Sukses

Lifestyle

Mengubah Pola Hidup untuk Mengurangi Risiko Terkena Penyakit Keturunan

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Ratri Wardani

Saya tidak terlahir dari sebuah keluarga yang sangat aware dengan kesehatan. Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga biasa yang menjalani keseharian dengan pola hidup yang biasa saja. Makan-makanan berlemak, gorengan, minum es, dan junkfood sudah menjadi asupan nutrisi yang mungkin setiap hari masuk ke dalam tubuh saya. Pola hidup tidak teratur. Tidur tengah malam, jarang berolahraga, dan jarang berjemur di bawah sinar matahari pagi juga sudah menjadi rutinitas saya setiap harinya. Ditambah lima hari kerja membuat saya semakin tidak terkontrol dalam mengatur pola hidup saya.

Saya benar-benar lalai dengan cara hidup saya sendiri. Seolah saya lupa bahwa banyak penyakit keturunan yang sebenarnya mengancam diri saya. Kedua kakek dan nenek dari ayah dan ibu memang memiliki riwayat penyakit yang bisa saja diwariskan kepada anak cucunya—termasuk saya.

Beberapa puluh tahun silam, sebelum saya lahir, tante saya mengalami sakit Hepatitis B. Kala itu, usianya masih sangat muda, mungkin sekitar SMA. Berawal dari rasa sakit dan nyeri di perut, lama-kelamaan semakin memburuk kondisinya. Maklum, kala itu dokter tidak dapat ditemukan dengan mudah seperti sekarang ini. Penyakit ini bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh. Sekian minggu beliau terbaring di rumah sakit, hingga pada akhirnya tante harus menghembuskan napas terakhirnya di usia yang masih sangat belia.

Selang beberapa tahun setelahnya, nenek saya pun mengalami hal yang sama. Nyeri perut yang dirasakan dikira hanya sebatas maag biasa saja. Berobat ke dokter terdekat, diberi obat dan tak kunjung sembuh. Setelah tidak kuat, barulah nenek dibawa ke sebuah rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Saat  itu kendaraan memang tak banyak seperti sekarang. Sehingga, keluarga pun cukup kesulitan untuk membawanya ke sana. Tak jauh kondisinya dengan tante, nenek pun kembali ke hadapan Tuhan dengan diagnosa penyakit Hepatitis B.

Semenjak saat itu, kekhawatiran keluarga semakin naik. Apalagi ibu—satu-satunya orang—yang selalu mengurusi tante ataupun nenek ketika sakit. Seperti yang kita tahu, bahwa penyakit Hepatitis B adalah penyakit yang menular dan mungkin sulit untuk disembuhkan. Mengingat hal ini, kesehatan ibu seharusnya menjadi nomor satu.

Anggota Keluarga yang Jatuh Sakit

Tak hanya di situ, setelah sekian tahun berlalu semenjak kepergian nenek dan tante, kakek saya pun harus kembali dipanggil Tuhan. Kondisinya berbeda, bukan penyakit Hepatitis B yang diderita, namun meninggal secara mendadak—angin duduk—mungkin orang awam menyebutnya. Saat itu tidak ada tanda-tanda apa pun. Tidak heran, jika anggota keluarga saya yang lain pun juga syok ketika mendengar berita kepergian kakek yang begitu mendadak. Kakek memang memiliki riwayat penyakit darah tinggi yang bisa saja diturunkan kepada anak cucunya—termasuk saya. Sayangnya, kakek ataupun anggota keluarga yang lain kala itu tidak menyadari akan riwayat penyakit tersebut. Ditambah pola hidup kakek yang juga bisa dibilang kurang sehat. Sehingga menambah daftar penyebab beliau mengalami penyakit jantung.

Duka itu memang begitu menyedihkan. Sangat disayangkan, kondisinya kala itu saya belum lahir. Saya menulis ini bersumber dari cerita ibu yang setia menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir supaya saya lebih aware dengan kesehatan saya sendiri.

Ketika saya duduk di bangku kelas 4 SD, saya pun kembali harus menghadapi kenyataan yang begitu pahit. Ayah—sosok lelaki yang begitu saya cintai—juga harus kembali menghadap Sang Ilahi. Lagi-lagi, penyakit Hepatitis B menjadi penyebabnya. Setelah hampir sepuluh tahun lebih, virus itu akhirnya kembali muncul dan menjadi parasit di tubuh Ayah. Berita duka itu saya dengar tepat pada pukul 01.00 dini hari setelah selama dua minggu saya tidak bisa bertemu Ayah karena beliau di rawat di rumah sakit. Rasanya bercampur aduk, takut, sedih, gelisah, tidak dapat diutarakan dengan kata.

Ya sudahlah, semuanya sudah menjadi ketentuan terbaik dari-Nya. Sejak saat itulah, saya sekeluarga langsung melakukan vaksinasi untuk mencegah penularan virus Hepatitis B. Harganya cukup mahal, sehingga perlu biaya yang cukup banyak untuk lima orang.

Lagi dan lagi, selang beberapa tahun setelah kepergian Ayah, kembali kabar yang menyayat hati datang dari kakak yang bekerja di perantauan. Beliau mengabarkan bahwa dirinya terinfeksi virus Hepatitis A. Sekejap, baik saya, ibu, ataupun kakak perempuan saya bingung sebingungnya. Maklum, kami hanya tinggal memiliki lelaki satu-satunya sebagai pengganti Ayah. Dan kini, ia pun juga tak berdaya dengan sakitnya. Segala bentuk usaha sudah dilakukan, baik medis ataupun non medis. Syukur yang paling dalam kami panjatkan kehadirat Allah, karena kakak laki-laki saya bisa survive dari sakitnya dan dinyatakan sembuh. Hal yang begitu membahagiakan dalam hidup.

Memperbaiki Pola Hidup

Tentu, kejadian-kejadian seperti itu tak ingin kembali terulang. Nikmat sehat adalah salah satu nikmat yang harus disyukuri dalam kehidupan ini. Selain harganya mahal, ternyata sehat begitu berharga. Sayangnya, kami mungkin lalai untuk bersyukur atas nikmat sehat yang diberikan.

Unfortunately, tepat pada tanggal 5 Januari 2019 lalu, Ibu mengalami nyeri dada yang hebat pada malam hari. Setelah diperiksa, ternyata beliau mengalami penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan ibu mendadak pingsan ketika mengantre ke dokter. Saat-saat itulah, hidup saya seketika hancur. Bagaimana tidak? Ibu saya adalah satu-satunya separuh hidup yang saat ini saya miliki. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah melalui dokter-dokter yang hebat, ibu mulai membaik, meski masih harus mengonsumsi obat seumur hidupnya.

Segala yang terjadi pada keluarga saya sungguh sangat memberikan arti yang mendalam, khususnya pada pola hidup yang perlu kami ubah mulai saat ini. Semenjak ibu sakit, pola hidup saya sekeluarga mulai berubah total. Adapun perubahan pola hidup tersebut antara lain:

1.   Tidak makan-makanan yang berlemak (jeroan, gorengan, dan santan). Penggunaan santan diganti dengan creamer yang lowfat untuk mengurangi lemak yang masuk ke dalam tubuh.

2.    Mengurangi konsumsi garam dan gula berlebih.

3.    Memperbanyak asupan nutrisi dari buah dan sayur.

4.    Memperbanyak minum air putih dan madu hangat.

5.    Olahraga ringan secara teratur.

6.    Tidak tidur terlalu larut malam.

Di masa pandemi seperti ini, saya juga berusaha untuk membawa alat makan,alat salat, ataupun keperluan pribadi sendiri, agar tidak bercampur dengan orang lain. Pola hidup sehat seperti saya sebutkan di atas belum sepenuhnya kami laksanakan secara maksimal. Semuanya berproses sedikit demi sedikit.

Berharap, semoga pola hidup yang lebih baik tersebut dapat kami laksanakan semaksimal mungkin. Penyakit keturunan bisa saja mengancam, namun mengurangi kadar risikonya bisa dilakukan dengan pola hidup sehat mulai dari sekarang!

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
3 Cara Mengelola Keuangan agar Tidak Tekor saat Akhir Bulan
Artikel Selanjutnya
RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Ditarik dari Prolegnas Prioritas DPR 2020