Sukses

Fashion

Busana Modest Ramah Lingkungan, Langkah Sofniprivé Menjawab Tantangan Limbah Tekstil

Fimela.com, Jakarta - Industri fashion global tengah berada di persimpangan. Di satu sisi, tren terus bergerak cepat, koleksi silih berganti, dan konsumen dimanjakan pilihan. Namun di sisi lain, industri tekstil juga menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia, mulai dari sisa produksi, overstock, hingga kemasan sekali pakai yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Data berbagai lembaga lingkungan menunjukkan bahwa limbah tekstil dan kemasan fashion menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya teratasi. Plastik pembungkus, kertas luxury packaging, dan tas sekali pakai sering kali hanya berumur hitam-putih: dibawa pulang, lalu dibuang. Inovasi pun menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar opsi.

Di tengah tantangan tersebut, rumah mode premium berbasis Jakarta, Sofniprivé, menghadirkan pendekatan berbeda lewat peluncuran koleksi terbarunya, L’essence. Koleksi ini diperkenalkan secara perdana dalam instalasi eksklusif di Pop-Up Booth Sofniprivé pada ajang Halal Fair 2026, yang digelar di JICC Senayan pada 14–15 Februari 2026. Alih-alih hanya menonjolkan estetika modest fashion yang elegan, Sofniprivé justru menyoroti aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni kemasan.

 

Ketika Kemewahan Bertemu Tanggung Jawab

Melalui inovasi Signature Canvas Tote Bag, brand ini mengganti kemasan plastik atau kertas sekali pakai dengan tas kanvas yang dirancang memiliki “kehidupan kedua”. Bukan sekadar pembungkus, tas ini menjadi bagian dari produk itu sendiri—fungsional, estetis, dan dapat digunakan berulang kali.

Langkah ini selaras dengan filosofi brand, “Sophistication with Conscience.” Sofniprivé meyakini bahwa tanggung jawab desainer tidak berhenti saat transaksi terjadi. Ada jejak lingkungan yang harus diperhitungkan, bahkan setelah busana sampai di tangan konsumen.

Yunitania Sofyanalisa, Creative Director Sofniprivé, menegaskan bahwa keindahan sejati lahir dari proses yang bertanggung jawab. Menurutnya, koleksi L’essence menggunakan material yang dikurasi ketat berdasarkan jejak lingkungannya, tanpa mengorbankan kemewahan tekstur yang menjadi ciri khas brand.

Ia juga menekankan bahwa melalui penggantian kemasan sekali pakai dengan Signature Canvas Tote Bag, konsumen diajak menjadi bagian dari gerakan zero-waste. Pilihan membeli bukan lagi sekadar tentang gaya, tetapi tentang nilai yang diperjuangkan.

 

Menuju Industri Fashion yang Lebih Hijau

Pasar modest fashion Indonesia terus berkembang, terutama di segmen menengah atas yang semakin kritis terhadap aspek etika sebuah brand. Kini, konsumen tidak hanya menilai desain dan kualitas bahan, tetapi juga transparansi produksi, keberlanjutan material, hingga dampak lingkungan dari kemasan.

Wiena Nuariza, Chief of Business Sofniprivé, melihat etika lingkungan sebagai salah satu pendorong utama keputusan pembelian saat ini. Menurutnya, praktik berkelanjutan yang dimulai dari kurasi bahan hingga penggunaan kemasan kanvas bukan sekadar idealisme, melainkan model bisnis yang relevan dan saling menguntungkan.

Dalam konteks industri yang lebih luas, strategi ini mencerminkan perubahan paradigma: keberlanjutan bukan lagi biaya tambahan, tetapi investasi jangka panjang bagi brand. Profitabilitas, kepuasan konsumen, dan kelestarian lingkungan tidak harus saling meniadakan. Ketiganya bisa berjalan beriringan.

Langkah Sofniprivé menjadi contoh bagaimana inovasi kecil, seperti mengganti kemasan, dapat membawa dampak besar jika dilakukan secara konsisten. Di tengah isu limbah tekstil global, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa transformasi industri bisa dimulai dari detail yang konkret dan aplikatif.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading