Sukses

Lifestyle

WFH sebagai Guru: Sibuk Mengajar Murid-Murid sekaligus Dampingi Anak Sendiri Belajar

Fimela.com, Jakarta Mengubah rutinitas di tengah panedemi virus corona ini memang tidak mudah. Mengatasi rasa cemas dan was-was pun membuat kita tak nyaman. Kita semua pun berharap semua keadaan akan segera membaik. Melalui Lomba Share Your Stories: Berbagi Cerita tentang Pandemi Virus Corona ini Sahabat Fimela berbagai cerita dan harapannya di situasi ini. Langsung ikuti tulisannya di sini, ya.

***

Oleh: Novita Prima

Kala itu Minggu, 15 Maret 2020. Persis tengah hari ketika aku dikejutkan dengan informasi yang kuterima dari grup whatsapp sekolah. Info tersebut menyebutkan bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah ditiadakan untuk sepekan lamanya, terhitung mulai 16 Maret 2020 hingga 21 Maret 2020. Dalam surat edaran dari Dinas Pendidikan Kota yang beredar di grup whatsapp menyebutkan bahwa hal tersebut (meniadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah) diambil sebagai langkah preventif untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dalam surat edaran tersebut juga disebutkan bahwa untuk para guru/pengajar dan tenaga kependidikan lainnya masih diwajibkan untuk masuk seperti biasa, kecuali bagi yang sakit.

Teringat aku akan rapat mingguan yang biasa diselenggarakan di sekolah tempatku mengajar, ketika itu kami para pengajar membahas tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bila saja di kota kami terdampak oleh pandemi Covid-19, karena pada saat itu di ibukota negara sudah terdampak dan menyebabkan dihentikannya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saat itu banyak dari kami yang berpikir seolah hal itu muskil terjadi sampai di kota kami, tapi tidak ada seorang pun tahu bagaimana rupa hari nanti, kecuali Gusti Allah Sang Pemilik Semesta. Hanya butuh waktu sepekan setelah rapat itu berlangsung, kota kami turut menerima kebijakan peniadaan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Senin, 16 Maret 2020, seluruh guru dan staf administrasi di sekolah tempatku mengajar berkumpul dalam satu ruang untuk membahas kembali apa langkah yang akan diambil dalam menghadapi situsi ini. Kami dituntut untuk berpikir cepat, tanggap dan ringkas agar setiap langkah yang diambil tidak sia-sia dan mudah dipahami oleh semua. Sebenarnya telah ada instruksi dari Dinas Pendidikan setempat mengenai penggunaan media daring (dalam jaringan) yang dapat digunakan pada situasi saat ini, namun pada saat itu sama sekali kami belum pernah menyosialisasikan hal tersebut pada orangtua/walimurid, yang dikhawatirkan pada waktu itu adalah timbulnya keluhan dari pihak orangtua/walimurid. Hal tersebut dapat dimaklumi sebab suatu hal yang baru tidak begitu saja dapat diterima, butuh waktu untuk masing-masing individu menerima dan memahaminya. Atas pertimbangan tersebut lalu diputuskan pemakaian whatsapp grup sebagai wadah berinteraksi antara orangtua/walimurid, murid, dan guru/pengajar, selain itu grup ini juga sebagai media penyampaian tugas-tugas sekolah dan sarana untuk mengumpulkan foto-foto murid sebagai laporan kegiatan belajar di rumah.

Sepekan pertama kulalui dengan ritme kerja yang nyaris normal. Mengapa nyaris? Tentu saja karena setiap harinya aku tetap datang ke sekolah tapi tanpa ada murid di sana. Pembelajaran dan penugasan dilakukan secara daring dan ada satu hal tak biasa lagi yang dalam sepekan itu harus kulalui, yaitu mendampingi anakku yang di rumah belajar melalui panggilan video di sela kesibukanku bekerja. Umumnya sekolah-sekolah di kotaku meminta dokumentasi para murid dan atau foto mereka ditemani orangtua/walimurid saat belajar di rumah sebagai bentuk laporan kehadiran pembelajaran hari itu. Maka, karena pada pekan pertama selepas edaran untuk belajar di rumah diinfokan kondisiku masih bekerja di sekolah, solusi untuk menemani anakku belajar pada jam-jam sekolah di rumah hanya melalui panggilan video saja. Dari panggilan video tersebut aku dapat mengambil tangkapan layar ketika aku menemani anakku belajar.

Kesibukan Mengajar secara Daring

Sabtu, 21 Maret 2020, surat edaran kedua dari Dinas Pendidikan Kota kembali menginstruksikan untuk peniadaan KBM di sekolah untuk periode berikutnya terhitung mulai tanggal 23–28 Maret 2020. Aku menghela napas panjang, tak bisa membayangkan cerita apa lagi yang akan kulalui dan kerepotan apa lagi yang akan aku hadapi antara menjalankan tugas sebagai perempuan bekerja dan tetap memenuhi kewajiban sebagai ibu dari anakku, karena pada situasi ini tentu saja sekolah tetap meminta pendampingan orangtua beserta dokumentasinya di saat aktivitas sekolah di rumah. Di pekan kedua saat kebijakan sekolah di rumah dilakukan, aku masih aktif datang ke sekolah, belum ada pemberlakuan Work From Home (WFH) di sekolah tempatku mengajar. Kami para pengajar hanya mendapat kebijakan pengurangan jam kerja, aku sangat maklum akan hal itu karena sekolah tempatku mengajar adalah lembaga swasta, yang tetap mempertimbangkan kebijakan dari yayasan dalam setiap keputusan.

Pekan kedua setelah kebijakan sekolah di rumah diberlakukan, kulalui hariku dengan suasana kerja yang menegangkan dan dipenuhi kecemasan. Kamis, 26 Maret 2020 rapat kembali digelar di sekolah untuk menentukan bagaimana langkah pembelajaran sekanjutnya. Pihak sekolah menginginkan adanya tatap muka dengan murid melalui video conference setiap harinya. Pembelajaran harus terjadwal dengan baik guna memenuhi hak murid untuk belajar tidak melulu pemberian tugas saja, pembelajaran dua arah harus terlaksana. Rapat tersebut berlangsung dengan banyak aturan untuk memenuhi protokol kesehatan. Kami semua wajib memakai masker dan menjaga jarak duduk sebagai penerapan social dan physical distancing.

Setelah disepakati aplikasi video conference yang akan digunakan nantinya, kami melanjutkan pekerjaan hari itu dengan memberi tugas pada murid secara daring. Dan pada keesokan harinya kembali kami menggelar rapat untuk menyusun jadwal pembelajaran kelas daring selama masa darurat pandemi Covid-19. Tepat pukul 10.00 WIB rapat usai, kami pun berkemas. Berkemas kali ini sungguh tak biasa. Tidak hanya barang pribadi yang kami kemasi untuk kembali pulang, kami pun mengemasi banyak buku bahan ajar, daftar kehadiran, buku nilai dan perangkat administratif kelas lainnya. Berkemas hari itu serupa orang pindahan rumah. Yang aku rasakan ketika itu kecemasan dan kekhawatiran seolah-olah aku sedang berada pada masa peperangan, tapi perang melawan apa? Jika dulu sebelum merdeka jelas bahwa ketegangan dan kecemasan timbul karena keadaan perang melawan penjajah, tapi kali ini saat pandemi ini terjadi bagaikan melawan makhluk yang tak kasat mata saja.

Akhir pekan tanggal 28 Maret 2020 kembali pemerintah kota mengeluarkan edaran belajar di rumah untuk pekan ketiga (30 Maret hingga 4 April 2020). Di pekan ketiga ini aku sudah sepenuhnya melakukan WFH. KBM berlangsung melalui video conference dan pemberian tugas secara daring. Drama baru dimulai. Sungguh bukan sesuatu yang mudah untuk dapat mengajar melalui video conference apalagi jika yang diajar adalah anak-anak. Selain karena koneksi dan sinyal yang harus stabil, pemahaman akan penggunaan aplikasi tersebut seringkali menjadi masalah. Misalnya saja ketika aku menginstruksikan bahwa ketika guru sedang mengajar murid harus mematikan fitur microphone pada aplikasi agar fokus tetap terjaga dan tidak ada suara-suara yang mengganggu. Satu-dua dari mereka mengerti dan menjalankan instruksi, namun banyak juga yang tidak memahami dan malah jadi ribut sendiri. Saling panggil temannya, saling tertawa-tawa kesenangan karena sudah berminggu-minggu tak jumpa apalagi main bersama. Sampai di situ akhirnya aku pun kewalahan menertibkan. Perlahan kubawa mereka kembali ke fokus pelajaran.

Sibuk yang Tidak Biasa tapi Semoga Keadaan Segera Membaik

Di sela-sela kegiatanku mengajar secara daring, aku juga semakin disibukkan untuk memenuhi tuntutan mengisi laporan ini-itu yang diinstruksikan sekolah dan dinas pendidikan setempat, menjadi guru bagi anakku, mendokumentasikan kegiatan WFH dan School From Home (SFH) anakku, tugas-tugas dari sekolah anakku pun semakin beragam saja, dari hanya mengerjakan tugas daring hingga membuat video bernyanyi dan berolahraga yang harus diunggah secara mandiri pada tautan yang disediakan sekolah. Terasa sekali bahwa WFH ini lebih menguras energi dan rentan menimbulkan stressed out.

Jam kerja yang biasanya rutin kulalui dari pagi hingga sore hari, kini seolah tak belaku lagi. Bagaimana tidak, seringkali aku masih harus menjawab pesan whatsapp dari murid ataupun orangtua mereka yang bertanya mengenai tugas-tugas sekolah. Sebelumnya aku yang tertib dan sangat komit tidak akan menjawab pesan di luar jam kerja, kali ini memberi ruang pemakluman karena saat ini kami sedang bekerja dan belajar secara daring, dan tak dapat dimungkiri bahwa seringkali banyak kendala teknis yang ditemui.

Hingga kini masa SFH dan WFH sudah berjalan di pekan kelima, dan sepertinya masih akan berlanjut lagi ke pekan-pekan berikutnya. Aku dan tentu saja orang-orang lainnya berharap pandemi ini segera berlalu, entahlah kapan persisnya, semoga segera. Yang aku tahu, babak baru ini seolah membolak-balikkan kebiasaan, mengubah keadaan, dan menerobos ketidaklaziman. Layaknya globalisasi yang dampaknya terasa menyeluruh di setiap sendi-sendi kehidupan, gempuran pandemic Covid-19 ini pun sanggup menebar dampak menyeluruh juga.

Sebelum ada pandemi ini silaturahmi dan berkumpul bersama sangat dianjurkan, bersalaman dan saling menyapa pun menjadi kebiasaan yang patut untuk diterapkan, namun setelah adanya Covid-19 hal-hal baik tersebut menjadi buruk bila dilakukan, masyarakat dianjurkan untuk menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan budaya bersalaman tidak lagi dilakukan. Dengung social dan physical distancing, kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui cuci tangan yang benar dan penyemprotan disinfektan, juga pemakaian masker dalam keseharian turut dianjurkan, semua hal itulah yang kini wajib hukumnya untuk dijalankan. Sungguh dahsyat dampak yang dibawa oleh pandemi ini. Perekonomian morat-marit, harga-harga kebutuhan semakin menjerit, Ramadhan yang sebentar lagi tiba dan biasanya diramaikan dengan tarawih bersama di masjid kini lebih baik dilakukan di rumah saja, shalat ied yang lazim dilakukan di saat hari raya kini juga terancam ditiadakan pula, sungguh situasi ini memang tidak biasa, tapi selalu ada hikmah dalam kedaaan terburuk sekalipun, paling tidak hal ini membuat kita bergaya hidup sehat, lebih dekat dengan keluarga dan kepada-Nya.

Mengamati dan merasakan sendiri kondisi saat ini jadi membuatku berpikir mungkin ini saatnya bumi melakukan regenerasi dengan caranya sendiri, bumi sedang membersihkan dirinya melalui pandemi ini. Perubahan masif begitu terasa ketika pemerintah menganjurkan untuk karantina mandiri dengan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Biasanya pagi hari di saat rush hour di jalan-jalan protokol di kotaku kemacetan pasti tak terelakkan, paparan gas beracun dari kendaraan bertebaran menghalangi udara pagi yang menyegarkan. Kini jalanan terlihat lengang, pandangan mata tak terhalang, bumi pun bernapas dengan lega.

Setelah pandemi ini berlalu semua tak kan lagi sama, perilaku hidup bersih dan sehat mungkin saja terus dilakukan karena telah menjadi kebiasaan berbulan-bulan, memakai masker dalam keseharian pun bukan lagi suatu tuntutan, dan mungkin saja pembelajaran e-learning akan semakin dilirik untuk ke depannya meskipun susah payah untuk mewujudkannya, dan mungkin saja jika akan melakukan perjalanan ke luar negeri selain harus melengkapi diri dengan paspor dan visa bukan tidak mungkin bila nantinya para pelancong diminta untuk melampirkan surat keterangan sehat dan negatif Covid-19. Bagaimanapun juga Covid-19 dan segala cerita di dalamnya telah mampu mengubah sebuah peradaban umat manusia dan menuliskan sejarah baru di dalamnya dengan kita sebagai tokohnya.

Cek Video di Bawah Ini

#ChangeMaker

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading