Sukses

Fashion

Busana Syar’i yang Ramah Lingkungan, Ketika Iman Bertemu Kesadaran Merawat Bumi

Fimela.com, Jakarta - Perkembangan industri modest fesyen di Indonesia kini tak lagi sekadar berbicara tentang siluet atau tren. Kesadaran baru mulai tumbuh bahwa apa yang dikenakan sehari-hari juga membawa dampak pada lingkungan dan kehidupan di sekitarnya. Dari kesadaran inilah Haadiya Syari hadir, menawarkan busana syar’i yang tak hanya menenangkan hati, tetapi juga lebih ramah terhadap bumi.

Diluncurkan secara resmi di Dailah Restoran, Bandung, Sabtu (7/2/2026), Haadiya Syari memperkenalkan dirinya melalui sebuah acara yang dirancang dengan penuh kesadaran lingkungan. Sejak awal, nilai keberlanjutan menjadi benang merah dalam setiap detail acara. Dekorasi dibuat minimalis, tanpa bunga segar maupun ornamen sekali pakai. Seluruh elemen visual hanya menggunakan kain yang dapat dipakai kembali.

Founder Haadiya Syari, Alia Karenina, menuturkan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari komitmen brand untuk meminimalkan limbah dan memperpanjang masa hidup material. Kain-kain dekorasi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan kembali sebagai tas, sarung bantal, atau kebutuhan lain, sehingga tidak berakhir sebagai sampah acara semata.

“Saya ingin setiap kegiatan Haadiya lebih mindful dan tidak meninggalkan kerusakan bagi lingkungan. Sesuatu yang masih bisa digunakan seharusnya tidak berhenti hanya sebagai dekorasi sesaat,” ujar Alia.

 

Hindari Fast Fashion

Pilihan untuk tidak menggunakan bunga potong juga menjadi pernyataan sikap Haadiya terhadap alam. Bagi Alia, sesuatu yang hidup sepatutnya dibiarkan tumbuh dan bernapas, bukan dipetik hanya demi estetika sementara. Prinsip ini mencerminkan cara Haadiya memandang fesyen bukan sebagai konsumsi cepat, melainkan sebagai tanggung jawab.

Nilai keberlanjutan ini sejalan dengan tagline Haadiya Syari, Inspired by Faith, Rooted in Values. Acara peluncuran pun diawali dengan kajian bersama ustaz Sidqi Kamal Zimah bertema How to be Inspired by Faith, Rooted in Values, yang menekankan bahwa iman dan nilai spiritual dapat menjadi landasan dalam merawat bumi sebagai amanah dari Allah Azza Wa Jalla.

Dalam praktik desain, Haadiya tidak menganut prinsip fast fashion. Brand ini memilih menghadirkan busana syar’i yang dirancang untuk memiliki masa pakai lebih panjang, baik dari sisi kualitas material, desain yang timeless, maupun nilai yang melekat di dalamnya. Sebuah pendekatan yang mengajak perempuan untuk membeli dengan lebih sadar, mengenakan dengan penuh makna, dan merawat apa yang dimiliki.

Melalui tema In Return, Haadiya ingin mengingatkan bahwa setiap pilihan yang dilandasi niat baik akan selalu kembali dengan balasan. Ketika seseorang memilih busana yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, ia tak hanya mengurangi dampak negatif, tetapi juga menumbuhkan ketenangan batin dan kesadaran diri.

 

Kolaborasi dengan Adrie Basuki

Komitmen ini juga tercermin dalam koleksi kapsul perdana Haadiya yang berkolaborasi dengan desainer Adrie Basuki melalui penggunaan batik Sadabhumi. Kain ini lahir dari filosofi perjuangan dan ketangguhan, terinspirasi dari kisah para pejuang kanker sebagai sebuah simbol bahwa keberlanjutan juga berarti menghargai proses, manusia, dan cerita di balik selembar kain.

Meski tidak berlatar belakang desainer, Alia membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan pelaku industri fesyen lainnya. Ia percaya bahwa perubahan menuju industri modest fesyen yang lebih beretika dan ramah lingkungan hanya bisa terwujud melalui kerja bersama.

Dalam kesempatan yang sama, Haadiya juga melakukan relaunching Aleiya, brand modest fashion yang telah hadir sejak 2022. Aleiya kini bertransformasi dengan desain yang lebih sederhana dan fungsional, menyasar generasi muda yang mulai membangun kesadaran berpakaian modest sekaligus lebih bijak dalam konsumsi fesyen.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading