Sukses

FimelaMom

Pujian Sederhana yang Berdampak Besar pada Percaya Diri Anak

Fimela.com, Jakarta - Sebagai orang tua, rasanya wajar ingin anak merasa bangga dan percaya diri. Karena itu, pujian sering jadi refleks saat anak melakukan sesuatu yang baik. Tapi tanpa disadari, pujian yang terlalu sering atau berlebihan justru bisa membuat anak bergantung pada penilaian orang lain, bukan percaya pada dirinya sendiri. Di sinilah peran orang tua untuk menggunakan pujian dengan lebih bijak.

Melansir laman raisingchildren.net.au pujian sebenarnya adalah cara sederhana untuk memberi tahu anak bahwa ia sudah berusaha atau berperilaku baik. Kalimat seperti “Bagus ya,” atau “Mama bangga,” bisa membantu anak merasa dihargai. Dari sini, anak belajar mengenali keberhasilannya sendiri dan merasa percaya diri dengan apa yang ia lakukan. Pujian yang tepat bisa jadi sumber semangat sehari-hari bagi anak.

Pujian juga membantu anak belajar berbicara positif pada dirinya sendiri. Saat orang tua mengakui hal baik yang dilakukan anak, anak jadi tahu bahwa usahanya ber-arti. Lama-kelamaan, rasa bangga itu tumbuh dari dalam, bukan hanya karena ingin dipuji. Ini penting agar anak tidak mudah minder atau ragu pada dirinya.

Kalimat-kalimat suportif untuk mendukung anak

Agar lebih berdampak, orang tua bisa menggunakan pujian yang spesifik atau deskriptif. Misalnya, daripada hanya bilang “Pintar,” coba katakan “Mama suka caramu membereskan mainan sendiri.” Pujian seperti ini terasa lebih tulus dan membantu anak memahami perilaku baik yang perlu diulang. Anak jadi tahu apa yang sebenarnya diapresiasi.

Selain hasil, penting juga memuji usaha anak. Saat anak mencoba meski belum sempurna, katakan bahwa usahanya sudah bagus. Pujian terhadap proses membuat anak tidak takut gagal dan lebih berani mencoba hal baru. Anak pun belajar bahwa usaha itu sama berharganya dengan hasil.

Dorongan atau encouragement juga bisa diberikan bahkan sebelum anak melakukan sesuatu. Contohnya, “Coba tunjukkan caramu menyusun balok,” atau “Kamu sudah latihan, lakukan semampumu.” Kalimat seperti ini memberi rasa aman dan membuat anak lebih percaya diri menghadapi tantangan. Anak merasa didukung, bukan ditekan.

Pemberian reward sebagai bentuk apresiasi kepada anak

Selain pujian dan dorongan, sesekali anak juga bisa diberi reward sebagai bentuk apresiasi. Reward tidak harus berupa hadiah, bisa juga waktu bermain bersama atau memilih aktivitas keluarga. Hal ini membantu anak memahami bahwa perilaku positif membawa pengalaman menyenangkan. Kebersamaan sering kali jadi reward paling bermakna bagi anak.

Meski begitu, reward sebaiknya tidak digunakan terlalu sering. Jika anak hanya berperilaku baik karena mengharapkan hadiah, makna pujian bisa hilang. Yang terpenting adalah anak memahami nilai dari usaha dan sikap baiknya. Reward sebaiknya menjadi pelengkap, bukan tujuan utama.

Pada akhirnya, pujian sederhana yang tulus, tepat sasaran, dan tidak berlebihan bisa memberi dampak besar pada percaya diri anak. Anak merasa dihargai, berani mencoba, dan belajar mengenali kemampuannya sendiri. Dari hal kecil inilah pondasi percaya diri anak dibangun untuk jangka panjang. Peran orangtua sangat penting dalam membentuk proses ini sejak dini.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading