Mengenal Parallel Parenting, Cara Mengasuh Anak setelah Berpisah

Eastara VigaskaDiterbitkan 23 Oktober 2026, 13:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Mengasuh anak setelah perpisahan dapat menghadirkan tantangan tersendiri, terutama ketika kedua orangtua masih mengalami konflik atau kesulitan berkomunikasi. Menemukan cara mengasuh anak yang tepat menjadi penting agar kebutuhan emosional dan keseharian anak tetap terpenuhi meskipun kondisi keluarga telah berubah.

Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah parallel parenting. Dilansir dari Cleveland Clinic, parallel parenting merupakan pola pengasuhan ketika kedua orangtua tetap terlibat dalam kehidupan anak, tetapi membatasi komunikasi untuk meminimalkan konflik. Pendekatan ini memungkinkan masing-masing orangtua mengurus kebutuhan sehari-hari anak selama waktu pengasuhannya.

Berbeda dengan co-parenting yang mengutamakan kerja sama dan komunikasi rutin, parallel parenting memberikan ruang bagi setiap orangtua untuk menjalankan perannya secara lebih mandiri. Pendekatan ini juga dapat menjadi cara mengasuh anak dengan pembagian tanggung jawab yang jelas, termasuk terkait jadwal pengasuhan, pendidikan, dan kesehatan anak.

Tujuan utama parallel parenting bukan menjauhkan anak dari salah satu orangtua, melainkan mengurangi keterlibatan anak dalam perselisihan orang dewasa. Dengan batasan komunikasi yang terstruktur, pendekatan ini dapat membantu menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih tenang dan menjaga kebutuhan anak tetap menjadi prioritas.

2 dari 3 halaman

4 Cara Menerapkan Parallel Parenting agar Pengasuhan Lebih Tenang

Pembagian tanggung jawab dan batasan yang jelas dapat membantu orangtua mengurangi perselisihan serta menjaga kenyamanan anak. (Foto/Dok: Pexels)

Menerapkan parallel parenting membutuhkan pengaturan yang jelas agar kedua orangtua dapat menjalankan tanggung jawab masing-masing tanpa memperbesar konflik. Fokus utamanya adalah menciptakan rutinitas yang teratur dan memastikan anak tidak terjebak dalam perselisihan orangtuanya. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.

1. Buat jadwal pengasuhan yang jelas

Tentukan waktu anak bersama masing-masing orangtua, termasuk jadwal penjemputan, hari libur, dan kegiatan sekolah. Kesepakatan tertulis dapat membantu mengurangi kesalahpahaman.

2. Batasi komunikasi pada kebutuhan anak

Gunakan pesan tertulis atau email untuk membahas informasi penting, seperti kesehatan, pendidikan, dan perubahan jadwal. Hindari pembicaraan yang dapat memicu konflik di luar urusan pengasuhan.

3. Jangan menjadikan anak sebagai perantara.

Hindari meminta anak menyampaikan pesan atau memilih pihak ketika kedua orang tuanya berselisih.

4. Jaga rutinitas anak

Usahakan kebutuhan dasar, waktu istirahat, sekolah, dan kegiatan sehari-hari tetap terpenuhi selama anak berada di masing-masing rumah.

Dilansir dari Family Assist, komunikasi yang terarah dan pengaturan pengasuhan yang jelas dapat membantu orangtua mengelola tanggung jawab setelah berpisah. Namun, setiap kesepakatan tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan emosional dan keselamatan anak. Jika terdapat konflik serius atau kekhawatiran mengenai keamanan, bantuan profesional dapat dipertimbangkan.

3 dari 3 halaman

Manfaat Parallel Parenting untuk Menjaga Ketenangan Anak

Kebutuhan emosional anak, pembagian tanggung jawab, dan faktor keselamatan menjadi pertimbangan penting dalam menjalankan pola pengasuhan ini. (Foto/Dok: Pexels)

Parallel parenting dapat membantu orangtua menjalankan tanggung jawab pengasuhan dengan batasan komunikasi yang lebih jelas. Ketika interaksi yang memicu perselisihan dapat dikurangi, anak memiliki kesempatan untuk menjalani keseharian tanpa terus terpapar konflik orang dewasa.

Rutinitas yang teratur juga dapat membantu anak menyesuaikan diri dengan perubahan dalam kehidupan keluarga. Dilansir dari HealthyChildren.org, konflik antara orangtua dapat memengaruhi kesejahteraan emosional anak. Karena itu, menjaga anak agar tidak terlibat dalam pertengkaran dan memastikan kebutuhan emosionalnya tetap diperhatikan merupakan hal penting setelah perpisahan.

Meski demikian, parallel parenting tidak selalu menjadi solusi yang tepat untuk setiap keluarga. Kedua orangtua perlu memiliki pembagian tanggung jawab yang jelas, terutama mengenai pendidikan, kesehatan, jadwal pengasuhan, dan pengambilan keputusan penting. Pengaturan tersebut juga perlu disesuaikan dengan usia serta kebutuhan anak.

Apabila terdapat riwayat kekerasan, ancaman, atau risiko keselamatan, pengaturan pengasuhan perlu mempertimbangkan perlindungan bagi anak dan orangtua dengan bantuan profesional yang sesuai. Pada akhirnya, keberhasilan parallel parenting tidak ditentukan oleh seberapa sedikit orangtua berkomunikasi, tetapi oleh kemampuan mereka menjaga kebutuhan dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas.