Sukses

Lifestyle

Berhenti Kerja Sementara Lalu Kembali Mungkinkah

Vemale.com - Cosmopolitan
Apakah Anda berada di pertengahan karier lalu tiba-tiba terpikir untuk 'istirahat sejenak?' Anda tak sendiri. Banyak karyawan yang merasa terjebak dalam situasi membosankan yang berlangsung secara konstan di dunia kerja. Beberapa dari mereka mulai bertanya-tanya apakah pekerjaan adalah satu-satunya tujuan dalam hidup. Sebenarnya masih ada hal lainkah yang bisa ditawarkan dunia? Simak pengakuan Hilda, 31 tahun, berikut ini. "Menghabiskan hari demi hari di bawah penerangan lampu pijar di kantor, menghadiri meeting, mencapai target dan deadline, lama-lama terasa bagaikan dikurung penjara di mana saya baru bebas saat jam 5 tiba," kisahnya. Namun tak selamanya 'istirahat' dari karier diakibatkan oleh rasa frustasi. Terlebih buat wanita. Pada satu titik perjalanan karier, seorang wanita pasti dihadapi oleh pilihan hidup yang memengaruhi peran profesional mereka di dunia kerja. Mayoritas akibat membesarkan anak dan/atau pindah mengikuti pasangan hidup. Ada juga akibat pengurangan tenaga kerja saat perusahaan harus mempertahankan diri dalam situasi finansial kritis. Bersama dua pakar karier, kali ini Cosmo bahas satu per satu kasusnya, baik yang karena keinginan sendiri maupun yang tak bisa dihindari. Dan, bagaimana cara paling profesional untuk kembali ke dunia kerja setelahnya. Akibat: Frustasi Dengan Dunia Kerja Mengakui bahwa Anda butuh istirahat dari karier tak selamanya berarti Anda benci bekerja. Pada satu titik tertentu dalam perjalanan karier, seorang karyawan pasti butuh untuk mendedikasikan waktunya buat keperluan pribadi. Tak terkecuali untuk refreshing setelah didera stres akibat pekerjaan yang tiada henti. "Saat tingkat konsentrasi dan kinerja Anda merosot tajam, bisa jadi Anda mengalami sebuah keletihan fisik dan psikologis akibat bekerja," jelas Sylvina Savitri, konsultan karier dari Experd. "Dan, mengambil career break bisa memberikan manfaat berupa penyegaran bagi otak dan raganya atau dengan kata lain recharging tenaga dan pikiran agar dapat bekerja dengan lebih maksimal." Sang pakar juga menambahkan bahwa bila keputusan refreshing tersebut berhasil memompa energi dan pikiran Anda kembali, keuntungan selanjutnya justru bisa berupa prestasi kerja yang lebih bersinar! Sebelum 'istirahat' kerja: meninggalkan tanggung jawab yang selama ini sudah diemban bisa menjadi beban tersendiri saat memutuskan untuk meninggalkan dunia kerja untuk sementara. Rencana matang juga dibutuhkan untuk memastikan Anda benar-benar bisa "istirahat" dengan tenang.
  • Jangan mendadak. Oke, mungkin ide untuk meninggalkan segala tetek bengek karier bisa terbit dengan tiba-tiba, bukan berarti Anda bisa langsung berbenah meja di kantor lalu pergi begitu saja. "Atasan dapat merasa 'sakit hati' bila Anda meminta izin untuk career break secara mendadak," peringat Sylvina, sang konsultan karier. "Bukan itu saja, tindakan tersebut dapat berimbas buruk pada masa depan karier jika suatu saat Anda memutuskan untuk kembali," tambahnya.
  • Komunikasikan secara detail. Apapun itu alasan dan tujuan yang mendorong Anda untuk vakum dari dunia kerja, sampaikan dengan jelas kepada atasan. "Alangkah baiknya bila penjelasan Anda diungkapkan sejujur-jujurnya," saran Chandra Ming, GM JobDB Indonesia. "Berbohong atau mengarang-ngarang alasan sangat tidak disarankan!"
  • Tunjukkan tanggung jawab. Pergunakan masa one month notice untuk tangani masalah teknis penyelesaian tugas-tugas yang akan Anda tinggalkan. "Terlibatlah secara aktif dalam membantu mencari seseorang yang dapat menggantikan Anda," usul Chandra Ming. "Hal ini menjadi kunci penting agar citra profesional Anda tetap terjaga di mata bos."
Akibat: PHK Anda diberhentikan dari kerja dan sekarang menganggur. Begitu juga sekitar 13.7 juta orang lain. Ya, PHK bisa terjadi pada siapapun, kapanpun dan akibat banyak hal. Krisis finansial yang memaksa perusahaan untuk mengurangi tenaga kerja, perusahaan melebur dengan yang lain dan menuntut perubahan staf, departemen yang direstrukturisasi, atau karena performa kerja tidak memenuhi harapan bos. Apapun alasannya, keputusan tersebut membuat Anda tak hanya kehilangan pemasukan tiap bulan tapi bisa juga rasa percaya diri. "Untuk menghadapi kondisi seperti ini, karyawan yang di PHK tidak boleh berdiam diri," saran Sylvina Savitri. "Bila Anda salah satunya, segera ambil tindakan agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan. Sebab, rasa sedih yang berkepanjangan bisa hasilkan stres." Ketimbang berkubang dalam kekecewaan lalu frustasi. Sylvina justru mengimbau Anda untuk mengambil sisi positif dari kondisi yang kurang menguntungkan ini. "Hal buruk seperti tidak memiliki pekerjaan ini bisa tetap dianggap fun, supaya semangat Anda untuk mencari kegiatan ataupun pekerjaan baru bisa meningkat. Mulailah dengan merangkul moto ini : "hilang satu pekerjaan, maka pekerjaan lain harus didatangkan! Selama tak bekerja: ingat, dipecat tak selamanya dipandang buruk apalagi bikin Anda didiskualifikasi dari pekerjaan lain di masa depan asalkan Anda membicarakan topik ini dari segi yang membangun.
  • Hindari sakit hati. Diberhentikan dari perusahaan memang bisa menyurutkan rasa percaya diri, namun coba untuk tidak memandang pengalaman tersebut dalam bentuk penolakan Anda sebagai seorang pribadi. Apalagi sampai secara perlahan-lahan menghancurkan harga diri Anda. Ingat, calon perusahaan bisa mengendus sikap rendah diri. Berhenti mengasihani diri dan ubah rasa gelisah menjadi energi untuk menjalani suatu awal yang baru.
  • Namun tetap tingkatkan keahlian. Bila sikap buruk atau salah satu keahlian Anda berperan dalam terminasi pekerjaan, putuskan untuk segera berubah jadi lebih baik. Bila masa absen dari karier Anda isi dengan training atau keterlibatan dalam organisasi non profit misalnya, resume Anda akan lebih "menjual" karenanya!
  • Terbuka saja. Saat wawancara kerja, sangat penting buat Anda untuk menginformasikan hal tersebut secara langsung. Jelaskan alasan di belakang pemberhentian kerja Anda dan seberapa banyak yang Anda pelajari dari pengalaman tersebut. Bila ternyata kesalahanlah yang mengakibatkan PHK, jelaskan juga bahwa Anda tak akan mengulanginya. Penjelasan ini bisa membuat calon atasan lebih nyaman dalam mengambil keputusan.
Akibat: Fokus pada Peran Pribadi Menikah, mengasuh anak atau mengikuti langkah kepala keluarga jadi beberapa alasan di belakang berhentinya seorang wanita dari pekerjaan untuk sementara. "Cukup banyak karyawan wanita yang memilih untuk 'merumahkan' diri dengan sukarela, dan biasanya terjadi pasca melahirkan," jelas Chandra Ming. "Bukan tak mungkin kelahiran sang buah hati membuat Anda merasa lebih betah di rumah sehingga memilih untuk fokus pada rumah tangga ketimbang karier di kantor," tambahnya. Di lain pihak, situasi krisis ekonomi global sekarang ini yang membuat harga kebutuhan hidup serba mahal dan sulit mencari kerja juga membuat khawatir para wanita. "Terkadang hasrat ingin meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga berbenturan dengan kondisi yang ada di sekitar seorang karyawan wanita. Bukan tak mungkin Anda sampai harus berpikir seribu kali sebelum benar-benar mengundurkan diri untuk sementara dari dunia kerja," jelas Sylvina. Selama masa transisi: perubahan dari peran karyawan menjadi ibu rumah tangga bisa menjadi situasi yang penuh dilema. Terutama buat Anda yang secara gamblang atau diam-diam sudah merencanakan hendak kembali meneliti karier setelah peran istri atau ibu telah dikuasai dengan baik. Agar tidak tenggelam dalam dunia popok sehingga amnesia terhadap alam korporat, hindari beberapa pemikiran ini:
  • "Saya secara resmi telah dibatasi." Mengundurkan diri dari karier justru membentangkan aneka kesempatan berbeda. Jadi, kenapa harus membatasi diri dengan memenjarakan diri di rumah? Lakukan sesuatu yang selama ini sudah Anda impi-impikan untuk dilakukan dulu saat Anda justru merasa "terpenjara" oleh rutinitas kantor. Sangatlah mungkin buat Anda untuk bermimpi setinggi-tingginya dan membuatnya jadi nyata. Entah itu membantu orang atau lingkungan, mempelajari budaya Mesir kuno atau bidang fotografi. Sala sekali tak ada batas!
  • "Saya tak mungkin bisa kembali kerja." Bisa jadi Anda begitu menjiwai peran pribadi yang sudah dipilih lalu merasa Anda bukanlah insan profesional seperti sebelumnya. Bahwa karier yang pernah dirintis tak lagi sesuai dengan Anda. Jangan tutup kemungkinan untuk kembali bekerja, karena hal itu bisa saja muncul tanpa rencana ataupun niat. Sebaliknya, persiapkan segala hal yang mungkin dibutuhkan saat Anda memutuskan untuk kembali. Pastikan Anda tahu, dan dapat mengungkapkan secara jelas, segala keuntungan yang telah Anda pelajari selama menjalani fase tak bekerja tadi.
Strategi Kembali Kerja Kemungkinan Anda untuk kembali melanjutkan karier sangatlah besar, namun tantangan yang perlu Anda hadapi juga beragam. Namun tak ada yang tak bisa diatasi, kan? 1. Jual diri secara efektif. Satu hal penting yang harus dilakukan setelah lama vakum adalah kembali "memasarkan" tenaga profesional Anda. Sebuah resume baru berisi semua keahlian dan pengalaman yang sudah Anda dapatkan, baik sebelum dan selama masa istirahat kerja, merupakan bekal pertama Anda untuk menembus kembali ke dunia korporat. 2. Hadapi perubahan. Ketika kembali ke perusahaan yang sama atau justru yang sama sekali berbeda, satu hal tetap berlaku: Anda akan menghadapi sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang sudah terbiasa dilakukan selama masa vakum kerja. "Suasana kerja pasti akan sangat berbeda dengan saat Anda meninggalkannya dulu," Chandra Ming mengingatkan. "Bukan saja kolega kerja telah berganti, sistem kerja juga bisa jadi telah mengalami berbagai macam perubahan. Penyesuaian layaknya karyawan baru perlu Anda lakukan agar kinerja dapat kembali optimal seperti yang diharapkan," lanjutnya. 3. Update info dan keahlian. Setelah otak dan keahlian "cuti" selama beberapa waktu, penting buat Anda untuk membekali diri lagi. Memang tidak mudah, bahkan sangat menakutkan, layaknya bekerja untuk pertama kali. Sebab, teknologi terus berubah dari hari ke hari. Apa yang sudah Anda kuasai tak lagi relevan dan kompetisi ada dimana-mana. Jadi bila sudah bertekad untuk kembali. Kerahkan semua daya upaya Anda agar semua persyaratan kerja yang dibutuhkan dapat Anda penuhi.[initial] Source: Cosmopolitan, Juli 2009, halaman 224 Provided by:
(Cosmo/bee)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    What's On Fimela
    Loading