Sukses

Lifestyle

Review Buku Madonna in a Fur Coat

Fimela.com, Jakarta - Cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang hangat dan membahagiakan. Bagi sebagian orang, cinta justru datang bersamaan dengan rasa ragu, takut kehilangan, dan kesepian yang sulit dijelaskan.

Ada cinta yang tumbuh dalam diam, lalu perlahan berubah menjadi penyesalan karena tak pernah benar-benar diperjuangkan atau karena bingung dalam mengambil keputusan. Jika Sahabat Fimela tertarik membaca kisah tentang cinta semacam ini, maka Madonna in a Fur Coat bisa menjadi bacaan yang masuk daftar rekomendasi. Novel ini mengajak kita sebagai pembaca untuk menyelami sisi-sisi kesepian manusia dan menunjukkan bagaimana cinta terkadang justru memperlihatkan sisi paling rapuh dari diri kita sendiri.

 

 

Cinta, Kesepian, Penyesalan, dan Menemukan Jalan Hidup

Judul: Madonna in a Fur Coat

Penulis: Sabahattin Ali

Penerjemah: Murojab Nugraha

Penyunting: Hafizh Pragitya

Proofreader: Eti Rohaeti

Pengarah Ilustrasi: Ginanjar Setia M

Ilustrator isi dan sampul: Nivelle Aruana

Desainer sampul: Nivelle Aruana dan Krisna Bayu S.A.

Desainer dan layout isi: Krisna Bayu S.A.

Cetakan I, Desember 2025

Diterbitkan oleh Penerbit Mizan PT Mizan Pustaka

***

Jika aku menyukai seorang perempuan dengan cara apa pun, hal pertama yang kulakukan adalah lari darinya. Saat kami berhadapan, aku takut setiap gerak-gerikku, setiap tatapanku, akan membongkar rahasiaku. Dengan rasa malu yang tak terlukiskan, yang nyaris menyesakkan, aku akan berubah menjadi manusia paling malang di dunia. Aku tak ingat pernah menatap mata perempuan mana pun dengan saksama dalam hidupku, bahkan mata ibuku sendiri. (hlm. 86)

Sepanjang hidupku, aku selalu mencarinya, menunggunya. Mungkinkah perasaanku, yang telah memusatkan seluruh perhatian dan keberadaannya pada satu titik untuk mencari sosok ini di mana-mana, yang telah mengembangkan kemampuan dan kepekaan yang nyaris ganjil karena terus-menerus mengamati setiap orang yang kutemui dari sudut pandang ini, bisa keliru? Perasaan ini belum pernah salah sebelumnya. Perasaanlah yang selalu memberikan penilaian pertama tentang seseorang, baru kemudian akal dan pengalamanku akan mengubahnya, sering kali secara keliru. Tetapi pada akhirnya, selalu perasaan pertama inilah yang terbukti benar. (hlm. 131)

Maria menatap lekat ke satu titik dan setelah termenung lama. Dia berkata, "Cinta yang kucari itu berbeda. Sesuatu di luar logika yang tak bisa dijelaskan. Menyayangi itu satu hal, tapi menginginkan dengan segenap jiwa dan raga itu hal lain. Bagiku, cinta adalah hasrat yang tak tertahankan." (hlm. 168)

***

Cerita novel ini dibuka dari sudut pandang seorang narator yang bekerja di sebuah kantor dan mengenal Raif Efendi, pria pendiam yang kerap dipandang sebelah mata.

Di lingkungan kerjanya, Raif dianggap tidak ambisius, tidak menonjol, dan seolah menjalani hidup tanpa semangat. Kehadirannya bisa dibilang sangat mudah diabaikan.

Akan tetapi, kesan pertama itu perlahan runtuh ketika narator menemukan catatan harian milik Raif Efendi. Dari sinilah terkuak bahwa di balik sikapnya yang pasif dan tertutup, Raif menyimpan pengalaman yang begitu intens dan emosional. Ada dunia yang selama ini tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Catatan harian itu membawa kia mundur ke masa lalu, ke periode penting dalam hidup Raif yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang begitu tertutup seperti yang dikenal orang-orang di sekitarnya.

Dalam kisah masa lalunya, Raif diceritakan pernah tinggal di Berlin. Ia hidup sendiri, jauh dari keluarga, dan merasa asing di tengah lingkungan yang tidak benar-benar ia pahami.

Raif bukan tipe orang yang mudah beradaptasi atau membangun relasi sosial. Dia lebih sering menjadi pengamat, menjaga jarak, dan menahan diri dari keterlibatan emosional.

Hingga suatu hari, ia mengunjungi sebuah galeri seni dan terpaku pada sebuah lukisan. Lukisan seorang perempuan bermantel bulu dengan tatapan dingin, kuat, tetapi menyimpan kesedihan yang dalam.

Tak lama setelah itu, Raif bertemu dengan Maria Puder, perempuan yang ternyata adalah pelukis dari lukisan tersebut. Maria digambarkan sebagai sosok yang kompleks. Dia pribadi mandiri, cerdas, tegas, tetapi tidak mudah membuka diri. Pandangan hidupnya tajam, hanya saja ada luka emosional yang membuatnya berhati-hati dalam urusan cinta.

Hubungan Raif dan Maria tumbuh perlahan, tanpa romantisasi berlebihan. Tidak ada janji-janji besar atau gestur cinta yang dramatis.

Yang ada adalah percakapan panjang, keheningan yang nyaman, serta keberanian untuk saling mengungkapkan ketakutan dan luka masa lalu. Dalam setiap pertemuan dan perjumpaan, Maria pun sudah menegaskan bahwa ia memilih untuk menjalin ikatan persahabatan dan tidak lebih dari itu.

Cinta digambarkan bukan sebagai pelarian dari kesepian, melainkan sebagai ruang aman untuk saling memahami. Sayangnya, justru karena kedalaman itulah, hubungan mereka terasa rapuh. Ketakutan untuk kehilangan, trauma yang belum pulih, dan keraguan untuk sepenuhnya percaya membuat hubungan mereka berjalan di atas batas yang tipis.

Madonna in a Fur Coat menghadirkan nuansa melankolis yang mengalir dalam. Kesedihan tidak hadir sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai perasaan hampa yang pelan-pelan mengendap.

Kalimat-kalimatnya sederhana, tetapi sarat makna. Banyak bagian yang terasa seperti monolog batin, mengajak kita sebagai pembaca berhenti sejenak dan merenung.

Novel ini seolah mengingatkan bahwa tidak semua luka harus ditangisi dengan air mata. Beberapa justru menetap dalam diam dan membentuk cara seseorang menjalani hidup.

Tema kesepian menjadi benang merah yang kuat dalam novel ini. Raif dan Maria sama-sama kesepian, meski dengan latar belakang dan sikap hidup yang berbeda.

Raif merasa tidak pernah benar-benar dipahami, sementara Maria kesepian karena pengalaman pahit membuatnya sulit mempercayai cinta.

Novel ini juga mengangkat tema pencarian cinta dan bagaimana cinta bisa terasa sulit dan rumit bagi sebagian orang. Cinta dalam Madonna in a Fur Coat bukanlah jawaban instan atas kesepian. Cinta digambarkan sebagai sebentuk perasaan yang menuntut keberanian emosional, kejujuran, dan kesiapan untuk terluka.

Raif dan Maria sama-sama ingin dicintai, tetapi juga takut kehilangan kendali atas diri mereka sendiri. Ketakutan inilah yang membuat banyak perasaan tertahan, banyak kata tak terucap, dan banyak keputusan diambil setengah hati.

Menjelang akhir cerita, novel ini menghadirkan kejutan yang menyisakan kehampaan. Kebenaran tentang kehidupan Maria dan pilihan hidup Raif setelah perpisahan mereka membuka lapisan penyesalan yang dalam.

Setelah menyelesaikan novel ini, rasanya ada ruang kosong yang membuat kita merenung lama.

Sahabat Fimela, Madonna in a Fur Coat bisa menjadi bacaan yang cocok bagi siapa pun yang menyukai cerita reflektif, melankolis, dan penuh kedalaman emosional. Ada aliran kejujuran tentang perasaan-perasaan manusia yang sering disembunyikan.

Kisah cinta di dalam novel ini memang tidak sempurna, tetapi ada lapisan kesepian yang membentuk karakter dan ruang-ruang penyesalan yang menjadi bagian dari perjalanan itu. Serta upaya untuk lebih memahami diri sendiri dalam jalinan perasaan cinta dan jatuh bangun dalam cinta. Nuansanya mungkin agak mirip dengan novel White Nights, tetapi menghadirkan pengalaman membaca yang meninggalkan kesan lebih dalam.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading