Sukses

Food

Diary Fimela: Kegigihan, Kunci dari Kesuksesan Usaha Kopi Malabar

Fimela.com, Jakarta Kini, banyak anak muda yang terjun ke industri pertanian. Rupanya, banyak hal yang bisa digali dari industri pertanian, sehingga bisa dimanfaatkan menjadi bisnis berkelanjutan. Hal ini juga diimbau oleh Kementrian Pertanian yang terus mendorong generasi milenian membangun usaha di sektor pertanian. 

Salah satunya, Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian menyelenggarakan Kegiatan TIK-Talk (Tani Inspiratif Kekinian Talkshow) dengan tema Pertanian itu Keren di Ruang Selasar Lantai I Gedung PIA Kanpus Kementan.

Pada kegiatan tersebut terdapat 3 topik utama antara lain Manajer kopi Malabar membahas tentang cara keren memasarkan hasil pertanian, Influencer/CEO @ternaq.indonesia membahas tentang bisnis pertanian keren pilihan selebriti, sedangkan Founder S3 Farm membahas tentang usaha keren sayuran hidroponik.

Kisah penuh perjuangan

Manajer Kopi Malabar Tiara Dwi Rahayu menyampaikan kisah perjuangannya menggeluti usaha kopi.Berawal dari orangtuanya yang semula berprofesi petani sayuran, ia dikenalkan budidaya kopi dan diajak tanam kopi sejak kelas 3 SD oleh sang ayah.

Di tahun 2008, bisnis kopi belum seperti saat ini. Ia juga belajar pengembangan kopi saat kunjungan turis ke daerahnya dan akhirnya ia terus berkomitmen hingga sukses mengekspor kopi ke negara Kuwait pada tahun 2009 sebanyak 6 ton. 

“Saya mengenal dan belajar tentang kopi sejak kelas 3 SD dengan kebun kopi seluas 1 ha, dengan 1 ha kopi ini bisa membiayai sekolah hingga kuliah, dan memenuhi kebutuhan hidup kami,” ujar Tiara, dikutip Selasa (19/10/2021).

konsisten hadapi tantangan

Kopi malabar ada 4 proses, Lanjut Tiara, paling favorit di kopi malabar yaitu dry hull, cita rasanya masih masuk ke lidah semua orang.

“Di Indonesia, penyebaran Kopi Malabar ini semakin meluas, sudah cukup banyak, sedangkan untuk pasar luar telah menjangkau Singapura, Taiwan, Jepang, dan direncanakan akan coba tembus negara Eropa yaitu London,” lanjutnya.

Tantangan

Tantangan tentu saja tak bisa dihindari, Ia bercerita jika fase perubahan dari kebun sayur ke kopi, di tahun 2002 orangtuanya mengolah atau mengembangkan kopi tentunya tidaklah mudah, sangat kompleks, namun ia dan keluarganya terus giat mencoba selama 2 tahun, walau menemui kegagalan tak mematahkan semangatnya.

Menurutnya, Titik terang muncul di tahun 2004 berhasil mendapatkan benih kopi yang bagus dari daerah Medan, dan bisnis kopinya semakin membaik hingga kini.

“Terjun bisnis kopi ini harus siapkan mental, berani rugi, aktif mencari peluang pasar, dan ketika menghadapi kegagalan harus bangkit, fokus usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan sebisa mungkin bermanfaat bagi sekitarnya,” tutup dia.

 

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Kisah Okhome, Startup Jasa Layanan Kebersihan Rumah yang Raih Pendanaan Seri A
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Cerita Brand Lokal Berbisnis Mukena Kain Bali hingga 2 in 1 yang kini Menjadi Best Seller