Sukses

Lifestyle

Menikah Tak Semudah Melempar Batu, Apalagi Kalau Terhalang Tradisi

Mempersiapkan pernikahan tak semudah melempar batu. Itulah yang dikisahkan sahabat Vemale dalam tulisan yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Here Comes the Bridezilla ini. Ada banyak hal  yang harus diurus dan dipersiapkan yang sangat menguji kesabaran.

***

Pernikahan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupanku. Perlu persiapan baik secara mental maupun material, persiapan yang terkadang sampai membuat orang hilang akal saat melakukan prosesnya. Setiap pasangan pengantin pastinya menginginkan pernikahannya berjalan sebaik mungkin, seindah mungkin dan bahkan semewah mungkin. Itulah yang dulu tergambar di benakku saat menjelang pesta pernikahan.

Tahun 2016, tepatnya bulan September menjadi hari bahagiaku dengan sang pujaan hati. Namaku Ratih dan usiaku 26 tahun, lahir di kabupaten Sragen dengan profesi sebagai pegawai di Kejaksaan Negeri Kab. Sragen. Awal mula aku tak menyangka akan dilamar oleh sang pujaan hati, kenal Februari 2016 dan dilamar pada bulan April 2016. Perkenalan singkat tapi membawaku dalam perjalanan seumur hidup nantinya.

Suka dan duka dalam mempersiapkan sebuah pernikahan pastinya kualami kala itu. Siapa sih yang mau nikah tanpa persiapan? Pastinya semua wanita mempersiapkan dengan sebaik mungkin. Pernikahanku ini sebenarnya ada keluarga yang tidak setuju ketika mau dilangsungkannya akad nikah, karena salah satu dari keluargaku tepatnya nenek masih menganut tradisi atau adat Jawa, yakni anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga. Pamali dan akan membawa sial bagi keluarganya yang lain termasuk kedua orang tua saya nanti katanya. Pada kesempatan itu pun saya dan calon suami meniatkan diri untuk bertemu langsung dengan nenek, meminta restu supaya dapat mendoakan yang terbaik untuk saya dan calon suami.

Menikah butuh banyak persiapan./Copyright pixabay.com

Restu dari semua pihak yang utama bagiku untuk melangsungkan agenda suci ini, maka saya dan calon suami mendatangi nenek saya yang tinggal satu-satunya itu. Dan saya pun memulai obrolan dengan sang nenek.

“Selamat pagi nek, bagaimana kabarnya?” tanya saya kepada nenek.
“Kabar baik, ada apa kamu ke sini dengan siapa? Bapakmu mana?”
“Nek, saya dengan calon suami saya Mas Harso. Ini Nek, perkenalkan.”
Mas Harso pun bersalaman dengan nenek dan berkata, “Pagi Nek, saya Harso calon dari Ratih, Nek.”
“Kamu berdua ngapain datang ke rumah sini?” tanya nenek.

“Langsung saja Nek, kami ingin meminta doa restu untuk acara pernikahan kami September nanti nek, mohon nenek berkenan merestuinya” ucap Ratih dengan wajah memohon.

“Tih, nenek tetap kekeh dengan pendirian nenek, kalau pun itu mau kamu jalani ya silahkan. Tapi nenek sudah memperingatkan. Nenek tetap mendoakan yang terbaik buat kalian berdua semoga menjadi keluarga bahagia dan tanpa ada halangan menimpa,” jawab nenek sambil mengelus kepalaku.

Perbincangan pun dilanjutkan sampai menjelang siang, nenek pun akhirnya hanya bisa mendoakan dan merestui. Tapi kami yakin untuk memulai bahtera rumah tangga ini dengan niat karena Allah. Dan percaya semua yang datang dalam kami mempersiapkan pernikahan baik buruknya dan setelah pernikahan nanti kehendak dari Allah.

Perjalanan menuju September kira-kira masih 5 bulan lagi, selama lima bulan itu aku dan calon suami mempersiapkan untuk acara hari  H nya, kegiatan persiapan kami data satu per satu:

1. Foto prewed
2. Pesan undangan nikah
3. Mahar akad nikah
4. Gaun pernikahan dan rias pengantin
5. Hiburan di pernikahan
6. Gedung pernikahan
7. Catering/konsumsi
8. Bingkisan untuk tamu undangan
9. Bayaran panitia dll

Dan masih banyak lagi yang belum aku tuliskan di situ. Semua itu harus dipersiapkan selama kurang lebih 5 bulan, syukurnya ada yang membantu yaitu orang tua, saudara, dan pastinya sahabat-sahabat terdekat.

Banyak bantuan yang diterima./Copyright pixabay.com

Persiapan waktu melakukan foto prewed rencana di pantai daerah Yogyakarta, pagi-pagi berangkat dari Sragen bersama rombongan fotografer. Sesampainya di pantai malah mendung dan hujan, akhirnya nunggu sebentar tidak pas cuacanya. Pindah ke hutan pinus dan melakukan sesi pemotretan di daerah Bantul. Tapi aku dan calon suami pengen tetep foto di pantai, tidak disangka mendapatkan spot sunset yang sangat bagus di Gunung Kidul dan melakukan sesi pemotretan dengan make up seadanya sisa dari hutan pinus.

Perjuangan harus berjalan sekitar 1 km lebih dan membawa tentengan baju, dll. Saat itu aku sangat berterimakasih pada calon suamiku, temanku dan tim fotonya. Malam mulai datang, kami putuskan untuk tidak pulang ke Sragen dan menginap di salah satu tempat penginapan di Jogja. Keesokan harinya dilanjutkan sesi foto dalam ruangan dan di Candi Borobudur, Magelang. Hari yang melelahkan dan sangat menyenangkan bagi hidupku, bisa kutulis sejarah bagi hidupku. Melihat kerempongan dan tingkah lakuku calon suami katanya makin sayang padaku, he he.

Pernikahan pastinya butuh gedung, makan, dan bingkisan pastinya. Pada minggu-minggu itu pun kami berniat mencari gedung untuk acara nikah, pas mau dipesan tanggal yang kami pesan pun sudah diisi kegiatan lain. Sempat tidak mau pindah gedung dan ganti tangga saja, tapi orang tua sudah mencarikan tanggal yang baik untuk acara pernikahan. Akhirnya aku dan suami mencari gedung lainnya tapi serasa tidak cocok, sempat berpikir juga apa nikahnya di rumah saja ya?

Tapi rezeki memang tidak kemana untuk calon pengantin. Malamnya ditelepon sama gedung yang udah dipesan, katanya acaranya yang kegiatan sebelumnya tidak jadi diadakan tanggal itu, jadi gedung bisa dipakai. Langsung lah besoknya kami datang lagi dan membuat DP kepada pemiliknya. Urusan gedung sudah selesai gantian urusan makan dan bingkisan, Alhamdulillah aku punya teman di bagian catering dan pemesanan bingkisan nikah. Tinggal telepon dan nego harga saja, sudah siap untuk kegiatan pernikahan tersebut.

Pernikahan pastinya butuh mahar, nah ini ada tips dariku buat semua calon pengantin. Mahar nikah kalau bisa buat dengan calon suami kita saja. Lebih mengenang dan memiliki rasa tersendiri dalam pernikahan kita. Itulah yang kulakukan dengan sang calon suami, kami berdua membuat mahar pernikahan sendiri, mulai dari membentuk desain, melipat uang, menyisipkan hiasan-hiasan, sampai dibingkai kami lakukan berdua. Walaupun tidak sebagus dan semenarik ketika pesan ke orang ahli tapi bagiku itu kado yang terindah mengawali janji suci nanti.

Komunikasi sangat diperlukan dalam kita melakukan persiapan nikah, karena dengan komunikasi akan mempermudah dan memperjelas hal-hal apa saya yang perlu dipersiapkan. Sama halnya yang kulakukan saat itu, selalu berkomunikasi dengan calon suami, orang tuaku, orang tua calon suamiku, keluargaku dan calon suami, sahabatku, partner nikah dan orang-orang yang sekiranya bisa diminta pertimbangan dalam melangsungkan pernikahan. Menikah itu bukan hal yang menakutkan jika kita mempersiapkannya dengan rasa senang, penuh cinta, dan tanggung jawab.

Terima kasih semoga bermanfaat untuk perempuan-perempuan Indonesia.

Ratih Wiji Astuti
Sragen, Jawa Tengah





 

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading