Sukses

Fashion

Lebih dari Sekadar Ramah Lingkungan, Sustainable Fashion Punya Dilema Konsep yang Harus Dipahami

Fimela.com, Jakarta - Berapa banyak pakaian di dalam lemari yang benar-benar masih dikenakan? Pertanyaan sederhana ini mungkin terdengar sepele, tetapi menjadi penting ketika membicarakan masa depan industri fashion.

Industri tekstil dan pakaian memiliki dampak lingkungan yang luas, mulai dari penggunaan lahan dan air untuk menghasilkan bahan baku, energi serta bahan kimia dalam proses produksi, hingga persoalan limbah ketika pakaian sudah tidak lagi digunakan. European Environment Agency bahkan mencatat bahwa konsumsi tekstil di Eropa pada 2020 termasuk yang memberikan tekanan besar terhadap penggunaan air dan lahan, serta penggunaan bahan baku dan emisi gas rumah kaca.

Karena itu, istilah sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan semakin sering muncul. Namun, menjadi pertanyaan berikutnya: apa sebenarnya yang membuat sebuah brand fashion bisa disebut ramah lingkungan?

Sustainable Fashion Tidak Berarti Hanya Menggunakan Bahan Organik

Sustainable Fashion kerap kali dianggap bahwa pakaian berbahan alami otomatis lebih ramah lingkungan. Padahal, jenis bahan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan sebuah pakaian.

Textile Exchange menjelaskan bahwa sebagian besar material fashion berkaitan dengan sektor pertanian, kehutanan, atau bahan bakar fosil. Karena itu, pilihan material menjadi salah satu titik penting untuk mengurangi dampak lingkungan, tetapi tidak ada satu material yang bisa menjadi solusi tunggal untuk seluruh persoalan industri fashion.

Salah satunya katun yang merupakan serat alami dan memang dapat terbarukan. Namun produksi katun konvensional dapat menggunakan pestisida dan pupuk sintetis yang berpotensi mencemari tanah serta air dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Alternatif seperti katun organik, regeneratif, maupun daur ulang kemudian menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mengurangi dampak tersebut.

Begitu pula dengan bahan berbasis kayu seperti viscose, rayon, dan modal. Bahan tersebut sering dianggap sebagai alternatif alami karena berasal dari pulp kayu, tetapi sumber kayu dan proses pengolahannya tetap perlu diperhatikan. Sejauh Mata Memandang sendiri mengingatkan bahwa plant-based tidak otomatis berarti bertanggung jawab.

 

Salah Kaprah Soal Label Sustainable

Sebagai konsumen, kita perlu lebih kritis dengan tidak mengklaim sebuah pakaian tidak otomatis menjadi sustainable hanya karena terdapat tulisan “eco-friendly”, “green”, “natural”, atau “conscious” pada labelnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melihat apakah klaim tersebut disertai sertifikasi pihak ketiga dan informasi yang dapat diverifikasi.

Beberapa sertifikasi yang umum ditemukan di industri tekstil antara lain GOTS (Global Organic Textile Standard), OEKO-TEX, GRS (Global Recycled Standard), FSC, hingga berbagai standar terkait material dan produksi lainnya. Apa yang membedakannya?

  • GOTS: GOTS berkaitan dengan serat organik dan proses pengolahan tekstil dalam rantai produksinya. Produk dengan label GOTS Organic harus mengandung setidaknya 95 persen serat organik tersertifikasi.
  • OEKO-TEX: OEKO-TEX Standard 100 menunjukkan bahwa tekstil telah diuji terhadap zat-zat berbahaya. Sertifikasi ini tidak otomatis berarti pakaian tersebut terbuat dari bahan organik atau seluruh proses produksinya sudah berkelanjutan.
  • Made in Green: Untuk aspek yang lebih luas, OEKO-TEX memiliki label MADE IN GREEN, yang menggabungkan pengujian terhadap zat berbahaya dengan persyaratan produksi yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab secara sosial.

Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat logo, tetapi juga mencari tahu apa yang sebenarnya disertifikasi. Bahkan OEKO-TEX menyediakan Label Check untuk memeriksa validitas label berdasarkan nomor sertifikasi atau informasi produk.

Sebuah brand bisa memiliki material bersertifikasi organik, tetapi proses produksinya belum tentu memenuhi standar lingkungan yang sama. Brand lain mungkin menggunakan material daur ulang, tetapi belum memiliki sistem take-back atau pengelolaan pakaian setelah digunakan.

Di Indonesia sendiri terdapat sistem Label Ramah Lingkungan yang difasilitasi pemerintah. Sistem tersebut memberikan sertifikasi terhadap produk dan layanan yang memenuhi kriteria tertentu, termasuk efisiensi sumber daya, emisi, dan keamanan lingkungan. Pemerintah juga mengenal skema Ekolabel Tipe I dan Ekolabel Tipe II untuk klaim lingkungan dengan mekanisme yang berbeda.

Untuk kategori tekstil dan produk tekstil, Badan Standardisasi Nasional juga mencantumkan SNI 7188.4:2019 tentang kriteria ekolabel kategori tekstil dan produk tekstil sebagai standar yang berlaku. Namun, di luar sertifikasi pemerintah, terdapat pula berbagai standar internasional yang digunakan brand sesuai aspek yang ingin mereka buktikan.

 

Dari Bahan hingga Cara Produksi, Apa yang Berubah?

 

Untuk menjadi lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, sebuah brand dapat melakukan perubahan di berbagai tahap.

1. Material

Brand dapat memilih serat organik, regeneratif, daur ulang, atau material yang berasal dari sumber yang lebih bertanggung jawab. Namun pilihan tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan konteks karena setiap material memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri.

2. Proses produksi.

Penggunaan air, energi, pewarna, bahan kimia, pengelolaan limbah, hingga efisiensi pemotongan kain menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

3. Durabilitas.

Pakaian yang lebih awet dan dapat digunakan berkali-kali pada dasarnya memiliki peluang untuk mengurangi kebutuhan membeli pakaian baru. Ellen MacArthur Foundation menempatkan peningkatan masa pakai pakaian, penggunaan material yang aman dan terbarukan, serta kemampuan mengubah pakaian bekas menjadi produk baru sebagai bagian penting dari sistem fashion sirkular.

4. Circularity.

Ini dapat dilakukan melalui desain yang memungkinkan pakaian diperbaiki, program take-back, resale, upcycling, hingga penggunaan kembali material.

Sejauh Mata Memandang, misalnya, menjalankan pendekatan circular fashion melalui penggunaan kembali material. Dalam koleksi Larung, sebagian besar material berasal dari proses upcycling, termasuk potongan kain, kain yang tidak sempurna, dan deadstock. Brand tersebut juga menggunakan material seperti katun dan Tencel serta benang daur ulang dari limbah pakaian.

Mengapa Pakaian Sustainable Bisa Lebih Mahal?

Di sisi lain, sustainable fashion masih menemui tantangan di mana harga masih jadi pertimbangan masyarakat untuk enggan beralih ke busana ramah lingkungan. Kebanyakan merek yang merilis busana ramah lingkungan dibanderol dengan harga yang lebih tinggi. Apa alasannya?

Dalam sistem produksi yang lebih bertanggung jawab, biaya dapat muncul dari berbagai sisi. Material dengan standar tertentu dapat membutuhkan proses produksi dan sertifikasi yang lebih kompleks. Produksi dalam jumlah terbatas juga membuat biaya per unit lebih tinggi dibandingkan produksi massal.

Belum lagi ketika brand bekerja dengan artisan dan memastikan mereka memperoleh bayaran yang lebih layak. Dalam model seperti ini, harga pakaian tidak hanya membayar kain dan proses menjahit, tetapi juga waktu, keterampilan, proses produksi, serta hubungan yang dibangun sepanjang rantai pasok.

Hal tersebut terlihat dari pendekatan SukkhaCitta, yang menempatkan perempuan artisan dan keluarga petani kapas di desa sebagai bagian penting dari ekosistem produksinya. Brand ini mengembangkan rantai pasok yang lebih transparan sekaligus menjalankan berbagai program bersama komunitas artisan dan petani kapas.

Sementara itu, Sejauh Mata Memandang juga mengalami tantangan serupa dalam membangun rantai produksi yang lebih bertanggung jawab. Chitra Subyakto sempat menjelaskan bahwa efisiensi produksi bahan baku justru dapat menjadi salah satu cara untuk membuat pakaian yang bertanggung jawab lebih terjangkau.

“Saya percaya masa depan fashion yang ideal melibatkan sinergi antara teknologi dan kecakapan tradisional. Jika kita bisa menjadikan produksi bahan baku lebih efisien, biaya membuat item pakaian yang bertanggung jawab akan lebih rendah dengan sendirinya, dan lebih banyak orang akan mampu membelinya,” jelas Chitra.

Lebih dari itu, Chitra juga menekankan bahwa tidak ada brand yang dapat mengklaim sepenuhnya bebas dampak lingkungan. Menurutnya, proses produksi tetap membutuhkan sumber daya dan energi, tetapi brand dapat membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab.

“Saya rasa tidak ada brand yang bisa mengklaim zero waste atau seratus persen conscious, karena tindakan memproduksi itu sendiri menggunakan sumber daya dan energi. Tapi kita bisa lebih bertanggung jawab jika kita memang mau memilih demikian.”

Selain itu, harga juga perlu dilihat dari perspektif cost per wear. Pakaian yang dibuat lebih awet dan kemudian dikenakan berulang kali bisa memiliki nilai penggunaan yang lebih baik dibandingkan pakaian murah yang hanya dipakai beberapa kali sebelum akhirnya ditinggalkan.

 

Sejauh Apa Konsumen Indonesia Sudah Beralih?

 

 

Kesadaran terhadap sustainable fashion di Indonesia memang semakin terlihat, tetapi perjalanan menuju perubahan perilaku masih panjang. Sebuah penelitian terhadap 248 konsumen Indonesia menemukan adanya hubungan positif antara sikap terhadap lingkungan, niat membeli produk fashion berkelanjutan, dan perilaku konsumsi aktual.

Namun penelitian lain mengenai green apparel di Indonesia menunjukkan adanya gap antara niat dan perilaku membeli. Artinya, konsumen dapat memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan, tetapi keputusan pembelian tetap dipengaruhi faktor lain, termasuk harga.

Fenomena ini juga bukan hanya terjadi di Indonesia. Penelitian mengenai generasi centennials menemukan bahwa konsumen muda menunjukkan sikap positif terhadap sustainable fashion dan melihat nilai yang lebih tinggi pada pakaian yang lebih bertanggung jawab. Namun di negara berkembang, faktor ekonomi dan persepsi terhadap produk lokal masih dapat menjadi hambatan.

Sustainable Fashion Bukan Berarti Harus Membeli Lebih Banyak

Membeli lebih sedikit, memilih pakaian yang benar-benar akan digunakan, memperbaiki pakaian yang rusak, membeli pre-loved, bertukar pakaian, hingga menjual kembali pakaian yang sudah tidak digunakan dapat menjadi bagian dari konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Sebab, persoalan fashion tidak hanya terletak pada apa bahan pakaian dibuat, tetapi juga berapa banyak pakaian yang diproduksi, berapa lama digunakan, dan ke mana pakaian tersebut pergi setelah tidak lagi diinginkan.

Ellen MacArthur Foundation mencatat bahwa produksi pakaian meningkat sementara masa penggunaan pakaian justru menurun secara signifikan. Model ekonomi sirkular kemudian menawarkan pendekatan berbeda: mempertahankan pakaian dan material tetap digunakan selama mungkin.

Karena di tengah industri fashion yang terus bergerak cepat, mungkin keputusan paling berkelanjutan justru bukan selalu membeli sesuatu yang baru. Melainkan memilih dengan lebih sadar, menggunakan lebih lama, dan memahami nilai sebuah pakaian sebelum membawanya pulang.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading