Sukses

Fashion

Dior Rancang Busana Couture Paling Tepat untuk Gaya Hidup Modern

Fimela.com, Jakarta Busana pembuka dan penutup dari fashion show Dior di Paris Haute Couture 2019 menjelaskan seluruh koleksi dari Maria Grazia-Chirui. Maria memilih Peplos modifikasi yang menjadi pakaian wanita Yunani Kuno bertuliskan "are clothes modern?" sebagai pembuka serta gaun berupa gedung dengan arsitektur detailnya sebagai busana penutupnya.

Sebuah pernyataan dan kutipan "are clothes modern?" dari esai milik arsitek Austria-Amerika Bernard Rudofsky serta patung caryatid berbentuk perempuan yang biasa ditemui sebagai pengganti pilar bangunan menginspirasi Dior dalam koleksi Autumn-Winter 2019-2020 Haute Couture Show di Paris, Prancis. Kedua hal tersebut dijadikan kekuatan arsitektur sebagai fondasi dalam merancang busana haute-couture yang paling pas untuk menjalani gaya hidup modern.

Chiuri menggabungkan antara fashion couture dengan arsitektur dalam busana yang hampir semuanya berwarna hitam dari dua disiplin ilmu yang saling berkaitan. Ia memperlakukan busana seperti sebuah desain rancang gedung yang memiliki konstruksi, kali ini dalam siluet minimalis namun memiliki detail yang kompleks.

Hal tersebut sesuai dengan prinsip arsitektur modern yang menomorsatukan fungsi serta kenyamanan pemakai. Seperti fondasi yang juga dimaknai dalam pemilihan alas kaki yang didesain oleh Rudofsky berupa sandal bertali dengan aksen jala yang juga hadir dalam sock shoes.

Potongan Off-the-Shoulder

Dalam koleksi gaunnya, Chiuri juga mendominasi potongan one shoulder yang memang banyak digemari para pecinta fashion. Selain hitam, ia juga memiliki beberapa gaun berwarna langka seperti nuansa maroon dan silver dalam potongan off-the-shoulder.

Selain pada alas kaki, permainan jaring juga terlihat mendominasi. Bukan hanya berfungsi sebagai fascinator yang dimodifikasi, melainkan menjadi bagian utama dalam sebuah busana.

Jaring tetap menonjolkan keseksian dalam balutan busana serba-hitam yang mewah dan klasik. Yang menurut Chiuri warna hitam merupakan tuntutan kesempurnaan.

 

Skenografi Mencekam dan Misterius

Dramatisasi presentasi juga disempurnakan dengan sentuhan seniman feminis Penny Slinger yang mengubah kantor Dior menjadi lansekap dengan skenografi hitam-putih. Ia menciptakan kebebasan alam di hutam dalam nuansa gothic lengkap dengan pohon besar serta langit-langit yang disulap menjadi malam kelam.

Skenografi misterius tersebut dihuni oleh mahluk feminin yang selalu memikul beratnya beban dunia seperti iterasi caryatids dalam polesan modern. Sejauh ini, skenografi milik Penny Slinger menjadi setting terindah dan mencekam di Paris Couture Week 2019.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Dior Men Hadirkan Koleksi Musim Panas yang Terinspirasi dari Perjalanan Waktu
Artikel Selanjutnya
Facial Mist Terbaru dengan Sensasi Dingin dan Menyegarkan