Sukses

Lifestyle

Tidak Perlu Sok Kaya jika Uang Pas-pasan

Fimela.com, Jakarta Penulis: Rahul Mentari Lacamara

Pernahkah kalian menghitung berapa jumlah pengeluaran setiap harinya? Pasti kebanyakan di antara kalian tidak melakukan itu. Di masa pandemi dan dalam kondisi menganggur seperti saat ini, saya baru menyadari betapa banyaknya uang saya yang terhambur dengan percuma karena saya malas mengevaluasi keuangan saya.

Kebanyakan orang saat ini sadar atau tidak menghamburkan uang mereka dengan tidak terkontrol, membeli minuman hits kekinian setiap hari, membeli banyak makanan di hari payday, hingga belanja-belanja yang tidak terlalu penting lewat online shop karena tergiur diskon besar-besaran.

Teman saya menyebutnya, 'Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita', nyatanya ini dilakukan oleh mayoritas dari kita hingga tanggal tua terasa sangat menyedihkan bagi kita yang tidak pintar mengatur keuangan sendiri.

Gaji yang setiap tahun naik masih saja kurang bagi sebagian orang, meskipun benar ada banyak harga dari kebutuhan sehari-hari yang naik, namun gaya hiduplah yang justru menjadi lintah yang menggerogoti penghasilan kita.

Menyedari Pentingnya Mengatur Keuangan Setelah Menganggur

Saya mulai menyadari setelah menganggur nyaris setahun, betapa banyaknya uang yang saya dapatkan setiap harinya selama bekerja justru berbanding terbalik dengan uang yang bisa saya tabung. Uang tabungan yang bahkan tidak sampai setengah gaji saya selama setahun itu justru masih bisa memenuhi kebutuhan saya sampai saat ini, ya beruntung saya masih tinggal bersama dengan orang tua, namun sebelumnya saat saya bekerja juga saya tinggal bersama mereka, lalu semuanya terasa sama saja, kecuali kebiasaan boros saya yang harus saya hentikan.

Saya tidak pernah menghitung berapa kali saya mengunjungi mall di dekat kantor karena hampir setiap hari saya pergi ke mall, saya bukan orang yang sering membeli pakaian, sepatu ataupun tas, uang itu lebih banyak habis untuk membeli makanan yang fotonya saya bagikan ke Instagram, belakangan saya menyesali betapa buruknya kebiasaan saya saat membandingkan teman saya yang dengan gaji sama sudah berhasil membeli mobil tetapi saya hanya memiliki motor hasil mengikuti arisan selama setahun.

Sekarang saya membuka bisnis konter kecil-kecilan di rumah, setiap harinya saya memantau pemasukan dan pengeluaran saya, saya memasukan kebutuhan genting saya pada daftar belanja teratas, memasukkan yang penting di urutan berikutnya dan menyimpan keinginan saya di urutan akhir. Saya juga menabung di tiga tabungan berbeda, tabungan bank biasa, investasi pasar uang dan deposito. Saya masih belajar untuk terus memperbaiki manajemen keuangan saya sendiri, agar di kemudian hari tidak ada lagi kebiasan BPJS.

#ChangeMaker

;
Loading