Sukses

FimelaHood

Komunitas Tarot Jakarta, Bukan Perkumpulan Orang-orang Klenik

Fimela.com, Jakarta Tak ada satu manusia yang bisa mengetahui tentang masa depan seseorang dengan pasti. Entah itu besok atau beberapa tahun lagi. Sebab, itu semua adalah rencana Tuhan yang bersifat rahasia. Kendati demikian, bukan berarti jalan hidup tak bisa diprediksi.

Tanpa kita sadari, beberapa aspek dalam hidup ini bisa diprediksi berdasarkan banyak hal yang dilalui di masa lalu atau pengalaman. Untuk memantapkannya, prediksi bisa dilakukan dengan banyak media. Salah satunya adalah kartu tarot. Pernah mengetahuinya?

Seperti yang dilakukan oleh mereka yang tergabung dalam Komunitas Tarot Jakarta. Terbentuk sejak 12 Maret 2017, Komunitas Tarot Jakarta menjadi wadah orang-orang dengan ketertarikan memprediksi masa depan untuk kualitas hidup yang lebih baik melalui kartu tarot. Ditemui Fimela.com di Suwe Ora Jamu, Dedy Darmawan, inisiator sekaligus Ketua Komunitas Tarot Jakarta , menceritakan tentang bagaimana ia membangun komunitas ini.

Menurut Darma, panggilan akrabnya, Komunitas Tarot Jakarta hanyalah unit kecil dari komunitas tarot yang ada di Indonesia. "Kami sebetulnya sudah terkait ke seluruh Indonesia, komunitas tarot itu dari Sabang sampai Merauke ada, ke sininya mau aku jadikan satu, tapi aku juga nggak mau klaim jika komunitas ini paling OK se-Indonesia," jelas pria kelahiran Jember ini.

Seperti komunitas pada umumnya, komunitas ini juga memiliki kegiatan yang mempererat bonding antar anggota. "Kami punya kegiatan gathering, workshop, malam reguler, dan event-event dengan pihak ketiga atau sponsor," kata Darma.

Lebih lanjut, Darma juga tengah berupaya untuk membangun Komunitas Tarot Indonesia, namun, menurutnya, hal tersebut perlu pertimbangan yang matang. "Jadi aku sudah keliling Indonesia dengan dana sendiri dalam rangka menyatukan komunitas tarot di seluruh daerah, karena kasarnya jika dilihat secara politis, ketika aku menjadi Ketua Komunitas Tarot Indonesia, aku harus dapat izin dari seluruh daerah, menurutku itu dulu deh, nggak usah klaim siapa yang paling OK, yang penting aku punya link ke seluruh komunitas tarot di Indonesia," imbuh pria yang telah menulis dua buku bertema tarot.

Dalam mempelajari kartu tarot, Darma mengaku jika ia belajar sendiri, terlebih ketika ia gagal masuk jurusan psikologi ketika memasuki bangku kuliah. "Sekitar tahun 2000 aku kenalan dengan tarot, kayaknya tarot seru deh, karena dulu aku juga ingin masuk jurusan psikologi tapi nggak dapat, aku belajar sendiri, riset selama tiga tahun dan aku bikin buku," kenang Darma.

Untuk keanggotaan, siapa saja boleh bergabung dalam Komunitas Tarot Jakarta. "Siapa saja boleh, orang awam monggo, siapa pun bisa, jadi jangan membatasi diri, nggak ada syarat, tapi yang ingin kami tekankan ini bukan tren, untuk jumlah anggota sendiri, kalau yang tertulis di Facebook ada 500 sekian, tapi tarot reader ini sekitar 30, banyak yang nggak mau muncul, bahkan untuk full tarot reader bisa dihitung pakai jari, karena konsekuensinya berat, masih diserang sama beberapa pihak," jelas pria kelahiran 3 Mei 1976 ini.

Menurut Darma, masih ada pihak-pihak yang bertentangan dan menganggap bahwa tarot adalah hal yang klenik. "Ada yang menganggap tarot itu klenik tapi mereka sendiri tidak tahu klenik itu apa, bahkan aku juga pernah benar-benar dilabrak oleh psikolog, ditanya lulusan apa, tanggung jawab ke siapa, dan menurutku ini seperti tengkar seniman jalanan dan musisi lulusan ITB, seharusnya kita satu tujuan," kata Darma.

Meski begitu, seiring berjalannya waktu, kini relasi Komunitas Tarot Jakarta dan beberapa pihak yang dulu memusuhinya sudah membaik. Terbukti dari adanya kolaborasi yang dilakukan. "Setelah bertengkar bertahun-tahun, akhirnya kami berkolaborasi tiap Jumat di Omah Bintang dengan hipnosis, ilusionis, dan magician seluruh Jakarta gabung dengan tarot," jelas pemilik akun Instagram @tarotdarma ini.

Rupanya, di dalam Komunitas Tarot Jakarta ini tak semua pembaca kartu tarot, di antaranya juga ada pembaca teh, pembaca bunga, pembaca tangan, dan lain-lain. "Sebenarnya dulu aku punya ide pemilihan nama komunitas ini seperti nama Hard Rock yang mewakili genre musik, dan kami di sini sebenarnya ada pembaca bunga, pembaca kopi, pembaca teh, pembaca tangan, dan anggota kami ada juga yang pembaca wajah," ucap mantan penyiar radio ini.

 

Tarot Reader adalah Customer Service Kehidupan

Sadar atau tidak, secara tidak langsung, tarot reader adalah konsultan kehidupan bagi setiap kliennya. Bagaimana tidak? Memberi arahan dan petuah berdasarkan kartu tarot yang muncul, tarot reader berperan layaknya ahli dalam memberi petunjuk, pertimbangan, atau nasihat.

"Ada istilah yang baru dari kami, yaitu customer service kehidupan, di mana ketika seseorang mengeluh kami bisa memberi petunjuk dan merujuk seseorang ke lembaga tertentu untuk menyelesaikan masalahnya,"ungkap lulusan Institut Teknologi Nasional Malang jurusan arsitek ini.

Darma sendiri meyakini penuh atas apa yang ia sampaikan pada klien dari kartu tarot yang muncul. "Yakin 100 persen, karena hal yang paling tidak meyakinkan dari kita adalah suggest. Hal terendah yang kami sarankan adalah suggest, hal anjuran berdasarkan pengalaman atau peraturan tertentu, sama seperti konsultan lain" jelas pria yang pernah menjadi sekretaris ini.

Tak sekadar meyakini, Darma juga menceritakan pengalaman dengan klien yang mengabaikan saran darinya. "Aku pernah hampir digugat sama klien karena dia rugi hampir Rp2 miliar, menurut dia itu pertama kali aku salah, klienku itu ingin bisnis suntikkan sapi dan ayam di Amerika, aku sudah menyarankan dia untuk cek alamatnya, dia bilang dia sudah cek semua dan berangkat ke Amerika, lalu dia bilang kalau dia gagal karena alamatnya palsu dan aku disalahkan, setelah seminggu berlalu, dia mengakui kalau dia tertipu dan rupanya dia tidak cek alamatnya," kenang Darma.

 

Beda Komunitas Tarot Jakarta dengan Komunitas Tarot Lainnya

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikan. Begitu juga Komunitas Tarot Jakarta dengan komunitas tarot lain yang ada. Menurutnya, Komunitas Tarot Jakarta punya hal yang membuat mereka beda. "Menurutku, di antara komunitas tarot lainnya, yang paling hore, reguler, eksis, narsis adalah kita hahaha," ujar Darma.

"Aku ingin mensejahterakan teman-teman yang lain, percuma aku koar-koar aku ketua yang baik, kami komunitas OK, tapi tidak ada event yang menguntungkan mereka ya percuma, sekalipun mereka ada event sebulan full, aku akan support dengan mengunjunginya, jika ada event membutuhkan komunitas ini, aku akan suruh teman-teman yang lain maju duluan, tapi sebelumnya aku akan memastikan event itu jelas dalam segala hal, dan ketika aku lihat di tetangga, mereka tidak begitu," katanya.

Darma juga berbagi tips untuk orang-orang di luar sana yang belajar Tarot. "Gabunglah sama kita dengan segala kemampuan, nggak punya kartu bisa kami bantu, nggak punya uang bisa gratis, yang penting niat, konsisten, mau belajar, dan ada waktu," ujarnya.

Seperti yang dilakukan oleh Golan, salah satu anggota Komunitas Tarot Jakarta. Baru bergabung dua bulan, Golan mengaku jika dirinya sudah dapat banyak pelajaran, terlebih ia bisa membantu orang lain dengan media tarot dan mendapat imbalan.

"Kalau tertarik tarot sih baru dua bulan, tapi saya melihat anak murid Om Ded (panggilan Darma) ada perubahan, dari orang logika menjadi berintuisi, dan menurut saya itu cukup cepat proses belajarnya, jadi ada dorongan untuk mempelajarinya, ada ilmu-ilmu lain yang bukan ilmu mistik, lebih ke pendekatan lewat media tarot," jelas Golan.

"Tarot bukan sekadar ramalan, tapi media konsultasi dan guidance, jadi untuk bisnis atau pribadi bisa diterapkan lewat tarot, kalau kita bisa mengolah ini, kita bisa mengubah sesuatu yang lebih baik," imbuh pria pekerja kreatif ini.

Berbeda halnya dengan Cheery Anggiasari yang memulai belajar tarot dari rasa sakit hati. "Sebelumnya, aku kerap jadi tempat curhat orang-orang, dan kalau untuk sampai ke tarot ini aku ada karena rasa kecewa soal love life yang terlalu dalam dan membuat intuisiku jadi lebih dalam, dan aku menjadikan tarot sebagai media untuk psikologi," ungkap Cheery.

Darma berharap kedepannya kehadiran Komunitas Tarot Jakarta dan tarot reader diterima oleh masyarakat luas, terlebih menjadi sebuah profesi. "Ke depannya kami ingin diterima menjadi sebuah profesi," harap tarot reader yang juga blogger ini.

Tertarik untuk berkonsultasi, belajar tarot, dan bergabung dengan Komunitas Tarot Jakarta? Datang saja ke Suwe Ora Jamu, Petogogan 1, Jakarta Selatan, setiap Kamis malam, atau kunjungi akun Instagramnya di @komunitastarotjakarta untuk info lebih lanjut.

Fimelahood #MyGoalMatter, Tempat Perempuan Berbagi Kisah Inspiratif
Loading
Artikel Selanjutnya
Ulang Tahun, Jakarta Babywearers Angkat Tema Tentang Ayah
Artikel Selanjutnya
Jogja Beauty Vlogger, Dibentuk Dengan Modal Nekat