Sukses

Lifestyle

10 Foto Kehidupan di Afganistan Sebelum Dikuasai Rezim Taliban

Fimela.com, Jakarta Melihat keadaan Afganistan saat ini, mustahil rasanya jika kamu tak miris hati. Konflik, serangan, dan perang menjadi 'makanan' yang warganya harus hadapi setiap hari dalam kehidupan mereka. Semenjak rezim Taliban berkuasa pada tahun 90-an, pelarangan sekolah untuk anak-anak, kekerasan terhadap perempuan, perampasan hak asasi manusia menjadi hal yang lumrah di sana.

Contoh kecilnya, setiap perempuan diwajibkan memakai burka alias sebuah pakaian yang membungkus seluruh tubuh, laki-laki diwajibkan memelihara jenggot, dan tak ada acara televisi, musik dan bioskop di sana. Namun, tahukah kamu? Jauh sebelum pembatasan-pembatasan kejam oleh Taliban, Afganistan adalah adalah sebuah negara yang damai dan indah.

Di mana kehidupan berjalan tanpa teror serangan, anak-anak bisa mengeyam pendidikan, dan para warga bebas berkeliaran di jalan tanpa dihantui ketakutan. Dikutip dari Dailymail.co.uk, seorang profesor universitas, Dr Bill Podlich dari Arizona membeberkan beberapa foto kehidupan di Afganistan pada tahun 60-an, di mana ia pindah ke sana dari Amerika bersama keluarganya.

Menggunakan film Kodachrome, gambar Bill Podlich menunjukkan Afghanistan yang damai dan kontras dengan pemandangan mengerikan selama rezim Taliban berkuasa saat ini. Berikut 10 foto di antaranya.

Parkiran mobil di Afganistan. (Via: dailymail.co.uk)

Mendekorasi kue. (Via: dailymail.co.uk)

The American International School of Kabul. (Via: dailymail.co.uk)

Memilih-milih scarf di pasar. (Via: dailymail.co.uk)

Kakak dan adik berjalan di keramaian kota. (Via: dailymail.co.uk)

Di bawah pohon. (Via: dailymail.co.uk)

Nongkrong bareng. (Via: dailymail.co.uk)

Pelajar SMA di Afganistan. (Via: dailymail.co.uk)

Taman kanak-kanak. (Via: dailymail.co.uk)

Gadis muda di Paghman Garden. (Via: dailymail.co.uk)

Loading
Artikel Selanjutnya
Kisah Pilu Fotografer Perempuan Afghanistan Tinggalkan Negaranya hanya Berbekal Kamera
Artikel Selanjutnya
Kisah Mantan Menteri Afganistan Beralih Prosesi Menjadi Kurir Pizza di Jerman