Sukses

Fashion

Geliat Kemeriahan Fashion Tendance 2011

Vemale.com - Fashion Tendance kembali digelar. Menapaki tahun 2010 ini, Fashion Tendance kali ini terasa begitu istimewa karena dirayakan bersamaan dengan ulang tahun APPMI yang ke-17, yang digelar keesokan harinya. Dengan tema "Interwine", Fashion Tendance kali ini diawali oleh puluhan koleksi para anggota APPMI, mulai dari Muslim Wear, Ready to Wear hingga Evening wear.
Berlangsung di Hotel Mulia Jakarta 22 November 2010, show yang digelar sejak pukul 15.00 ini dimulai dengan menampilkan koleksi Muslim Wear. Acara kemudian berlanjut dengan menampilkan koleksi Ready To Wear selama satu jam berikutnya, dimulai dengan koleksi Anastasia dengan tajuk "heart". Koleksi ini terinspirasi dari bentuk, detail dan warna jantung yang dihadirkan dalam masculine look, memberi definisi yang lebih luas dari arti kata feminin. Etty Bachetta menghadirkan ketidakteraturan berpadu dengan gaya klasik-modern, dalam tema "tessitura Bali". Dalam koleksi ini Bachetta memadukan gaya futuristik dengan detail bentuk usang, memadukan tenun Bali yang ada di pakaian hingga aksesoris, memanfaatkan kilau material bahan yang membuatnya terlihat begitu mewah. Karya berikutnya, Fank Fank memilih batik pesisir (Cirebon) dalam koleksi bertajuk "Fish Story". Motif ikan dengan paduan tumbuhan air, udang serta motif lain menjadi pesona utama koleksi ini. Modifikasi batik disesuaikan dengan warna, jenis bahan, detail sulam, batu perhiasan dan crochet full color yang ringan. Sedangkan material yang digunakan adalah katun, shantung silk, denim dan baby canvas, yang sudah pasti so youthfull!. Jika Handy Hantoro hadir dalam pesona koleksinya bertajuk "Tradition Passion" yang mengemas apik tenun ikat dalam kombinasi bahan polos, chiffon dan row silk, lain lagi dengan Ian Adrian yang mengemas keindahan unsur budaya Kutai dalam koleksi bertajuk "Raajkumaarii Kutai". Sementara itu, Jazz Pasay mengambil inspirasi keunikan Tobarani yaitu baju perisai suku Toraja sebagai ide garis rancangannya. Tidak berhenti di situ, gaya aneka pakaian Timur lainnya turut mempengaruhi, mengemas gaya etnik ini ke arah yang lebih modern. Selanjutnya, koleksi Poppy Dharsono menjadi penutup sempurna pagelaran dengan koleksi Ready to Wear. Dalam koleksinya bertajuk "Harmony" yang menggambarkan wanita periang, percaya diri dan optimis, Poppy Dharsono menggabungkan klasik modern dengan gaya etnik melalui kain lurik dan batik.
Malam harinya gelaran show kembali dimulai dengan koleksi Evening Wear, yang diawali oleh Agnes Budhisurya dengan koleksinya yang bertema "Langgeng Dahayu". Koleksi ini menggambarkan kecantikan wanita nan abadi, yang diekspresikan dalam siluet serta irama kain yang indah, seperti print lotus flowing leaves salah satunya. Alisa Listiawaty hadir dalam tema "Enchanted", yang mengemas konsep masa depan dengan desain menggunakan kain taffeta, silk siffon dan hand painting. Tema etnik tiada pernah habis untuk digali, paling tidak itulah yang coba diangkat oleh Defrico Audy dalam "Neo Tribalism". Dalam koleksinya ini Defrico Audy menggabungkan dua suku primitif Tibet dan Bali, dengan mengambil cara berpakaian para penduduk, seperti suku Tibet yang menggunakan baju secara bertumpuk, kemudian dilakukan mix and match dengan tenun Ende dari Ubud, Bali. Selanjutnya, Lailawati Nahrawi yang begitu terpesona akan metamorfosis kupu–kupu, melahirkan koleksi "Metamorphose" dengan konsep desain klasik yang berkembang menjadi bentuk desain dan warna yang beragam. Keberagaman ini dihadirkan dalam bahan organza, tafetta, chiffon, dan juga lace, serta dengan memadukan warna kuning, emas, hijau dan terracotta yang memberikan efek keindahan luar biasa. Lain lagi dengan Hengki Kawilarang dan Marga Alam yang mengemas romantisme menjadi busana yang indah. Hengki hadir dengan tema "Noir d`amor" yang mengungkap sisi gelap romantisme percintaan. Terinspirasi dari "Broken Heart Women", terwujudlah gaun koktail dan evening gown bernuansa warna gelap, hitam dan midnight blue. Koleksi Hengky hadir dalam serangkaian busana yang sophisticated, elegan dan memiliki detail yang unik, cantik dan kuat. Gaya Parisian modern Eropa yang dinamis dan romantis muncul dalam aneka korset, dress, capucong, coat dan stocking renda. Koleksi Marga Alam jadi penutup pagelaran Evening Wear kali ini. Keindahan kebaya dalam tema Basic Romantic, mengangkat siluet aneka kebaya yang ada di Indonesia, mulai dari kebaya Sunda, Jawa, serta tidak ketinggalan, baju kurung Melayu. Koleksi cantik ini hadir dalam kaca–kaca berkilau yang ditabur dengan Swarovski. (vem/ana/miw)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    What's On Fimela
    Loading