Sukses

Lifestyle

Kita Tak Bisa Memaksa Semua Orang Memahami Kondisi Kita, That's Ok!

Pertanyaan kapan nikah atau kapan lulus dan kapan kerja mungkin adalah pertanyaan lumrah yang sering diterima dan pernah diterima oleh semua orang. Ada orang-orang yang sudah berhasil melewati fase pertanyaan-pertanyaan terebut, namun ada juga yang belum. Rasanya pasti risih, menjengkelkan sampai membuat frustasi bagi mereka yang sampai saat ini masih juga jadi sasaran pertanyaan "kapan" dari orang-orang sekitarnya.

Bisa bayangkan bila satu pertanyaan “kapan” saja sanggup membuat seseorang menjadi rendah diri dan merasa terintimidasi oleh orang-orang di sekitarnya, apalagi tiga pertanyaan “kapan” sekaligus. Saya seorang perempuan sederhana yang genap berusia seperempat abad di tahun ini. Sebagai seorang mahasiswi kelas karyawan tingkat akhir yang juga seorang pengangguran karena baru saja resign dari pekerjaan terakhirnya di awal tahun ini, sekaligus seorang anak perempuan paling besar dengan satu orang adik perempuan dan satu orang adik lelaki dari sebuah keluarga, sudah pasti setiap harinya saya tidak pernah lepas dari pertanyaan “kapan".

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ba phi

Saya terlahir di keluarga sederhana yang mana mengenyam pendidikan tinggi sampai jenjang S1 adalah hal yang sangat langka di keluarga besar saya, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Setelah lulus sekolah menengah kejuruan, hal yang benar-benar saya inginkan adalah meneruskan pendidikan saya ke jenjang perguruan tinggi. Tetapi ketidakmampuan kedua orangtua saya untuk membiayai pendidikan saya saat itu membuat saya memilih langsung bekerja begitu lulus.

Pekerjaan pertama saya sebagai seorang tenaga kesehatan di perusahaan retail dari sebuah pabrik farmasi berskala nasional mengharuskan saya yang masih berusia belia meninggalkan kota kelahiran saya dan merantau ke ibu kota. Selain karena pihak sekolah yang mendesak agar saya menerima pekerjaan itu karena kebetulan lulus menjalani serangkaian psikotes dan wawancara dari perusahaan obat tersebut, alasan lain saya memilih pergi ke ibu kota dan bekerja di sana sekalipun seorang diri dan tanpa sanak saudara adalah karena kedua orangtua saya yang nyaris tidak pernah akur di rumah.

Kehidupan pernikahan kedua orangtua saya nyaris tidak pernah mulus. Intrik sedari awal pernikahan mereka yang dilandasi perjodohan membuat konflik bermunculan satu persatu dan semakin lama semakin banyak, belum lagi semua rahasia yang disimpan ayah saya dan niatan tidak baik dari pihak keluarga ayah yang berniat memisahkan ayah dan ibu saya sedari awal pernikahan mereka membuat hubungan kedua orang tua saya tidak pernah benar-benar baik. Permasalahan, baik yang disengaja maupun tidak yang ditimbulkan oleh keluarga ayah saya sampai saat ini masih bertujuan memisahkan kedua orangtua saya dan menghancurkan keluarga kami yang selalu terlihat bahagia, padahal kebahagiaan itu adalah apa yang kedua orangtua saya berusaha keras tampilkan di hadapan orang lain untuk mati-matian menutupi betapa kacaunya kondisi kami yang sebenarnya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ba phi

Semakin saya dewasa, khususnya setelah saya mengambil tindakan nekat pergi dan menetap di ibu kota untuk bekerja sekaligus melarikan diri dari konflik orangtua yang saat itu membuat saya nyaris Depresi, membuat satu per satu rahasia yang disimpan kedua orangtua saya selama bertahun-tahun terkuak. Caci maki, perkataan kasar dan kekerasan pernah saya terima sebagai akibat dari semua masalah yang menimpa keluarga saya.

Singkat cerita, keluarga kami yang sebelumnya memang tidak pernah luput dari masalah ternyata menyimpan permasalahan yang lebih besar, lebih rumit dan jelas-jelas menyakitkan hati saat saya mengetahui kebenarannya. Semua rahasia dan permasalahan yang akhirnya saya ketahui mengingatkan saya dengan cara yang paling menyakitkan bahwasanya pernikahan belum tentu membawa kebahagiaan seperti yang selama ini saya kira. Hal ini membuat saya mantap memutuskan ingin menjadi perempuan mandiri yang tidak akan menjadikan pernikahan sebagai sebuah patokan kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup seperti kebanyakan perempuan lain.

Selain permasalahan keluarga, kondisi perekonomian keluarga saya pun bisa terbilang sederhana. Karenanya setelah tiga tahun lulus dari sekolah menengah kejuruan saya baru bisa berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena tawaran dari kedua orang tua saya yang bermksud membiayai kuliah saya dengan syarat pengeluaran selain uang semester menjadi tanggungan saya pribadi.

Saya yang pada saat itu memang sudah bekerja di sebuah klinik kesehatan di Bandung tentu saja menyanggupi, saya bersemangat mengatur waktu antara pekerjaan dan kuliah setelah meminta izin kepada atasan saya untuk berkuliah pada akhir pekan. Saya juga mulai belajar membagi-bagi pendapatan saya untuk semua kebutuhan seperti ongkos kerja, ongkos kuliah, biaya kost, biaya fotokopi dan membeli buku, saya sangat bahagia sekalipun berat sekali menjalaninya. Semua lelah dan pendapatan saya yang tidak bersisa saya rasa sepadan dengan kesempatan meneruskan pendidikan.

Kesibukan dari hari Senin sampai hari Senin lagi tanpa libur di hari Minggu, bahkan pulang kuliah dan sampai kost pukul satu dini hari pernah saya alami, yang mana bukannya saya keluhkan tapi malah saya syukuri dan nikmati. Rasa minder dan malu pada diri sendiri saya rasakan ketika awal mengikuti perkuliahan, usia saya yang lebih tua dibandingkan teman-teman sekelas saya karena saya terlambat kuliah menjadi kendala tersendiri.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/ba phi

Adik perempuan saya, yang saat itu memaksa untuk diizinkan berkuliah di tahun itu juga dengan alasan dia tidak mau menunda kuliahnya seperti saya karena malu pada teman-temannya apabila ketahuan bekerja dan tidak langsung meneruskan kuliah, hal ini membuat saya dan adik saya menjadi teman seangkatan, dengan gedung dan kampus yang sama, fakultas dan jurusan yang sama, beruntung kami tidak ditempatkan dalam kelas yang sama juga.

Selama awal perkuliahan saya berusaha tidak memberitahukan kepada teman-teman saya tentang adik saya yang juga berkuliah dan seangkatan dengan saya. Selain karna malu akan respon teman-teman, saya juga kecewa dan sedih dengan alasan adik saya yang memaksakan berkuliah saat itu juga, seolah membuka luka lama yang saya simpan dan tutupi karena kenyataan saya tidak dapat langsung meneruskan kuliah seperti yang memang saya inginkan.

Dengan banyaknya permasalahan hidup yang saya hadapi, banyaknya kenyataan pahit yang terpaksa saya telan bulat-bulat, dan lebih banyak lagi perasaan yang saya korbankan selama ini, membuat pertanyaan kapan nikah, kapan lulus, dan kapan kerja tidak mampu saya jawab dengan kata-kata kecuali senyuman.

Saya tidak mungkin menjelaskan bahwa ide tentang pernikahan membuat saya takut karena trauma akan kehidupan yang selama ini saya dapati dari kedua orangtua saya. Saya juga tidak mampu mengatakan panjang lebar tentang kapan dan mengapa saya harus lulus kuliah lebih terlambat dibandingkan teman-teman saya yang lainnya. Juga saat menghadapi pertanyaan kapan saya akan bekerja dari teman-teman saya yang sudah dan baru bekerja maupun yang sudah mulai menata karirnya, saya tidak akan sanggup menjelaskan bahwa keputusan resign yang saya ambil disaat semua teman-teman saya justru sedang disibukkan dengan karirnya adalah agar saya lebih fokus pada skripsi saya.

Saya tahu tidak semua orang mampu memahami alasan-alasan saya maupun kondisi saya. Saya juga tahu apapun jawaban yang saya berikan atas pertanyaan-pertanyaan mereka tidak akan mampu memuaskan mereka dan membuat mereka berhenti bertanya “kapan” dan “kapan”.

Hal yang terpenting bagi saya sekarang adalah, kenyataan bahwa saya menjalani hidup saya dengan penuh perjuangan, berusaha yang terbaik dengan air mata dan doa juga memastikan saya mampu membahagiakan orang-orang sekitar saya dengan semua pencapaian saya kelak. Biarlah waktu yang akan menjawab semua pertanyaan “kapan” yang saya terima.

(vem/nda)
What's On Fimela
Loading