Sukses

FimelaMom

Kenali Alasan Metode Gentle Parenting Sulit Dilakukan oleh Sebagian Orangtua

ringkasan

  • <em>Gentle parenting</em> sering disalahpahami sebagai pola asuh permisif, padahal menekankan batasan yang jelas dan konsisten, serta menuntut kesabaran dan regulasi emosi tinggi dari orang tua yang dapat memicu kelelahan.
  • Latar belakang masa kecil orang tua dan kondisi neurodiversitas mereka, seperti ADHD atau kecemasan, dapat menghambat kemampuan menerapkan gentle parenting.
  • Penerapan <em>gentle parenting</em> membutuhkan waktu dan konsistensi signifikan, mungkin kurang efektif untuk kepribadian anak yang sangat menantang, serta dapat menimbulkan perasaan tidak cukup karena kurangnya hasil instan

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, konsep gentle parenting semakin populer dan menarik perhatian banyak orangtua di era modern ini. Pendekatan pengasuhan yang mengedepankan empati, komunikasi, dan rasa hormat ini sejalan dengan penelitian terkini mengenai perkembangan anak dan kesejahteraan emosional. Tujuannya adalah membangun hubungan kuat yang didasari rasa saling percaya antara orang tua dan anak, serta membentuk individu yang mandiri dan percaya diri.

Meskipun demikian, di balik popularitasnya, tidak sedikit orangtua yang justru merasa kewalahan atau kesulitan saat mencoba menerapkannya. Penerapan gentle parenting bisa terasa hampir mustahil bagi sebagian pengasuh, bahkan memicu perasaan tidak cukup atau kelelahan. Hal ini bukan berarti orangtua tersebut gagal, melainkan ada berbagai faktor kompleks yang membuat pola asuh ini menjadi tantangan tersendiri.

Lalu, mengapa gentle parenting yang terdengar ideal ini justru sulit bagi sebagian orangtua? Mari kita selami lebih dalam alasan-alasan di balik tantangan tersebut, mulai dari kesalahpahaman hingga tekanan sosial dan kondisi pribadi yang unik. Memahami tantangan ini dapat membantu Sahabat Fimela menemukan dukungan dan strategi yang lebih realistis dalam perjalanan mengasuh anak.

Mitos dan Beban Emosional di Balik Gentle Parenting

Salah satu alasan utama mengapa gentle parenting terasa sulit adalah adanya kesalahpahaman yang meluas mengenai definisinya. Banyak orangtua keliru menganggap gentle parenting sebagai pola asuh permisif atau tanpa disiplin. Anggapan ini seringkali membuat orang tua merasa kewalahan dan tidak yakin bagaimana menetapkan batasan secara efektif, padahal gentle parenting justru menekankan pentingnya batasan yang jelas, konsisten, dan disampaikan dengan empati.

Kesalahpahaman lain adalah bahwa gentle parenting berarti anak selalu mendapatkan keinginannya tanpa konsekuensi. Padahal, pendekatan ini bukan tentang mengalah pada setiap tuntutan, melainkan tentang menetapkan batasan dengan cara yang hormat dan sesuai perkembangan anak. Gentle parenting berfokus pada mengajarkan regulasi emosional, pemecahan masalah, dan kerja sama, bukan sekadar kepatuhan melalui hukuman atau hadiah.

Di samping itu, gentle parenting menuntut tingkat kesabaran, empati, dan regulasi diri yang sangat tinggi dari orangtua. Upaya konstan untuk tetap tenang, empatik, dan pengertian, sambil menghindari metode disiplin tradisional, dapat menyebabkan stres dan kelelahan yang signifikan. Sebuah studi tahun 2024 bahkan menemukan bahwa lebih dari sepertiga pengasuh yang mengidentifikasi diri sebagai gentle parents melaporkan ketidakpastian dan kelelahan karena tekanan untuk memenuhi standar pengasuhan yang ketat. Ini menunjukkan bahwa beban emosional yang ditanggung orangtua dalam menerapkan pola asuh ini sangatlah nyata.

Pengaruh Latar Belakang dan Tekanan Sosial pada Penerapan Gentle Parenting

Latar belakang dan pengalaman masa kecil orangtua juga berperan besar dalam kesulitan menerapkan gentle parenting. Jika orangtua dibesarkan dalam lingkungan yang tidak memodelkan pola asuh empatik atau bahkan otoriter, mereka mungkin tidak memiliki 'cetak biru' bagaimana menjadi orang tua yang lembut. Meminta maaf kepada anak atau memberikan suara pada mereka bisa menjadi wilayah yang belum pernah dijelajahi oleh banyak orangtua.

Kondisi neurodiversitas pada orang tua, seperti ADHD, kecemasan, atau sensitivitas emosional yang tinggi, dapat semakin mempersulit mereka untuk mencontoh regulasi diri yang dibutuhkan dalam gentle parenting. Impulsivitas dan reaktivitas emosional dapat membuat respons yang tenang menjadi tantangan besar, terutama ketika menghadapi anak yang juga neurodivergen.

Selain itu, tekanan sosial dan budaya juga menjadi hambatan signifikan. Harapan budaya yang sering memprioritaskan kepatuhan dan konformitas dapat menyulitkan orangtua untuk menyimpang dari norma tradisional. Kritik dari anggota keluarga atau masyarakat yang menganggap gentle parenting terlalu 'lunak' atau 'memanjakan' dapat menambah tekanan dan membuat orang tua merasa terisolasi. Perasaan ini diperparah dengan informasi berlebihan di media sosial tentang cara mengasuh anak yang 'benar' atau 'salah', yang dapat membuat orang tua mempertanyakan setiap interaksi mereka.

Tantangan Praktis dan Ekspektasi dalam Gentle Parenting

Gentle parenting membutuhkan waktu dan upaya yang signifikan untuk diterapkan secara konsisten. Berbeda dengan gaya pengasuhan yang lebih otoriter, pendekatan ini menuntut kesabaran, waktu untuk memahami emosi anak, dan energi untuk mengekspresikan empati serta pemecahan masalah. Sulit untuk mempertahankan pendekatan yang tenang dan empatik di tengah kesibukan sehari-hari, tekanan waktu, dan stres lingkungan seperti pekerjaan atau masalah finansial.

Kepribadian anak juga menjadi faktor penentu. Beberapa anak secara alami memiliki kemauan keras atau sangat sensitif, yang dapat menguji kesabaran orang tua secara ekstrem. Strategi gentle parenting mungkin kurang efektif untuk perilaku menantang yang lebih serius, seperti agresi, atau untuk anak-anak yang lebih oposisional. Dalam kasus anak neurodivergen, strategi empati yang umum dalam gentle parenting bahkan dapat memperburuk situasi atau tidak efektif.

Terakhir, kurangnya panduan yang jelas dan informasi yang berlebihan menciptakan kebingungan. Definisi pasti dari gentle parenting seringkali tidak sepenuhnya jelas, dan banyaknya 'ahli' di media sosial dapat menyebabkan ketidakpastian. Mempelajari gentle parenting juga dapat menimbulkan perasaan tidak cukup, karena membaca teorinya lebih mudah daripada mempraktikkannya. Ini adalah pendekatan jangka panjang, dan kurangnya hasil instan dapat membuat orang tua merasa tidak efektif, padahal tujuannya adalah membentuk anak yang tangguh secara emosional, empati, dan percaya diri dalam jangka panjang.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading