Sukses

FimelaHood

Komunitas Buku Berkaki: Mengembangkan Minat Baca pada Anak-anak yang Kurang Beruntung

Fimela.com, Jakarta “Apakah minat baca anak-anak Indonesia itu sangat rendah?” kira-kira begitulah pertanyaan yang terus menghampiri Co-Founder Komunitas Buku Berkaki, Meyer Makawekes. Jika mendapatkan pertanyaan seperti itu, maka Meyer sudah tahu bagaimana harus menanggapinya. Pertanyaan yang satu itu akan ditimpali dengan pertanyaan lagi oleh Meyer.

“Apakah ada buku yang bisa dibaca?” tanya Meyer. “Kita bilang minat bacanya kurang, tapi nggak ada buku untuk dibaca, ya bohong namanya. Kecuali setiap kita donasi buku itu nggak ada yang ambil, ya orang berpikir minat baca kurang. Tapi kenyataannya kita selalu kekurangan buku untuk disebarkan ke seluruh Indonesia,” terang Meyer.

Dicetuskan sejak tanggal 30 September 2011, Buku Berkaki memiliki tujuan untuk mengembangkan minat baca pada anak-anak yang kurang beruntung. Berbagai cara pun dilakukan oleh para anggota Buku Berkaki supaya tujuan yang telah dibangun bisa tercapai, salah satunya adalah dengan “Visit Buku”, yakni kunjungan ke daerah-daerah marjinal binaan Buku Berkaki.

“Untuk Jabodetabek kita ada 10 binaan, panti asuhan, lapak pemulung dan lapak anak jalanan. Jadi setiap dua minggu sekali kita datang ke mereka memberikan pelajaran tambahan dengan gaya yang fun terus sambil bawa buku yang kita tukar,” jelas Meyer. Ada alasan mengapa buku tersebut tidak dibagikan ke anak-anak.

“Karena kalau misalnya kita kasih, ada satu buku tentang pohon, yang tahu tentang pohon itu cuma satu anak. Tapi kalau setiap dua minggu kita upgrade, kita tukar dengan buku yang lain artinya pengetahuan mereka itu lebih di upgrade juga,” tambahnya. Hampir sembilan tahun berjalan Meyer mengaku sejumlah perubahan sudah mulai terlihat termasuk soal minat baca buku anak-anak Indonesia.

Minat Baca Bertumbuh Seiring Adanya Fasilitas

Hampir sembilan tahun berjalan bersama komunitas Buku Berkaki, Mayer Makawekes menuturkan kalau kini sudah ada perubahan yang terlihat, meskipun tidak signifikan. “Anak-anak yang tadinya nggak mau baca sekarang setiap Buku Berkaki datang selalu nanya, ada buku baru atau nggak,” jelas Meyer.

Dari hal tersebut menurut Meyer dapat disimpulkan bahwa minat baca bertumbuh seiring adanya fasilitas yang disediakan. “Jadi artinya adalah kalau dibilang minat baca kurang kita harus lihat dari sisi yang lain, kurang karen tidak ada bukunya atau kurang karena ada buku, tapi nggak mau baca,” tambahnya.

Meyer Makawekes berharap kedepannya komunitas Buku Berkaki dapat membuka lebih banyak rumah baca sehingga akan ada lebih banyak lagi anak-anak yang bisa merasakan fasilitas buku bacaan yang berkualitas. "Rumah baca yang di Lahat yang kita bangun itu, terakhir prestasi mereka adalah perpustakaan desa juara dua se-propinsi Sumatera Selatan. Artinya kalau ini ada di seluruh desa terpencil kan efeknya luar biasa," pungkasnya.

Fimelahood #MyGoalMatter, Tempat Perempuan Berbagi Kisah Inspiratif
Loading