Sukses

Lifestyle

Mutasi Virus Corona D614G di Indonesia Sudah 69 Persen, Ini Alasannya

Fimela.com, Jakarta Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menyebut pada Kamis sore, 21 Januari 2020 bahwa meningkatnya kasus virus corona di Indonesia tidak ada kaitannya dengan varian virus corona B117 asal Inggris. Melainkan virus corona D614G.

Hal ini diketahui dari hasil pelacakan whole genome sequencing yang dilakukan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang menemukan ternyata virus corona paling banyak ditemukan di Indonesia adalah jenis D614G.

Dilansir dari Liputan6.com, Kepala LBM Eijkam Amin Soebandrio menuturkan bahwa 99 persen virus SARS-CoV-2 telah membawa mutasi D614G.

"Di Indonesia sejauh ini D614G ini masih sekitar 69 persen, tetapi juga kalau kita lihat di bulan-bulan yang sama misalnya Oktober hingga belakangan mungkin persentasenya agak lebih banyak," Ungkapnya. 

 

Akibat pergerakan manusia

Sementara itu terkait penularan, Amin mengatakan belum ada yang dapat membuktikan mutasi virus corona D614G dapat jauh lebih menular. Penyebaran yang lebih banyak justru karena pergerakan manusia. Artinya virusnya sendiri tidak beterbangan ke sana kemari.

Amin menuturkan mutasi virus corona sudah ada sejak awal tahun lalu namun masih terlokalisasi di satu negara. Pada Maret 2020, jumlahnya menjadi sekitar seribu dan naik cepat hingga menyebar ke benua lain.

Berdasarkan pada temuan di laboratorium, Amin menyebut cepatnya penyebaran karena pergerakkan. Selain itu, indikasi virus yang lebih cepat menginfeksi juga belum ditemukan data yang valid.

Mutasi virus corona lain yang ditemukan di Indonesia, adalah Q677H. Namun, mutasi virus ini bukan mutasi mayor dan hanya lima di Indonesia. Pada mutasi virus corona B117 yang disebut-sebut jauh lebih mudah menular, Amin mengatakan mereka belum diidentifikasi di Indonesia.

Simak video berikut ini

#Elevate Women

;
Loading