Fimela.com, Jakarta - Cara mengatasi sibling rivalry dengan aktivitas sederhana menjadi informasi yang penting bagi banyak orang tua, terutama ketika hubungan kakak dan adik mulai diwarnai pertengkaran atau persaingan. Istilah sibling rivalry pertama kali diperkenalkan oleh psikoanalis asal Austria, Sigmund Freud dan kembali dipoulerkan oleh psikoanalisis David Levy, untuk menggambarkan persaingan dan kecemburuan antarsaudara dalam memperebutkan perhatian serta kasih sayang orang tua. Konsep tersebut kemudian banyak dikembangkan dalam kajian psikologi perkembangan modern.
Dalam buku The Sibling Bond (1992), psikolog Stephen P. Bank dan Michael D. Kahn menjelaskan bahwa hubungan saudara merupakan salah satu ikatan terpanjang dalam kehidupan seseorang. Hubungan ini dapat dipenuhi rasa sayang sekaligus konflik, sehingga persaingan antarsaudara sebenarnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang selama tetap dikelola dengan baik oleh orang tua.
Kabar baiknya, cara mengatasi sibling rivalry dengan aktivitas sederhana tidak selalu membutuhkan metode yang rumit. Berbagai kegiatan sehari-hari yang mendorong kerja sama, komunikasi, dan saling menghargai dapat membantu mengurangi konflik sekaligus mempererat hubungan kakak dan adik sejak usia dini. Apa saja caranya? Dilansir Fimela dari berbagai sumber, Senin (20/7), berikut rekomendasinya yang bisa Anda lakukan.
Advertisement
Advertisement
1. Ajak Kakak dan Adik Bermain Permainan yang Mengutamakan Kerja Sama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301887/original/091863000_1784523542-kids-playing-together-full-shot.jpg)
Banyak permainan anak yang selama ini berfokus pada menang dan kalah. Padahal, permainan yang mengharuskan kedua anak bekerja sama menyelesaikan tantangan dapat menjadi sarana efektif untuk mengurangi persaingan.
Misalnya, menyusun puzzle bersama, membuat benteng dari bantal, mencari harta karun di rumah, atau menyelesaikan tantangan sederhana yang membutuhkan kontribusi keduanya. Saat mereka memiliki tujuan yang sama, perhatian akan beralih dari saling mengalahkan menjadi saling membantu.
Orang tua sebaiknya memberi apresiasi pada proses kerja sama, bukan hanya hasil akhirnya. Kalimat seperti "Kalian hebat karena saling membantu" akan lebih bermakna dibanding hanya memuji anak yang paling cepat atau paling pintar.
2. Libatkan Mereka dalam Memasak atau Menyiapkan Makanan Bersama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301888/original/004143100_1784523543-karlyukav.jpg)
Aktivitas di dapur bisa menjadi media belajar yang menyenangkan bagi kakak dan adik. Berikan tugas berbeda sesuai usia, misalnya kakak mencuci sayuran sementara adik membantu menyusun bahan atau mengaduk adonan.
Pembagian peran membuat setiap anak merasa memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya. Mereka belajar bahwa sebuah pekerjaan bisa selesai lebih cepat jika dilakukan bersama.
Selain meningkatkan kebersamaan, aktivitas memasak juga melatih komunikasi, kesabaran, serta kemampuan berbagi tugas sejak dini. Jangan lupa memberikan kesempatan kepada keduanya untuk mencicipi hasil masakan bersama sebagai bentuk penghargaan atas usaha mereka.
Advertisement
3. Jadwalkan Waktu Bermain Tanpa Gangguan Gawai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301889/original/030737700_1784523543-pikisuperstar.jpg)
Penggunaan gawai yang berlebihan terkadang membuat anak lebih sibuk dengan dunianya masing-masing. Akibatnya, kesempatan untuk membangun hubungan positif dengan saudara menjadi semakin sedikit.
Cobalah menetapkan waktu tertentu, misalnya satu jam setiap sore, sebagai waktu bermain keluarga tanpa televisi maupun ponsel. Gunakan momen tersebut untuk bermain kartu, membaca buku cerita bergantian, atau membuat kerajinan tangan sederhana.
Aktivitas ini membantu anak belajar berinteraksi secara langsung, berbicara, mendengarkan, sekaligus memahami perasaan saudara mereka.
4. Berikan Tantangan Proyek Kecil yang Harus Diselesaikan Bersama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301890/original/045642100_1784523543-full-shot-kids-sitting-blanket.jpg)
Cara mengatasi sibling rivalry dengan aktivitas sederhana berikutnya adalah membuat proyek keluarga yang melibatkan kerja sama. Misalnya menanam sayuran di pot, merawat tanaman berbunga, membuat rumah-rumahan dari kardus, atau menghias sudut belajar.
Setiap anak dapat diberi tanggung jawab yang berbeda sesuai kemampuan masing-masing. Ketika proyek berhasil diselesaikan, keduanya akan merasakan kepuasan karena berhasil bekerja sebagai satu tim.
Proyek sederhana seperti ini juga mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya hasil kerja individu, melainkan buah dari kolaborasi dan saling mendukung.
Advertisement
5. Biasakan Saling Memberikan Pujian Setiap Hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301891/original/063829200_1784523543-alexeyzhilkin.jpg)
Persaingan sering muncul karena anak merasa kurang dihargai. Untuk mengatasinya, orang tua dapat membuat kebiasaan sederhana berupa sesi saling memberi pujian.
Misalnya setiap malam sebelum tidur, mintalah kakak menyebutkan satu hal baik yang dilakukan adiknya hari itu. Begitu pula sebaliknya.
Awalnya mungkin terasa canggung, tetapi lama-kelamaan anak akan terbiasa melihat sisi positif saudaranya. Kebiasaan ini membantu mengurangi fokus pada kesalahan dan memperkuat hubungan emosional antarsaudara.
6. Buat Rutinitas Membaca Buku Cerita Secara Bergantian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5574284/original/090604100_1777967036-pexels-cottonbro-6157214.jpg)
Membaca bersama tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan kakak dan adik.
Biarkan kakak membacakan cerita untuk adiknya, lalu sesekali tukar peran jika usia memungkinkan. Setelah selesai membaca, ajak mereka berdiskusi mengenai tokoh yang saling membantu, berbagi, atau memaafkan.
Melalui cerita, anak lebih mudah memahami nilai empati, kerja sama, dan pentingnya menghargai orang lain tanpa merasa sedang dinasihati secara langsung.
Advertisement
7. Berikan Waktu Khusus Bersama Masing-Masing Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5137488/original/069275300_1739948335-pexels-olly-3820203.jpg)
Meski terdengar sederhana, menyediakan waktu khusus bersama setiap anak merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi sibling rivalry.
Kadang-kadang konflik muncul bukan karena anak membenci saudaranya, tetapi karena ia merasa kurang mendapatkan perhatian dari orang tua. Luangkan waktu sekitar 15–20 menit setiap hari secara bergantian untuk mengobrol, bermain, atau membaca buku bersama masing-masing anak.
Ketika kebutuhan emosional setiap anak terpenuhi, mereka cenderung tidak lagi mencari perhatian melalui pertengkaran dengan saudara. Setelah itu, kegiatan bersama sebagai keluarga pun biasanya berlangsung lebih harmonis.
Mengapa Aktivitas Sederhana Lebih Efektif?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8222495/original/088602600_1781082525-pexels-cottonbro-3661452.jpg)
Mengatasi sibling rivalry tidak bisa dilakukan dengan memaksa anak selalu akur atau melarang mereka bertengkar. Konflik kecil tetap menjadi bagian dari proses belajar mengenali emosi, menyelesaikan masalah, dan memahami sudut pandang orang lain.
Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua membantu anak membangun pengalaman positif bersama. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten akan menciptakan lebih banyak kenangan menyenangkan dibanding pengalaman saling berebut atau bersaing.
Selain itu, orang tua juga perlu menghindari kebiasaan membandingkan anak, baik dari segi prestasi, kemampuan, maupun kepribadian. Perbandingan justru dapat memperkuat rasa iri dan membuat sibling rivalry semakin sulit diatasi.
Membangun hubungan yang hangat antarsaudara memang membutuhkan waktu. Namun melalui permainan, proyek kecil, kebiasaan saling menghargai, hingga waktu berkualitas bersama keluarga, anak akan belajar bahwa saudara bukanlah lawan yang harus dikalahkan, melainkan teman yang bisa saling mendukung sepanjang hidup. Dengan konsistensi dan pendekatan yang penuh empati, rumah dapat menjadi tempat terbaik bagi kakak dan adik untuk tumbuh bersama dalam suasana yang lebih harmonis.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Mengatasi Sibling Rivalry
1. Apa yang dimaksud dengan sibling rivalry?
Sibling rivalry adalah persaingan, kecemburuan, atau konflik yang terjadi antara saudara kandung, umumnya karena berebut perhatian, kasih sayang, atau pengakuan dari orang tua.
2. Pada usia berapa sibling rivalry biasanya mulai muncul?
Sibling rivalry dapat mulai terlihat sejak adik lahir atau ketika anak berusia sekitar 2–4 tahun, lalu berkembang seiring pertumbuhan dan interaksi antarsaudara.
3. Apakah sibling rivalry merupakan hal yang normal?
Ya. Dalam batas wajar, sibling rivalry merupakan bagian dari proses perkembangan sosial dan emosional anak. Namun, orang tua tetap perlu mengarahkan agar konflik tidak berkepanjangan.
4. Aktivitas sederhana apa yang dapat mengurangi sibling rivalry?
Permainan yang mengutamakan kerja sama, memasak bersama, membaca buku bergantian, berkebun, hingga mengerjakan proyek kecil di rumah dapat membantu mempererat hubungan kakak dan adik.
5. Apa yang sebaiknya dihindari orang tua saat menghadapi sibling rivalry?
Hindari membandingkan anak, memihak salah satu pihak tanpa mendengarkan keduanya, memberi label negatif, atau memaksa anak untuk selalu akur tanpa membantu mereka menyelesaikan konflik dengan baik.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301880/original/036457500_1784523289-gpointstudio.jpg)
![Alyssa Daguise buktikan bahwa dirinya tak hanya sekadar bumil glowing tapi juga fashionable mama [@alyssadaguise]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/3unXmjBHzsgf6tbkHdT7tylJAUg=/0x23:1080x1103/200x200/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554685/original/000301200_1776091833-SnapInsta.to_670688104_18581626381057164_3767344184430632019_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823506/original/002682400_1714995462-IMG_2380.jpeg)
![Dengan mengikuti beberapa aktivitas sederhana ini, kamu dapat membuat momen kebersamaan bersama anak, lho, Sahabat Fimela. [Dok/freepik.com]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/-WzAiON5fKsnPkXLKpUk9BXhbCU=/200x200/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360065/original/026328100_1758698401-family-spending-time-together-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3255029/original/023668600_1601539422-photo-1567427017947-545c5f8d16ad__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301771/original/080343900_1784517088-annie-spratt-86KXmkRWAMA-unsplash.jpg)
![Kecemasan berpisah di hari pertama sekolah anak perlu menjadi perhatian orangtua. [Dok/Pexels.com/George Pak].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/IhuBCv9zzQFFIN_VxubTa7X2yCU=/200x200/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299898/original/031972400_1784278083-pexels-george-pak-7983757.jpg)
![Penting bagi orangtua untuk menciptakan pengalaman liburan sekolah yang lebih interaktif agar anak tetap antusias selama perjalanan.[Dok/freepik.com/bearfotos]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/GSPzTjjXeOt4Hp6uEmaK-AJcRQI=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5694836/original/038786000_1778572235-5189.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7756548/original/097066400_1780565583-pexels-pixabay-39691_2.jpg)
![Staycation yang dikemas secara kreatif akan memperkuat ikatan emosional bersama anak. [Dok/Pexels.com/Micah Eleazar].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/jfrAvSsGA_Vx6yc0_1deRA3GU5Y=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7737925/original/016472200_1780544463-pexels-micahways-10498601.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5256412/original/010386300_1750236587-sensual-photo-cute-little-girl-people-walks-outside-woman-brown-coat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8964587/original/077614900_1782978033-IMG_1846.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6924748/original/062801600_1779695089-pexels-gustavo-fring-4173218.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562566/original/083037000_1776832876-2148454494.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9168686/original/052028100_1783089795-SnapInsta.to_731390804_18633683221028089_4612980540689131065_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111127/original/006590700_1783059947-WhatsApp_Image_2026-07-03_at_13.21.44__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537481/original/061504900_1774424944-pexels-polina-tankilevitch-3735155.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6928406/original/044133000_1779698635-young-activists-preparing-action.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384323/original/033026900_1760768424-IMG-20251018-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521169/original/060978200_1772682613-young-woman-looking-concerned-class.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542533/original/032149900_1774946379-smiley-family-high-five.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771065/original/068235200_1710317271-IMG_1701.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7421431/original/081522300_1780198905-kids-playing-around-calm-cosy-spaces_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302653/original/019167900_1784600959-175027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302418/original/055196400_1784546387-orang-kaya-673-373__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302345/original/035584600_1784541943-Screenshot_2026-07-20_at_15.42.02.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302187/original/020726000_1784536360-Screenshot_2026-07-20_at_15.30.41.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301918/original/082892300_1784525831-WhatsApp_Image_2026-07-20_at_12.30.17__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301473/original/009433700_1784466709-WhatsApp_Image_2026-07-18_at_11.48.35__1_.jpeg)
![Penting bagi orangtua untuk menciptakan pengalaman liburan sekolah yang lebih interaktif agar anak tetap antusias selama perjalanan.[Dok/freepik.com/bearfotos]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/vu0hCsx8khBf6_UIsrvTaI8M0c0=/260x125/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5694836/original/038786000_1778572235-5189.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302305/original/047479300_1784539854-Ini_Alasan_Mary_Jane_Sporty_Jadi_It_Shoes_Favorit_Anak_Muda_ala_Shopee_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437578/original/081366400_1765256664-IMG-20251209-WA0007.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300813/original/078132200_1784386168-afgan.jpg)