Sukses

FimelaMom

Pola Asuh yang Salah Bisa Membuat Anak Mudah Marah

Fimela.com, Jakarta - Pola asuh memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional anak. Cara orang tua mendidik dan menanggapi perilaku anak dapat membentuk karakter, kebiasaan, dan kemampuan mengelola emosi mereka. Sayangnya, beberapa pola asuh yang kurang tepat justru dapat membuat anak mudah marah atau mudah frustrasi.

Anak-anak yang sering dihadapkan pada aturan yang terlalu ketat, paksaan tanpa penjelasan, atau minimnya komunikasi emosional cenderung merasa tertekan. Ketika mereka tidak diajarkan cara mengekspresikan emosi dengan sehat, rasa marah pun lebih mudah muncul, bahkan untuk hal-hal kecil. Kebiasaan ini bisa terbawa hingga dewasa jika tidak diatasi sejak dini.

Mengenali pola asuh yang berpotensi menimbulkan sifat mudah marah pada anak penting agar orang tua dapat menyesuaikan pendekatan mereka. Dengan cara yang tepat, anak dapat belajar mengekspresikan perasaan tanpa meledak-ledak dan tumbuh menjadi individu yang lebih sabar dan emosional stabil. Berikut beberapa pola asuh yang sebaiknya dihindari.

1. Terlalu Banyak Larangan dan Paksaan

Memberikan terlalu banyak larangan atau memaksa anak melakukan sesuatu tanpa penjelasan bisa membuat mereka merasa tidak dihargai. Anak-anak yang sering dipaksa cenderung frustrasi karena keinginannya tidak didengar atau dipahami. Perasaan frustrasi ini dapat memunculkan kemarahan, tangisan, atau perilaku menentang.

Sebaliknya, membimbing anak dengan penjelasan yang jelas dan memberi pilihan yang wajar membantu mereka belajar mengendalikan emosi sekaligus memahami konsekuensi dari tindakan mereka.

2. Kurangnya Komunikasi Emosional

Anak yang jarang diajak berbicara tentang perasaan dan emosinya cenderung kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi dengan tepat. Mereka mungkin menggunakan kemarahan sebagai cara mengekspresikan frustrasi atau ketidaknyamanan.

Orang tua yang aktif mendengarkan, memberikan validasi, dan membantu anak menamai emosi mereka dapat membangun keterampilan regulasi emosi sejak dini. Anak pun lebih mampu merespons situasi sulit dengan tenang.

3. Memberikan Contoh Negatif dalam Mengelola Emosi

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua mudah marah, membentak, atau menunjukkan emosi secara tidak sehat, anak akan meniru perilaku tersebut. Pola ini membuat anak menganggap ledakan kemarahan adalah cara normal untuk mengekspresikan perasaan.

Memberikan contoh menenangkan diri, berbicara dengan tenang, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat membantu anak belajar mengelola kemarahan dengan cara yang tepat.

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua mudah marah, membentak, atau menunjukkan emosi secara tidak sehat, anak akan meniru perilaku tersebut. Pola ini membuat anak menganggap ledakan kemarahan adalah cara normal untuk mengekspresikan perasaan.

Memberikan contoh menenangkan diri, berbicara dengan tenang, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat membantu anak belajar mengelola kemarahan dengan cara yang tepat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading