Sukses

Entertainment

Celeb Bio Rizal Mantovani

Fimela.com, Jakarta Rizal Mantovani termasuk sutradara yang sukses. Namanya dikenal karena menyutradarai beberapa video klip dan layar lebar di Tanah Air. Sejak 1992 hingga 2007 saja, ia sudah mengerjakan 200 video musik dan beberapa iklan televisi, serta menyutradarai 5 buah film, Kuldesak, Jelangkung, Jatuh Cinta Lagi, Kuntilanak, Kuntilanak 2.

Rizal lahir di Jakarta, 12 Agustus 1967. Putra pasangan Mohammad Saleh dan Widji Andarini sering hidup berpindah-pindah. Hal itu bisa dimaklumi karena ayahnya seorang diplomat. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Trisakti, Jakarta.

Rizal Mantovani sempat bergabung bersama Richard Buntario dalam sebuah perusahaan periklanan. Ia juga sempat bergabung dengan Broadcast Design Indonesia (BDI) yang didirikan oleh Richard.

Sutradara

Rizal keluar dari BDI dan mendirikan Avant Garde Productions bersama rekan-rekannya pada 1996. Mira Lesmana menawarinya untuk menyutradarai film "Kuldesak" bersama Mira, Riri Riza dan Nan Triveni Achnas.

"Baru di tahun 1996, saya diajak bikin film sama Riri (Riza) dan Mira (Lesmana), Kuldesak yang rilis tahun 1998. Jadi film ini disutradarai empat orang karena terdiri dari empat bagian. Satunya lagi sama Nan T. Achnas. Saya diyakini kalo saya bisa, karena mereka tahu CV saya meski saya sempat kurang pede. Setelah itu bikin Jelangkung di tahun 2001 bareng Jose dan ternyata sukses. Terus pertama kali jadi sutradara sendiri filmnya KD, Jatuh Cinta Lagi di tahun 2006," papar Rizal.

Pamor Melejit

Pamor Rizal baru melejit setelah menyutradarai film Jelangkung  bersama dengan Jose Poernomo. Jelangkung menjadi box office di tengah kepungan film-film Hollywood yang merajai seluruh bioskop di Indonesia. Jelangkung jadi salah satu pelopor bangkitnya industri perfilman nasional sampai dengan saat ini.

Pada 2017 ini ada dua film terbaru Rizal yang telah dirilis, yaitu Gerbang Neraka dan Chrisye. Film yang dibintangi Reza Rahadian, Julie Estelle dan Dwi Sasono itu termasuk unik, diantaranya karena terinspirasi dari peninggalan sejarah yang benar-benar ada lalu dipadukan dengan unsur horor dan petualangan.

Harapan

Ke depan, Rizal Mantovani berharap genre fantasi dalam film semakin diterima masyarakat. Jika disukai produser, maka semakin sering diprodukai. Namun, ia menilai kendala lebih ke cerita yang sesuai, karena harus tetap bernuansa lokal.

"Walaupun gaya kamera atau lighting kayak luar negeri, tapi cerita harus tetap lokal, Jadi mencari cerita yang pas nggak gampang tapi saya yakin pelan-pelan kita pasti bisa," tandas Rizal Mantovani.

What's On Fimela
Loading