Sukses

FimelaMom

Bantu Anak Lebih Percaya Diri dengan Strength Spotlight, Begini Cara Sederhana Menyorot Kekuatan Uniknya

Fimela.com, Jakarta - Setiap anak memiliki kekuatan unik yang sering kali tidak disadari oleh orangtua. Dalam keseharian, fokus kita kerap tertuju pada hal-hal yang dianggap kurang—anak yang mudah tantrum, sulit diatur, atau belum mandiri. Tanpa disadari, anak lebih sering mendengar koreksi dibandingkan apresiasi, padahal pengakuan atas sisi positif justru sangat berpengaruh pada perkembangan emosinya.

Padahal, anak yang tumbuh dengan perasaan dihargai akan lebih percaya diri dan berani mengenali dirinya sendiri. Salah satu pendekatan parenting yang kini mulai banyak diterapkan adalah Strength Spotlight, yaitu kebiasaan menyorot satu kekuatan positif anak setiap hari. Kekuatan ini tidak harus berupa prestasi besar, melainkan sikap-sikap kecil yang mencerminkan perkembangan emosi dan karakter anak.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep self-awareness social emotional learning, yaitu kemampuan anak untuk mengenali perasaan, memahami dirinya, dan mengelola emosi secara sehat. Dilansir dari Ahead, anak yang terbiasa dikenalkan pada kekuatan dirinya sejak dini cenderung memiliki konsep diri yang lebih positif, lebih mampu mengelola emosi, serta menjalin hubungan sosial yang lebih baik.

Apa Itu Parenting “Strength Spotlight”?

Strength Spotlight adalah pendekatan pengasuhan yang berfokus pada pengenalan dan penguatan sisi positif anak melalui apresiasi yang dilakukan secara rutin. Orangtua diajak untuk lebih peka terhadap perilaku positif anak dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya menunggu momen pencapaian besar.

Dengan menyebutkan kekuatan tersebut secara langsung, anak belajar mengenali kelebihan dirinya sendiri. Hal ini membantu membangun kesadaran diri dan membuat anak merasa dihargai apa adanya, bukan hanya saat berhasil memenuhi ekspektasi orang dewasa.

Mengapa Strength Spotlight Penting untuk Perkembangan Emosi Anak?

Anak yang terbiasa mendapatkan apresiasi atas kekuatannya akan memiliki rasa percaya diri yang lebih stabil. Mereka tidak mudah merasa gagal ketika melakukan kesalahan, karena sudah memahami bahwa dirinya memiliki banyak sisi positif.

Selain itu, Strength Spotlight membantu anak mengenali hubungan antara perasaan, tindakan, dan dampaknya. Anak belajar memahami emosinya sendiri, yang menjadi dasar penting dalam mengelola stres, konflik, dan tantangan sosial di kemudian hari.

7 Tips Menerapkan Strength Spotlight dalam Pola Asuh Sehari-hari

1. Jadikan Sebagai Rutinitas Harian yang Konsisten

Strength Spotlight akan lebih efektif jika dilakukan secara rutin. Orangtua bisa memilih waktu sederhana, seperti sebelum tidur atau saat makan malam. Rutinitas ini membantu anak merasa aman dan terbiasa menerima refleksi positif tentang dirinya.

Konsistensi juga menunjukkan bahwa orangtua benar-benar meluangkan waktu untuk memperhatikan anak, bukan sekadar memberi pujian sesaat.

2. Sorot Kekuatan Kecil yang Sering Terlewat

Kekuatan anak tidak selalu muncul dalam bentuk prestasi. Sikap sabar, empati, atau keberanian mencoba hal baru adalah contoh kekuatan yang sering luput dari perhatian.

Dengan menyorot hal-hal kecil ini, anak belajar bahwa perilaku positif mereka bermakna dan dihargai, sehingga termotivasi untuk terus berkembang.

3. Gunakan Kalimat yang Spesifik dan Tulus

Pujian yang terlalu umum cenderung kurang membekas. Sebaliknya, kalimat yang spesifik membantu anak memahami kekuatan apa yang dimilikinya.

Contohnya, alih-alih mengatakan “Kamu hebat,” orangtua bisa berkata, “Ibu melihat kamu berusaha tetap tenang meski tadi kesal.” Kalimat seperti ini terasa lebih tulus dan bermakna bagi anak.

4. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir

Tidak semua kekuatan anak terlihat dari hasil yang sempurna. Usaha, ketekunan, dan keberanian mencoba juga merupakan kekuatan penting. Dengan menyorot proses, anak belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari belajar, bukan sesuatu yang harus ditakuti.

5. Ajak Anak Mengenali Perasaan di Balik Perilakunya

Setelah menyorot kekuatan anak, ajak mereka berbicara tentang perasaannya. Pertanyaan sederhana seperti, “Bagaimana perasaanmu saat berhasil bersabar tadi?” membantu anak mengaitkan perilaku dengan emosi.

Kebiasaan ini melatih anak untuk lebih sadar akan perasaannya sendiri dan mengekspresikannya dengan sehat.

6. Libatkan Anak untuk Menyorot Kekuatan Orang Lain

Strength Spotlight tidak harus satu arah. Ajak anak untuk ikut menyebutkan kekuatan orang tua atau anggota keluarga lain. Cara ini mengajarkan empati, rasa menghargai, serta membantu anak memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing.

7. Jadikan Strength Spotlight sebagai Budaya Keluarga

Agar manfaatnya terasa jangka panjang, Strength Spotlight sebaiknya dijadikan bagian dari budaya keluarga. Lingkungan rumah yang penuh apresiasi membuat anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Anak yang tumbuh dalam suasana seperti ini cenderung lebih percaya diri, terbuka, dan mampu menghadapi tantangan dengan emosi yang lebih seimbang.

Penulis: Siti Nur Arisha

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading