Sukses

Entertainment

Tak Kunjung Menang Oscar, Leonardo DiCaprio Jadi Lelucon di Internet

Next

Oscars, 2014

Majalah Vanity Fair online merilis sebuah tulisan yang sampai sekarang sudah di-twit oleh 500 orang lebih dan di-share sebanyak 45.000 kali di facebook. Tulisan itu mencoba menganalisa alasan aktor seterkenal, seberbakat, setampan Leonardo DiCaprio tak kunjung membawa pulang Oscar. Bahkan setelah rentang karier di film yang panjang. Setelah peran-peran di film yang membuatnya jadi pusat perhatian.

The Wolf of Wall Street adalah film yang membuat Leonardo dinominasikan di kategori Best Actor in Leading Role di Oscars, untuk kesekian kalinya. Leo sudah dinominasikan 5 kali untuk Oscar hingga tahun ini. Ia pertama kali mendapat nominasi Oscar untuk Best Supporting Actor lewat film What’s Eating Gilbert Grape di tahun 1994. Berturut-turut ia dinominasikan untuk kategori Best Actor in Leading Role di The Aviator (2005), Blood Diamond (2007), dan tentu saja The Wolf of Wall Street (2014).

Dedikasinya untuk seni peran kurang apa coba?

Next

 

oscars 2014

Kembali ke artikel di Vanity Fair. Penulis artikel berjudul “Why Leonardo DiCaprio Didn’t Win the Oscar” itu, James S. Murphy mengulas bahwa Leonardo sudah bergabung dengan aktor-aktor lainnya di Hollywood yang punya karier bagus dan tampan, mendapatkan peran-peran yang bagus di film, namun tak pernah menang, seperti Brad Pitt, Tom Cruisem Gary Oldman, atau Samuel L. Jackson. Alasannya, menurut James, karena sosok laki-laki (aktor) seperti Leonardo, Brad, Tom adalah sosok laki-laki yang terlalu keren (cool) sehingga peran-peran bagus yang mereka bawakan di film bahkan tak mampu membuat simpati penonton atau dewan juri Oscar.

Karena aktor-aktor seperti mereka, ada dalam film untuk jadi pusat perhatian. Untuk dilihat. Untuk dipuja. Mereka adalah aktor utama, sekaligus pemanis layar. Orang tak peduli dengan kisah hidup Si Karakter dalam film. Sesimpatik apapun hidup karakter itu, aktor yang memerankannya tak mampu membuat jatuh hati. Karena mereka terlalu manis.

Next

 

oscars 2014

Antitesis kemudian dibuat dengan memasukan aktor Tom Hanks ke dalam variabel pembanding. Tom adalah salah satu aktor di kategori menang Oscar dua kali, dan meski tampan dan keren (cool), ia berhasil membuat penonton (juga juri Oscar) melupakan bahwa dirinya setampan dan sekeren itu. Rasa simpatik tumbuh pada karakter yang mereka bawakan dan menjadikan kisah dalam film itu sesuatu yang relevan, dengan perasaan yang dipahami oleh penonton. Bila aktor bisa menghadirkan perasaan ‘berbagi’ itu dan membuat penonton lupa bahwa bukan dirinyalah yang harus diperhatikan dalam film tersebut, melainkan karakter yang mereka perankan – maka nominasi Oscar, bahkan menang Oscar akan sangat mudah.

Nampaknya, Leonardo belum bisa seperti itu. Ia bisa berakting. Ia bisa berolah peran. Tapi, orang masih hadir untuk melihat Leo yang keren. Leo belum bisa meluruhkan ke-keren-annya barang sekejap. Menggelitik, tapi mulai masuk akal sih. James S. Murphy menambahkan, Leo hanya bisa menang Oscar saat ia tidak keren lagi.

Next

 

oscars 2014

Dengan mencontohkan pemenang Oscar untuk Best Actor in Leading Role tahun ini, Matthew McConaughey. Matthew menang lewat perannya yang gemilang di Dallas Buyers Club. Apakah Matthew tidak keren lagi, sehingga Oscar bisa mampir ke tangannya?

Well, mungkin ia memang tidak keren lagi (tapi masih tampan sekali). Dalam arti, era kerennya sudah lewat. Ia sudah sempat menjadi Sexiest Man Alive beberapa tahun lalu dan jadi langganan untuk film komedi romantis. Wajah tampan dan tubuhnya yang bugar dipuja perempuan di seluruh dunia. Dan nampaknya, Matthew sendiri sadar bahwa ia bisa serius di film dengan bakatnya. Dan di satu titik, membuang ketampanannya (demi peran).

Next

 

leonardo dicaprio

Tahun ini, dari semua nominasi Best Actor in Leading Role di Oscar, pesaing terkuat untuk bisa menang adalah Chiwetel Ejiofor (12 Years a Slave) dan Matthew. Tapi Matthew menang telak, karena ia sangat-sangat tidak keren saat menjadi penderita HIV/AIDS di film itu. Ia kurus, jelek dan mengerikan. Tapi, ia bisa membangkitkan simpati penonton dan membuat juri Oscar menemukan perasaan yang relevan, yang dibagi antara penonton dan mereka sebagai juri. Semua orang lupa bahwa itu adalah Matthew. Sesuatu yang penonton belum temukan di penampilan Chiwetel.

Ulasan James S. Murphy itu lama-kelamaan makin relevan. Mungkin saat Leonardo makin tua dan tidak sekeren sekarang, Oscar akhirnya bisa mampir ke tangannya. Atau Oscar bisa akhirnya jatuh ke tangannya saat di salah satu filmnya di masa depan, ia rela untuk tidak terlihat cool (keren) di layar perak.

Next

 

oscars 2014

Internet tidak kasihan sama sekali dengan nasib Leo. Setelah ia akhirnya melewatkan lagi piala Oscar, banyak lelucon dalam bentuk ‘meme’ beredar di internet ‘merayakan’ kesedihan Leo. Meme-meme yang kemudian dibagikan secara viral itu, diambil dari foto-foto Leo selama hadir di acara Oscar, sampai foto-foto Leo di film-filmnya yang lalu. Salah satunya kami tampilkan di sini. Bahkan, twitter pun kena imbasnya. Tagar #poorleo sempat menjadi trending topic di lini masa.

Kita belum tahu sampai kapan perjuangan Leo untuk mendapatkan Oscar akan berlangsung. Bila teori yang diulas di atas benar maka Oscar akan jadi milik Leo saat kita lupa bahwa dirinya adalah Leo yang semakin tampan saat makin berumur itu. Leo harus rela terlihat tidak keren, atau membuang ‘keren’nya secara total agar bisa menang Oscar. Mari kita tunggu dan buktikan bersama.

Loading