Sukses

Health

Kenali Faktor Risiko Preeklampsia yang Bisa Membahayakan Ibu dan Janin

Fimela.com, Jakarta Preeklampsia merupakan gangguan tekanan darah yang hanya terjadi pada kehamilan dan dapat menyebabkan komplikasi. Termasuk kerusakan pada organ vital khususnya ginjal dan hati.

Preeklampsia menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian ibu dan bayi di setiap negara, termasuk Indonesia. Bahkan faktor risiko preeklampsia di Indonesia memiliki angka kematian perinatal tertinggi di ASEAN.

Sayangnya, masih ada masyarakat, khususnya ibu hamil yang belum memiliki pemahaman mumpuni tentang preeklampsia dan risiko yang ditimbulkan.

“Preeklamsia itu per definisinya adalah halilintar atau petir, karena sifatnya silent killer (pembunuh senyap-tidak ketahuan). Sekalinya muncul itu bisa membahayakan ibu dan janin,” kata Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda, dr Aditya Kusuma dalam webinar Roche, Selasa (12/10/2021).

Faktor risiko preeklampsia

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko ibu hamil mengalami preeklamsia. Beberapa faktor tersebut di antaranya kehamilan di bawah usia 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, kehamilan pertama, memiliki riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, riwayat preeklamsia dalam keluarga, kehamilan kembar, ibu dengan obesitas, serta ibu yang memiliki penyakit ginjal atau hipertensi kronis.

“Kehamilan kembar itu risikonya tinggi, orang awam kebanyakan ingin kehamilan kembar, tapi kalau di kedokteran ini double trouble,” tutur dr. Aditya.

Gejala preeklampsia

dr. Aditya menjelaskan, preeklamsia setidaknya telah menyebabkan 76.000 kematian pada ibu hamil dan 500.000 janin di seluruh dunia. Komplikasi ini biasanya ditandai dengan tekanan darah tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi.

Sayangnya, diagnosis preeklampsia terkadang terlewatkan karena banyak gejalanya tertutup oleh keluhan umum kehamilan seperti kaki bengkak, sakit kepala atau mual.

“Gejala-gejala preeklamsia tidak dirasakan pada awal kehamilan dan baru terlihat saat memasuki usia kehamilan 20 minggu. Sehingga, banyak ibu hamil yang terlambat dalam mendapatkan penanganan yang tepat ketika kondisi preeklamsia yang dimiliki sudah membahayakan ibu dan janin,” kata dr. Aditya

Umumnya, gejala preeklamsia yang harus diwaspadai adalah sakit kepala yang parah, gangguan penglihatan, tekanan darah tinggi, naiknya berat badan dengan cepat, mual, sakit kepala pada area abdominal, protein pada urine, hingga bengkak pada kaki.

Risiko preeklampsia jika terlambat ditangani

Jika tidak ditangani segera, preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan fatal bagi ibu dan bayi. dr. Aditya menjelaskan Preeklamsia memiliki berbagai risiko bagi ibu dan janin dalam jangka pendek maupun panjang.

Beberapa risiko tersebut di antaranya persalinan prematur, berat badan bayi rendah saat lahir, placenta abruption, kejang yang dapat berkembang menjadi eclampsia hingga Kematian.

Deteksi dini preeklampsia

Deteksi dini preeklampsia menjadi hal yang perlu diperhatikan sejak awal kehamilan. Di mana, para ibuhamil saat ini dapat mengakses pengujian preeklamsia lewat tes darah di berbagai rumah sakit dan laboratorium.

Salah satu inovasi untuk deteksi preeklampsia adalah tes darah dengan menggunakan biomarker sFlt-1/PlGF yang kini dapat memprediksi kemungkinan terjadinya preeklampsia pada kehamilan, bahkan sejak trimester pertama kehamilan.

Tentunya semakin dini kondisi preeklamsia dapat diprediksi, maka dokter dan ibu hamil dapat memberikan perawatan yang lebih cepat dan tepat. Inovasi ini merupakan yang pertama di dunia untuk mendeteksi preeklampsia pada tahap awal kehamilan.

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Ibu Hamil & Menyusui Boleh Disuntik Vaksin Covid-19, Ketahui Syarat dan Jenis Vaksinnya
Artikel Selanjutnya
Panduan Penggunaan Skincare yang Aman bagi Ibu Hamil Berdasarkan Masalah Kulit