengan Nero dan Lava yang lebih gelap. Sementara itu, merah Sriracha, Merlot, Coral, hijau Herb, Basil, Olive, serta biru Bijou dan Slate memperkaya karakter visual koleksi.

koleksi Spring/Summer 2027 memperlihatkan kontras yang menarik dan beragam. / Foto dok: SAPTO DJOJOKARTIKO.
2 dari 3 halaman

Eksplorasi Tekstil, Batik Gedog, dan Seni Kerajinan

Setiap detail melibatkan proses pengerjaan yang intensif di atelier SAPTO DJOJOKARTIKO. Pengembangan tekstil, pembuatan pola, bordir, hingga penyelesaian akhir dilakukan secara internal agar material dan siluet dapat berkembang sebagai satu kesatuan desain. / Foto dok: SAPTO DJOJOKARTIKO.

Salah satu daya tarik utama koleksi ini terletak pada eksplorasi material dan pengembangan tekstil yang menggabungkan bahasa visual kontemporer dengan referensi tradisi Indonesia. Organza, sutra, katun, tulle, dan lyocell menghadirkan karakter berbeda melalui transparansi, struktur, serta pergerakan material.

Koleksi ini juga memperkenalkan motif Isen sebagai bagian dari pengembangan. Terinspirasi oleh referensi grafis, bentuk organik, tradisi Batik Gedog dari Tuban, serta bunga kenanga atau ylang-ylang, motif tersebut diolah melalui pengembangan pola, bordir, dan teknik permukaan yang lebih abstrak.

Motif kotak-kotak yang biasanya mudah dikenali turut mengalami transformasi menjadi komposisi yang tidak terduga. Bentuk floral pun sengaja didistorsi sehingga menjauh dari proporsi aslinya. Pendekatan ini membuat elemen yang familiar terasa baru, sekaligus memperkuat gagasan tentang emosi yang tidak selalu dapat dijelaskan secara pasti.

Detail bulu organza menjadi salah satu perlakuan material yang menonjol. Disusun berlapis dalam variasi warna, elemen ini menghadirkan kesan dinamis yang mengingatkan pada gestur ekspresif, termasuk eksplorasi visual Jackson Pollock. Sementara itu, embellishment bunga kenanga menggunakan gradasi warna menyerupai efek cat air, dengan interpretasi bentuk yang tidak lagi terikat pada wujud alami bunga.

Di balik tampilannya, setiap detail melibatkan proses pengerjaan yang intensif di atelier SAPTO DJOJOKARTIKO. Pengembangan tekstil, pembuatan pola, bordir, hingga penyelesaian akhir dilakukan secara internal agar material dan siluet dapat berkembang sebagai satu kesatuan desain.

Teknik kerancang tradisional Indonesia, misalnya, diaplikasikan di atas bordir bunga kenanga untuk menciptakan lapisan transparan. Permukaan berlubang tersebut memperlihatkan bordir di bawahnya, dilengkapi sequin yang ditempatkan satu per satu dengan presisi.

Eksperimen lain menghadirkan permukaan yang menyerupai wol melalui susunan benang yang dijahit rapat, serta efek denim yang dibangun menggunakan teknik trompe-l’œil. Terinspirasi Batik Gedog, tim atelier juga menarik benang kain secara manual dari arah berlawanan, mengumpulkannya menjadi serat individual, lalu merangkainya menjadi material bertekstur baru. Warisan tekstil Indonesia pun memperoleh kemungkinan ekspresi yang berbeda tanpa kehilangan keterhubungannya dengan sumber inspirasi.

Terinspirasi oleh referensi grafis, bentuk organik, tradisi Batik Gedog dari Tuban, serta bunga kenanga atau ylang-ylang, motif tersebut diolah melalui pengembangan pola, bordir, dan teknik permukaan yang lebih abstrak. / Foto dok: SAPTO DJOJOKARTIKO.
3 dari 3 halaman

Inovasi Material dan Aksesori dengan Karakter Artistik

Salah satu daya tarik utama koleksi ini terletak pada eksplorasi material dan pengembangan tekstil dengan bahasa visual kontemporer. / Foto dok: SAPTO DJOJOKARTIKO.

Eksplorasi SAPTO DJOJOKARTIKO Spring/Summer 2027 tidak berhenti pada busana. Koleksi ini turut memperkenalkan pengembangan bio-sequins biodegradable sebagai alternatif terhadap dekorasi konvensional berbasis plastik. Materialnya dikembangkan menggunakan bahan berbasis hayati, termasuk alginat dan agar sebagai pengikat, serta serat daun nanas dan kayu jati sebagai bahan pengisi.

Setiap sequin memiliki variasi bentuk, tekstur, dan transparansi yang membuat permukaannya tidak sepenuhnya seragam. Alih-alih mengejar keseragaman sempurna, perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari karakter desain. Inovasi ini memperlihatkan bagaimana eksperimen material dapat mendukung gagasan artistik sekaligus membuka alternatif dalam pengembangan elemen dekoratif fashion.

Pada lini aksesori, inspirasi bunga lily of the valley dan bird of paradise diterjemahkan menjadi bros serta anting dengan bentuk dan warna yang beragam. Referensi botani tersebut tidak direproduksi secara realistis, melainkan diolah menjadi interpretasi abstrak yang tetap menyisakan jejak bentuk aslinya.

Tas Lora kembali hadir dengan konstruksi lebih ringan dan detail bulu organza, termasuk permainan warna gradasi. Motif bordir Isen juga diterapkan pada sejumlah tas dan busana untuk menciptakan kesinambungan visual antara koleksi ready-to-wear dan aksesori.

Untuk alas kaki, koleksi ini menghadirkan kitten heels dan block heels dalam kombinasi dua hingga tiga warna, dengan perpaduan material serta tekstur yang beragam. Kontras warna dan permukaan memperluas eksplorasi desain hingga ke detail pelengkap penampilan.

Melalui Spring/Summer 2027, SAPTO DJOJOKARTIKO menghadirkan perspektif bahwa fashion dapat menjadi medium untuk merasakan sesuatu sebelum mampu mengungkapkannya melalui kata-kata. Abstraksi, eksplorasi tekstil, keterampilan tangan, dan inovasi material membentuk sebuah koleksi yang tidak memaksakan satu interpretasi kepada audiens.

Justru dalam ruang antara emosi dan bahasa itulah setiap karya menemukan maknanya. Sebuah pendekatan yang menunjukkan bahwa kekuatan fashion bukan hanya terletak pada bagaimana busana terlihat, tetapi juga pada pengalaman, perasaan, dan imajinasi yang dibangkitkannya.

Untuk alas kaki, koleksi ini menghadirkan kitten heels dan block heels dalam kombinasi dua hingga tiga warna, dengan perpaduan material serta tekstur yang beragam. Kontras warna dan permukaan memperluas eksplorasi desain hingga ke detail pelengkap penampilan. / Foto dok: SAPTO DJOJOKARTIKO.