Sukses

Lifestyle

Si Bobo Yang Cantik

Vemale.com - Dituliskan oleh: Agatha Yunita Sebenarnya nama saya Veny, tapi saya sering dipanggil 'Bobo' oleh teman-teman karena tubuh saya (terutama perut) sangat mirip dengan tokoh majalah anak-anak favorit saya dulu. Lebih jelasnya, saat ini ukuran jeans saya adalah 34 dan jelas tidak mudah menemukan jeans yang pas karena terkadang bagian pinggang muat tetapi bagian paha tidak, dan inilah yang membuat saya jengkel. Ada lagi, saya tidak keberatan jika teman-teman memanggil saya Bobo, kecuali satu orang, Eric. Kenapa? karena saya suka dia (hiks...hiks...) Sejak di bangku sekolah dulu saya sangat suka dia. Tetapi sayangnya dia sepertinya tak suka. Ya jelas saja, siapa sih yang suka pada wanita yang mirip seperti Bobo? (Yah kecuali anak-anak yang masih polos dan menganggap Bobo sangat lucu). Yang pasti, pria seperti Eric akan lebih suka pada sosok Barbie, yang punya dada sempurna, rambut panjang, pinggang ukuran 4 atau 5, dan oh, itu semua jauh dari ukuran saya. Seumur hidup, hanya ada satu orang yang bilang saya cantik. Dia adalah mama, tapi itupun mungkin karena dia hanya ingin membesarkan hati saya saja, karena sejak kecil saya memang selalu diolok-olok. Bahkan adik laki-laki saya juga sering mengejek saya, dan menjuluki saya si gembul. Mmmppph... ingin rasanya saya bangun di pagi hari dan mendapati badan saya sudah langsing. Yah, saya tahu, itu hanya terjadi di film saja. Oya, ada satu orang lagi yang saya tidak suka, mmmhhh... saya benci lebih tepatnya. Ia adalah teman sekelas saya, yang mirip dengan Barbie dan selalu dipuja-puja, Eric juga sering sekali duduk di dekatnya. Dan itu membuat hati saya jadi seperti diremas-remas. Oh Eva, kenapa kau begitu cantik dan saya tidak? Seringkali saya menangis di dalam hati dan pernah juga sih saya menyalahkan Tuhan, karena menurut saya DIA tak adil. Saya berusaha diet setiap hari, eh saya nggak pernah sekalipun bisa kurus dan langsing seperti Eva. Saya makan sedikit saja tubuh saya langsung melar. Padahal, dengar-dengar, si Eva itu makannya banyak, tapi kok bisa dia masih tetap langsing yah? And the school is over, saya mendapatkan gelar cumlaude dari jurusan Desain Komunikasi Visual yang memang saya gemari. Dan saya juga sangat beruntung langsung bisa bekerja di sebuah perusahaan hebat (sebaiknya saya tidak menyebutkan nama perusahaan ini). Tapi, masalah berat badan masih saja membuat saya jadi tidak percaya diri. Sampai saya bertemu dengan seorang teman yang menjadi seorang editor di sebuah media online. Dia menyarankan beberapa tips diet untuk saya (yang ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang pernah saya jalani), dia juga sering mengajak saya jalan ke mall, dan jogging bersama. Apakah lantas saya langsung kurus? Hehehe, tidak sih, tapi saya merasa jauh lebih bugar, dan saat ini ukuran saya jeans saya 31, yah sebuah kemajuan yang pesat untuk saya pribadi. Sebenarnya bukan hanya tips dietnya saja yang saya suka darinya, melainkan semangat yang dia bisikkan selalu pada saya, bahwa cantik itu tidak hanya boleh disandang oleh seseorang yang bisa membeli jeans berukuran 26 (dan saya percaya bahwa pinggangnya berukuran 26, nyaris tanpa lemak dan perutnya pun rata.) Saya pun kembali percaya diri, dan meneruskan saran-saran yang dikatakannya kepada saya. Oh, dia adalah sahabat saya. Namun hari itu bagaikan petir di siang hari, dia mengajak saya makan siang bersama, dan katanya mau mengenalkan pasangannya. Selama ini memang dia selalu banyak yang mengejar, yah pantas saja dia kan memang cantik. Tapi herannya dia tak mudah berkomitmen, oleh karena itu saya terkejut saat dia bilang ingin mengenalkan pada kekasihnya. Yang bikin lebih terkejut lagi saat saya tahu ia adalah Eric (bagian ini seperti di film saja ya? hehehehe) Eric lantas sama terkejutnya seperti saya, dia tak menyangka bahwa saya banyak berubah. Oh andaikan dia masih single dan kemudian jatuh cinta pada saya (sekalipun saya lebih langsing tapi ini juga tak terjadi pada saya). Sejak saat itu saya hampir kehilangan kendali, merasa kecewa dan sia-sia, hampir saja saya kembali ke ukuran 34 lagi, dan untungnya saya hanya sempat kembali ke ukuran 32. Saya kemudian berusaha menerima kenyataan yang pahit ini. Saya berusaha mengingat apa yang dikatakan sahabat baru saya itu. Cantik itu tak hanya ditentukan oleh ukuran badan atau pinggang, tetapi bagaimana kita merawat kecantikan tubuh dan berusaha menjaganya. Tidak dengan menyiksa diri mogok makan atau bermusuhan dengan nasi. Tidak pula dengan mengonsumsi obat-obatan (yang pernah membuat saya BAB 2 hari dan tidak berhenti sampai saya lemas.) Dan saya mengirimkannya kartu dan sebuket bunga ucapan selamat kepadanya dan Eric. Saya berusaha membuang kenangan-kenangan buruk dan pahit (walau saat ini masih banyak yang tersisa), dan masih tetap bergumul dengan acara diet dan olahraga keras, yang membuahkan hasil dan membuat saya tetap pada ukuran pinggang 30 (hingga sekarang). Dan itu sudah cukup membuat saya bangga, membuat saya bahagia, dan membuat saya merasa tetap cantik. Benar juga kalimat "Beauty comes in all sizes, not just size 5", sekalipun size saya saat ini 6-7 tetapi saya juga masih cantik kok. Dan saya harus tetap berusaha agar kecantikan saya ini tidak luntur. Terima kasih sahabat yang saat ini sudah berbahagia bersama Eric. Walau saya sakit hati, tapi saya beruntung bertemu denganmu, karena sekarang saya tahu, saya ini cantik! Diceritakan oleh Veny - Surabaya (vem/bee)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    What's On Fimela
    Loading