Sukses

Lifestyle

5 Rekomendasi Novel Healing Fiction yang Cocok Dibaca saat Ramadan

Fimela.com, Jakarta - Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan pemulihan. Di tengah rutinitas puasa dan ibadah yang lebih intens, hati sering kali menjadi lebih peka dan mudah tersentuh. Di momen seperti inilah bacaan yang lembut dan penuh makna terasa begitu relevan. Novel healing fiction, dengan alur yang tenang dan kisah yang menyentuh, bisa menjadi teman yang menenangkan sekaligus membantu kita memahami diri sendiri dengan lebih jujur.

Berbeda dari bacaan yang berat atau penuh konflik tajam, healing fiction menawarkan cerita tentang penerimaan, pertumbuhan, kehilangan, dan harapan dengan cara yang hangat. Saat dibaca di waktu senggang menjelang berbuka atau sebelum tidur setelah tarawih, kisah-kisah ini dapat menjadi ruang refleksi yang halus namun berdampak. Lima rekomendasi berikut dipilih untuk menghadirkan ketenangan, empati, dan makna yang selaras dengan suasana Ramadan.

1. What You are Looking For is In The Library

Membaca novel What You are Looking For is In The Library ini bisa menghadirkan seulas senyuman di wajah kita. Ada perasaan hangat dan tenang yang mengalir setelah membaca novel ini.

Kelima karakter dalam novel ini memang tidak saling mengenal satu sama lain. Masing-masing menghadapi persoalan dan masalah hidupnya sendiri, tetapi dalam perjalanannya ada semacam garis tipis yang membuat kehidupan mereka bersinggungan.

Sungguh menyenangkan sekali bisa melihat bagaimana tiap tokoh bisa menemukan jawaban dan jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi. Memang tak serta merta rekomendasi buku yang diberikan Sayuri Komachi mengubah hidup tiap tokoh secara instan dan dramatis, tetapi ketika sebuah buku dibaca di waktu yang tepat dan pembacanya tergerak untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya, maka sebuah perubahan bisa hadir dengan cara yang mengandung kejutannya sendiri.

2. Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi

Melalui kisah Rika dan Yumiko-san, kita diajak untuk melihat bahwa setiap langkah kecil tetap punya arti, bahwa setiap pertemuan punya alasan, dan bahwa perjalanan menemukan makna hidup kadang dimulai dari hal-hal yang tak kita duga.

Bagi kamu yang sedang berada di persimpangan antara bertahan atau menyerah, buku ini bisa menjadi teman yang lembut namun kuat. Buku ini bisa mengajakmu untuk istirahat sejenak, menatap kembali ke dalam diri, lalu perlahan berjalan lagi dengan tenang.

Hari Ini Aku Datang Kembali ke Toko Buku Kobayashi bagaikan buku kecil dengan hati yang besar. Bacalah perlahan, resapi setiap kalimatnya, dan biarkan kehangatan ceritanya menuntunmu menemukan semangat baru dalam hal-hal kecil yang kamu jalani setiap hari.

3. The Chibineko Kitchen

Dalam The Chibineko Kitchen, makanan tidak hanya menjadi pengisi perut, tetapi juga pengisi hati. Suatu hidangan bisa menjadi semacam medium yang menyatukan orang hidup dengan mereka yang sudah pergi, bahkan hanya untuk sejenak.

Membaca novel ini ibarat menelusuri jalan berliku antara tawa kecil dan tangis haru. Ada momen yang lucu, terutama dengan tingkah laku kucing, namun juga ada momen yang membuat hati kita terasa berat.

Kehilangan adalah bagian tak terelakkan dari kehidupan. Kita semua tahu bahwa semua manusia pada akhirnya akan berpulang.

Mnerima kenyataan ditinggalkan oleh orang yang kita cintai adalah hal yang amat sulit. Novel ini dengan lembut mengajarkan bahwa kesedihan tidak bisa dihapus, tetapi bisa dipeluk. Bahwa penyesalan memang menyakitkan, tetapi selalu ada cara untuk menemukan kedamaian.

Bagi Sahabat Fimela yang menyukai sastra Jepang atau penyuka healing fiction, novel ini bisa masuk menjadi pilihan bacaan berikutnya. Meskipun ada kesan repetitif, The Chibineko Kitchen tetap memiliki pesona tersendiri. Kehadiran makanan sebagai inti cerita dan kucing kecil yang manis membuat novel ini terasa berbeda dan segar.

4. The Second Chance Convenience Store

The Second Chance Convenience Store menghadirkn kisah yang menyentuh hati sekaligus menginspirasi. Kita kembali diingatkan untuk lebih mensyukuri hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, lebih peka pada orang-orang di sekitar kita, dan lebih lembut dalam menilai mereka.

Novel ini tidak sekadar bercerita tentang sebuah toko kecil atau seorang pria tunawisma. Ada pengingat bahwa di balik setiap orang selalu ada cerita yang layak dihargai.

Dengan nada yang tenang, alur yang sederhana, dan pesan yang mendalam, Ho-Yeon Kim berhasil menghadirkan sebuah karya yang membekas lama di hati pembacanya.

5. Book's Kitchen

Dengan latar belakang yang berbeda-beda, mereka membawa warna tersendiri ke dalam Book’s Kitchen. Interaksi mereka mengalir dengan natural, membangun kisah yang dekat dengan kehidupan nyata, dan memperlihatkan bagaimana hubungan antar manusia dapat menyembuhkan luka batin.

Melalui aroma kopi yang hangat dan buku-buku yang mengisi rak, pembaca diajak untuk merenungkan arti kebahagiaan dan kedamaian. Tidak semua kisah dalam novel ini memiliki akhir yang sempurna, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Beberapa cerita sengaja dibiarkan menggantung, sementara yang lain diselesaikan dengan manis, memberikan dimensi yang realistis dan menyentuh.

Novel yang tepat bisa menjadi jembatan untuk lebih memahami luka, belajar memaafkan, dan menumbuhkan rasa syukur. Semoga lima rekomendasi healing fiction ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membantu menghadirkan ketenangan yang lebih dalam, sehingga Ramadanmu terasa lebih lembut, penuh kesadaran, dan sarat makna.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading