Sukses

Lifestyle

Perempuan, Kuat Menopang Ekonomi Keluarga Tanpa Mengeluh

Next

Namanya Sum, biasa dipanggil Mbok Sum. Umurnya, 40-an tahun. Tak pasti karena dia pun tak tahu kapan dia lahir. Orangtuanya bilang, dia lahir sekitar tahun 1970. Namun, dalam akta lahir yang dibuat sekadar formalitas, bulan kelahirannya tercatat Mei  1973. Sum bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah keluarga secara turun-temurun. Sampai sekarang, sudah tiga generasi yang dia tangani. Di umur 8 tahun Sum memulai pengabdiannya. Umur 17, dia ditugaskan bekerja untuk anak majikan sampai umurnya menginjak kepala tiga, kemudian dia berganti mengabdi pada generasi ketiga sampai detik ini. Sum tak hidup sendiri, dia menikah 6 tahun lalu dengan seorang pekerja serabutan. Dikaruniai satu orang anak berumur 5 tahun, Sum mengaku kini menanggung semua biaya hidup keluarga kecilnya itu.

Sejak menikah, Sum mengontrak sebuah kamar kecil yang hanya cukup diisi sebuah kasur dan beberapa perlengkapan rumah tangga. Dan untuk memenuhi kebutuhan harian, Sum sepenuhnya mengandalkan gaji yang tak seberapa, sementara sang suami menyumbang rezeki hanya saat mendapat proyek. Menjalani pekerjaan, belum lagi mengurus anak dan suami, juga rutin menutupi bermacam tagihan yang seharusnya menjadi tugas kepala keluarga, diakui Sum bukanlah hal mudah.

“Kendalanya mudah emosi kalau sedang capek, banyak pengeluaran, ditambah masih harus memikirkan masak apa untuk suami dan anak, sementara suami kerjanya hanya tidur-tiduran atau ke sana-sini mencari pekerjaan yang hasilnya sangat kecil. Sering saya mikir berumah tangga justru membuat beban hidup semakin berat. Namun, ya sudah disyukuri saja. Menikah itu amanah dan saya juga belajar lebih legowo, menghargai sekecil apa pun rezeki, dan sadar kewajiban sebagai istri untuk tetap menghormati suami apa pun kondisinya,” kata Sum. Ditanya soal gaji, malu-malu Sum mengungkapkan kalau gajinya tak sebesar asisten rumah tangga lain, karena dia bekerja atas dasar pengabdian pada keluarga yang sudah puluhan tahun bersamanya. “800 ribu sebulan, kadang diberi bonus sedikit untuk uang jajan anak. Cukuplah.”

Next

Perempuan hebat berikutnya adalah Ratmi. Selama lebih dari 15 tahun, dia rela memulai aktivitas tepat pukul 3 dini hari, berjalan dari perkampungan padat penduduk di Jakarta Timur dengan membawa barang dagangan yang tak ringan, menuju sebuah pasar tradisional di Jakarta Barat. Dan, baru berkemas menjelang maghrib. Beristirahat beberapa jam cukup baginya. Sering, waktu istirahat juga dia gunakan untuk mengerjakan hal lain yang bisa menghasilkan uang tambahan, misalnya menjahit. Berdagang buah baginya adalah mata pencaharian utama, satu-satunya modal untuk makan setiap hari, menghidupi 3 anak sekaligus menyekolahkan mereka.

Suaminya, Jarmo, memang tak mampu lagi menjadi tulang punggung keluarga sejak kecelakaan yang mengharuskan kedua kakinya diamputasi. Keterbatasan fisik membuat Jarmo, dari supir angkutan barang, beralih profesi menjadi bapak rumah tangga, mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Berada di posisi seperti sekarang, perempuan berumur 34 tahun ini nyatanya tak menyesal. Dia percaya hidupnya sudah ada yang mengatur. “Lagipula suami saya bukan tak mau bekerja, tapi memang tak bisa. Sebagai orang kecil, ya menerima nasib saja. Masih beruntung suami saya mau mengerjakan sebagian tugas saya, jadi saya tenang meninggalkan anak-anak dan lebih giat mencari nafkah,” papar Ratmi di sela-sela melayani pembeli yang pagi itu cukup banyak. “Lumayan, tiap harinya bisa untung 50 ribu Rupiah, dipotong ongkos jalan sekitar 12 ribu Rupiah,” akunya jujur.

Next

Nasi uduk

Septi, penjual nasi uduk di salah satu daerah perkantoran, juga bekerja untuk menghidupi 5 anaknya. Sang suami sesekali membantunya berjualan, tapi lebih sering tak tampak di warung. “Biasalah, nongkrong di pos ronda untuk judi atau menerima orderan ojek. Begitu saja tiap harinya. Warung saya sudah punya pasar sendiri, tanpa bekerja saja rezeki sudah mengalir, mungkin begitu pikirnya. Uang hasil ojek atau iseng berjudi juga dipakainya sendiri untuk membeli rokok atau modal berjudi lagi, kadang saja berwujud mainan untuk anak-anak,” cerita Septi, yang tahun ini genap berumur 52 tahun.

Ditanya merasa keberatan atau tidak dengan posisinya sebagai pencari nafkah, Septi diam sejenak, merangkai kata, “Jujur ya, sering lelah. Saya bekerja mati-matian, bangun pagi-pagi, kadang dari malam sudah menyiapkan beberapa lauk sementara suami asyik sendiri. Pernah, dia menghilang karena kalah berjudi dan tak bisa membayarnya. Lalu, tiba-tiba muncul lagi. Mau tak mau menerima saja, demi anak-anak dan keutuhan rumah tangga. Kewajiban saya saat ini cuma mengusahakan kesejahteraan mereka. Ikhlas.” Septi terlihat menyimpan kesedihan, tapi ada kekuatan di baliknya yang memampukan dia bertahan dan rela berkorban demi orang-orang yang dia cintai. “Intinya, saya tetap bersyukur apa yang saya lakukan tak sia-sia. Hasil yang saya dapat juga lumayan. Itu saya anggap anugerah dari Tuhan atas keikhlasan saya selama ini,” tutupnya.

Ketiga perempuan ini hanya contoh kecil dari sekian banyak perempuan tulang punggung keluarga. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tak melupakan urusan rumah tangga. Sum, Ratmi, dan Septi pun tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga, walau mereka tak bisa, tak mau, maupun tak sanggup menghidupi keluarga yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Perempuan-perempuan seperti inilah yang pantas disebut perempuan hebat. Tak hanya mandiri untuk diri sendiri, mereka berani menjamin kesejahteraan orang lain, dan tetap ikhlas. Bahkan, tak lupa bersyukur atas hidup yang boleh mereka jalani, seberat apa pun itu.

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Kampanye #WomenSupportWomen, Kolaborasi Brand untuk Para Perempuan Indonesia
Artikel Selanjutnya
TENUN Fashion Week 2021, Apresiasi Perempuan Pegiat Tentun di Asia Tenggara