Hers Signal Hadir di Transjakarta, Keychain Pintar untuk Lapor Kekerasan Seksual

Ayu SrikhandiDiterbitkan 04 November 2026, 16:10 WIB

Fimela.com, Jakarta - Upaya menghadirkan transportasi publik yang aman dan inklusif kini mendapat dukungan inovasi teknologi melalui Hers Signal. Inisiatif sosial ini diperkenalkan di ekosistem Transjakarta sebagai keychain pintar yang memungkinkan pengguna mengirimkan sinyal darurat secara mandiri ketika membutuhkan bantuan, khususnya dalam situasi kekerasan seksual.

Hers Signal dikembangkan bersama jaringan inovasi digital H+ dan mendapat dukungan Silang ID, komunitas teman tuli yang turut membantu riset produk. Kehadirannya dilatarbelakangi kebutuhan akan sarana pelaporan darurat yang mudah diakses oleh seluruh pengguna transportasi umum, termasuk teman tuli dan penyandang disabilitas nonverbal.

2 dari 3 halaman

Teknologi yang Terhubung Langsung ke Operasional Bus

Hers Signal

Urgensi pengembangan Hers Signal turut merujuk pada catatan Komnas Perempuan yang mencatat 24.472 kasus kekerasan berbasis gender sepanjang 2025. Sementara itu, riset Safe Ride Jakarta melalui Bullyid menunjukkan bahwa 70% perempuan pernah mengalami gangguan atau pelecehan seksual saat menggunakan transportasi umum.

Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya fasilitas pelaporan darurat yang inklusif. Terlebih, keterbatasan sarana komunikasi dapat menjadi kendala bagi teman tuli dan penyandang disabilitas nonverbal ketika perlu menyampaikan situasi darurat. Hers Signal dirancang sebagai solusi perangkat keras dan perangkat lunak mandiri yang menghubungkan sinyal pengguna dengan sistem operasional armada, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) mengenai pencegahan berbasis teknologi dan masyarakat.

Dari sisi teknologi, Hers Signal menggunakan perangkat Internet of Things (IoT) berbentuk gantungan pintar yang dilengkapi modul BLE (Bluetooth Low Energy) dan sensor darurat. Ketika tombol diaktifkan, perangkat akan mengirimkan sinyal nirkabel ke sistem pengolah data awan atau cloud incident service yang terhubung dengan pengontrol audio bus Transjakarta.

Dalam hitungan detik, sistem akan memicu pengumuman kewaspadaan otomatis di dalam kabin tanpa menimbulkan kepanikan. Notifikasi mengenai posisi bus juga akan muncul secara presisi di pusat kendali dan halte terdekat. Pada tahap awal uji coba teknis, perangkat ini diterapkan di Koridor 1 rute Jakarta Kota–Blok M dan Koridor 9 rute Pluit–Pinang Ranti, dengan prioritas penggunaan bagi teman tuli dan kelompok nonverbal.

3 dari 3 halaman

Kolaborasi untuk Membangun Transportasi yang Lebih Inklusif

Pengembangan Hers Signal melibatkan tim kapabilitas digital H+ yang menangani integrasi teknis secara end-to-end. Proses tersebut mencakup perancangan perangkat keras, konektivitas IoT, hingga integrasi API untuk pemutaran audio darurat di dalam armada Transjakarta.

Prima Yudha Delano Hernaz selaku Tech Advisor & Project Lead menjelaskan bahwa proyek ini mengedepankan pendekatan inovasi sosial. Berlandaskan filosofi Sei-katsu-sha yang dipopulerkan oleh Hakuhodo serta prinsip Value Design, Hers Signal dikembangkan dengan komitmen menghadirkan solusi yang berdampak dan memberdayakan manusia maupun masyarakat.

"Keamanan di ruang publik membutuhkan perangkat pendukung yang tidak hanya mudah diakses dan digunakan, tetapi juga reliable secara teknis. Melalui proyek kolaboratif Hers Signal, kami ingin menghadirkan infrastruktur perlindungan yang nyata dan inklusif bagi seluruh pengguna moda transportasi publik," terangnya.

Teman tuli juga dilibatkan sebagai kelompok yang menjadi prioritas dalam inisiatif ini. Annisa Emery, seorang teman tuli, menyampaikan pandangannya mengenai manfaat Hers Signal sebagai alternatif untuk memberikan tanda saat seseorang membutuhkan pertolongan, terutama ketika mengalami pelecehan seksual di transportasi publik.

"Kehadiran Hers Signal merupakan langkah positif karena memberikan cara lain untuk menyampaikan tanda ketika seseorang membutuhkan bantuan, khususnya terkait pelecehan seksual di transportasi publik. Bagi teman tuli, inisiatif seperti ini juga menjadi pengingat bahwa akses terhadap keamanan perlu mempertimbangkan kebutuhan komunikasi yang beragam. Saya berharap semakin banyak orang mengenal Hers Signal dan memahami artinya, sehingga sinyal yang diberikan dapat direspons dengan tepat,” ujar Annisa Emery.

Implementasi bertahap Hers Signal di Koridor 1 dan Koridor 9 diharapkan menjadi model acuan bagi pengoperasian sistem keselamatan pintar yang ramah disabilitas di jaringan transportasi perkotaan yang lebih luas. Inisiatif ini menandai upaya menggeser penanganan keselamatan publik dari pendekatan pasif menuju pemanfaatan teknologi yang memungkinkan respons lebih aktif.